Behind Those Beautiful Eyes [14]


BTBE 15_1

Grab my hand and walk with me in my fiction world, leave behind a reality for a while, savour the moment. Please enjoy…

Behind Those Beautiful Eyes [14]

Arsvio | Tiffany Hwang Miyoung, Kyuhyun Cho, Siwon Choi | PG-15 | Brave (Sara Bareilles), a theme song for Stephanie Choi

Ex

 

Mengeratkan genggaman tanganku pada tali tas, aku menghirup napas panjang untuk memenuhi paru-paruku. Meneguhkan langkahku untuk menjumpai ayah sebelum beliau disidangkan adalah hal yang cukup berat bagiku. Selain daripada masalah yang kubawa, adalah bahwa hubungan ayah-putri diantara kami selama ini hanya manis di lisan saja. Hampir seluruh waktu dan perhatian abeoji  tercurah kepada negerinya daripada putra putrinya sendiri.

Melangkah keluar dari mobil, aku dijemput dan dibimbing masuk oleh dua tentara melalui pintu belakang. Para wartawan yang berkumpul di bagian depan tidak memungkinkanku untuk berkunjung sebagai tamu ayah, kecuali ingin membuat sensasi.

Andai aku memiliki mantra untuk menenangkan diri di tempat dudukku sekarang, pastilah mulutku sudah berkomat-kamit membacanya. Hal yang mendominasiku saat ini adalah kegugupan, ditambah secuil rasa takut. Mengingat ketenangan abeoji ketika bertemu denganku di rumah sakit, aku tidak lantas menyimpulkan tidak ada badai emosi dalam diri beliau. Menilik bahwa kedua orang tuaku mengetahui keadaan rumahku selama aku disekap Korut, dan pastinya mereka juga tidak buta untuk melihat interaksi antara Kyuhyun dan Siwon selama Siwon dalam masa perawatan, aku percaya orang tuaku mengetahui keadaan rumah tanggaku serta hubungan terlarang antara Siwon dan Kyuhyun. Jika demikian, tidak perlu diragukan lagi bahwa keluarga Cho juga telah mengetahui aib ini.

“Kau datang, Miyoung-ie?”

Kepalaku mendongak secara naluriah ketika suara sapa ayahku terdengar. Aku berdiri dari dudukku, lalu sedikit membungkukkan badan untuk membalas sapa beliau sekaligus menyampaikan hormatku sebagai putrinya. Memposisikan diriku duduk kembali, mulutku seketika mengejur; tidak tahu kalimat apa yang harus kusampaikan terlebih dahulu. Apakah masalah Siwon dan Kyuhyun? Ataukah masalah rumah tanggaku dengan Kyuhyun? Atau barangkali masalah alasan dibalik kode ‘stephanie’? Lama berdebat dengan pemikiranku, aku tidak menyadari gerakkan ayahku hingga kurasakan remasan di pundak kiriku.

Mianhe, Miyoung-ie, mianhe…” Abeoji menundukkan kepala dan mengulang permintaan maafnya dengan nada bergetar. “Aku pikir menyandingkanmu dengan Kyuhyun adalah jalan terbaik, tetapi—“

Aku mengambil tangan abeoji, kemudian meletakkannya di meja untuk memotong ungkapan penyesalan beliau. Tindakanku berhasil menarik perhatian beliau hingga wajahnya bersemuka denganku. “Tentu aku ingin berteriak marah menyalahkan abeoji, namun menikahi Kyuhyun adalah juga keputusanku.” Meskipun aku dan Kyuhyun dipertemukan oleh keluarga kami, yang merancang perjodohan, tetapi orang tua kami masing-masing tidak pernah mendikte bahwa menikahi satu dengan yang lain adalah keputusan mutlak. Ayahku memiliki reputasi baik, tentu banyak kolega yang ingin mengajaknya berbesan. Jika pun aku menolak Kyuhyun kala itu, maka aku akan berakhir dengan pria lain dari keluarga sepadan. Seterusnya seperti itu berlakunya suatu tradisi untuk mengawetkan generasi dalam kalangan sosialita kami.

Bibirku tertarik secara tipis, membentuk senyum yang lebih mirip seringaian getir. Aku tidak berjiwa malaikat, yang akan dengan mudah memaafkan setiap kesalahan. Melengoskan wajahku dari abeoji, aku merasakan emosiku secara lambat merambati sumbunya. “Aku menanggung separuh atas kesalahan pernikahan ini karena separuhnya lagi adalah kesalahan abeoji.”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat abeoji mengangguk-angguk dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan karena agaknya beliau juga tidak begitu baik menahan emosi. “Aku tahu, Youngie-ya, aku tahu,” suara rendahnya yang parau, “Tentu aku lebih memilih menghajar kakakmu dengan tanganku atau berduel hingga salah satu diantara kita mengalami patah tulang rusuk karena jalan yang dia pilih.” Abeoji memukul-mukul dadanya; ingin menggantikan luka batinnya dengan luka fisik, namun demikian tentu tidak mungkin. Dengan seperti ini, aku dapat memastikan abeoji telah mengetahui sedikit permasalahan di antaraku, Kyuhyun, dan Siwon. “Namun menyaksikannya terbaring tanpa kepastian, yang separuhnya disebabkan olehku, bagaimana aku mampu menghajarnya? Bahkan jika aku berteriak murka di depan wajahnya, dia tidak dapat membalasnya.”

Oppa mengetahuinya?” tanyaku untuk memperjelas duduk perkara mengapa Siwon berada tepat di hari aku diculik. Perkataanku masih lolos dengan nada kaku, belum ada niatan untuk melunakkannya.

Ayahku mengangguk, “Siwon mencurigai operasi returning semenjak setahun belakangan. Aku memergokinya mampu membongkar file enkripsi returning hingga menyebabkan kami sering beradu mulut.”

Aku memanjangkan tarikan napasku untuk melapangkan hati. Bagiku, kakakku selalu menjadi sosok misterius; tidak tersentuh dan tidak terengkuh. Keangkuhan dan maskulinitasnya adalah defensif terluar yang tidak tertembus, sementara di dalamnya terdapat kecerdasan dan ideologi yang kokoh, yang lebih mengerikan jika kita menempatkan diri sebagai oposisinya.

“Aku bukannya tidak tahu bahwa persuasi Siwon terhadapku mengenai pernikahanmu dengan Kyuhyun adalah caranya untuk menjauhkanmu dari jangkauanku,” lanjut abeoji yang membuatku mengerutkan kening, “karena Siwon tahu, returning terlalu berisiko andai terendus pihak Korut yang kemudian memungkinkan mengincar keluargaku.”

Ucapan ayahku sukses membuat jemariku bergetar. Bahwa kakakku memproteksiku demikian jauh untuk alasan yang belum kuketahui, membuatku tampak dungu. Lebih terlihat logis jika Siwon membenciku dan ibuku yang hadir di tengah-tengah keluarganya. Walaupun aku tahu, keluarga Choi bahkan sudah tidak harmonis jauh sebelum aku tiba di rumah itu. Sekarang ketika di hatiku muncul asa untuk memiliki Kyuhyun seorang diri, aku merasa sangat kerdil dengan egoku.

“Hal yang tidak kuduga adalah macam hubungan kakakmu dengan sua—“ ucapan ayah tercekat. Aku tahu beliau tidak mampu merampungkan kalimatnya karena sumbatan emosi di dadanya terlampau besar.

Mataku masih memandang abeoji dengan tatapan menuntut; menuntut pertanggungjawabannya sebagai orang tuaku. “Lalu dengan menyerahkan diri, abeoji ingin cuci tangan terhadap masalah kami?” Mulutku memang terlalu tajam untuk melontarkan tuduhan bahwa dengan terpenjara, ayahku melepaskan tanggung jawab terhadap permasalahanku dan Siwon.

Aniyo, Youngie-ya,” Ayah terkesiap dengan tuduhanku. “Kesalahanku terlalu besar terhadap negara—“

“Tentu saja,” aku mengangguk-angguk dengan sinis untuk memotong perkataan abeoji, “negara selalu menjadi prioritas abeoji.”

“Youngie-ya,” lirih ayahku dengan nada menyesal. Kegarangan yang selama ini kulihat ada dalam sosoknya, saat ini tak membekas sama sekali. “Aku tidak ingin menambah kesalahanku lagi padamu dan kakakmu. Sejak awal, aku berusaha mengabaikan kenyataan bahwa kau tidak bahagia dengan pernikahanmu; bahwa kau menerima pernikahan ini hanya karena kepatuhanmu atau alasan lain yang tidak kuketahui.”

Aku diam karena tidak menemukan urgensi untuk menyangkal perucapan ayahku. Demikianlah yang terjadi di awal pernikahanku.

“Bukannya aku ingin melarikan diri dari masalahmu, melainkan ingin menyerahkan segala keputusan padamu. Mengenai Siwon,” ayah mengambil napas dalam, “aku berharap kondisinya membaik, terlepas dari etis atau tidaknya hubungan yang dia jalin dengan Kyuhyun.”

“Lalu apa bedanya? Bagaimana abeoji menebus separuh kesalahan jika pada akhirnya meninggalkan semua keputusan padaku?” sindirku dengan intensitas kekakuan yang tidak menurun.

“Mungkin bui lebih dapat mengekangku agar aku tidak menghalangi segala keputusanmu. Lepaslah, Youngie, bahagialah dengan caramu.”

Aku melengoskan wajahku ke samping ketika memperdengarkan kalimat ayahku. Bibirku bergetar, menyesal bahwa kalimat tersebut baru terucap di saat aku tidak ingin terlepas. Bagaimana caranya bahagia jikalau orang yang paling ingin kuajak berbahagia lebih berbahagia dengan kakakku?

Meninggalkanku menanggung beban pernikahanku dan juga permasalahan Siwon memang berada di luar jangkauan ayahku, tapi aku tidak bisa tidak menyalahkan beliau. Melarikan jemariku pada perutku yang mulai menunjukkan kontur kehamilannya, aku menunduk sambil memejamkan mata. Setelah mendengar penuturan abeoji mengenai pengorbanan Siwon, tidak cukupkah bakal bayi ini mewakili Kyuhyun bagiku? Untuk kumiliki dan kucintai sepenuhnya tanpa ketakutan cintaku akan menyengsarakan perasaan orang lain.

Oh Tuhanku…” rintih ayahku yang dapat kuperdengarkan dengan jelas. Tanpa membuka mataku, aku merasakan kedua telapak tangan abeoji yang diletakkan di masing-masing pundakku. “Kau mencintainya, Youngie?” tebak ayahku atas sikap diamku yang tiba-tiba.

Air mataku meluruh mengkonfirmasi tebakkan ayahku. Tanpa terbendung, kegundahanku mengalir seperti air yang menjebol tanggulnya. “Apa yang harus kulakukan, Abeoji?” Aku meletakkan kesombonganku ketika ayahku merengkuh tubuhku dalam pelukannya. “Apa yang harus kulakukan?” Tanganku mencengkeram kemeja abeoji, sementara pemiliknya hanya menepuk-nepuk punggungku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan getaran tubuh ayahku; menangisi nasibku dan kakakku karena mencintai orang yang sama. Pertama kali aku merasakan menjadi putrinya; menjadi seorang Choi dalam makna sesungguhnya.

Oh Tuhanku…” repetitif abeoji. Berharap Sang pemilik hidup mendengar rintihannya kemudian bermurah hati menurunkan tanganNya untuk mengangkat bebanku.

***

Mengikuti perkembangan berita mengenai hubungan Korsel dan Korut, aku tidak menemui gejolak berarti. Hubungan bilateral kami masih terombang ambing, tidak jelas kawan atau lawan. Di era modern seperti sekarang, agak tidak mungkin kami saling mengangkat senjata untuk mengadakan perang terbuka; kecuali jika kami ingin menjadi Irak-Israel yang kedua. Namun demikian, tidak lantas keteganggan di antara negaraku dan Korut berakhir.

Dugaanku Korut tidak akan berani mengakui kawasannya telah berhasil disusupi pihak negaraku dibantu aliansi Amerika. Bagi negara dengan rezim diktator seperti Korut, hal demikian terlalu memalukan untuk diungkap di media. Membuka penyusupan yang berhasil menyelamatkan tawanan mereka sama halnya membuka aib kelemahan pihak militer mereka. Hingga saat ini, Kim Jong-Un masih fenomenal dengan kelakarnya mengenai ancaman nuklirnya. Terakhir, dia bahkan secara terang-terangan menghina presiden negaraku[1].

Jawaban abeoji atas kode Stephani sebelum aku meninggalkan beliau, terputar di memoriku. “Stephanie adalah harga diri dan sentimenku sebagai ayahmu, Youngie,” ucap beliau. Oleh karena aku lahir di luar pernikahan, abeoji tidak menunggui kelahiranku maupun memberikan nama bagiku. Stephanie merupakan pemberian beliau sebagai penanda bahwa aku adalah darah dagingnya; Stephanie Choi.

Selepas dari bertemu ayahku, aku memutuskan mengunjungi Siwon. Beruntungnya, Ahreum masih memberikan dua hingga tiga hari cuti bagiku untuk mengurus permasalahan keluargaku. Aku pun ingin segera menuntaskan konflik keluargaku untuk kemudian kembali bekerja karena setelah operasi returning berakhir, Dae-A sepertinya perlu berbenah diri.

Melambatkan langkahku, aku selalu gamang untuk masuk melihat kondisi Siwon. Kupaku kakiku di depan pintu ruang inapnya, sejenak untuk mempersiapkan diri. Bahkan ketika dia tidak mampu mengintimidasiku, aku tetap ragu untuk menemuinya.

Kepalaku menegak dan diriku kewaspadaanku meningkat ke level lebih tinggi ketika pintu ruang inap kakakku terbuka dari dalam, menampakkan sosok Victoria. Bola matanya yang melebar dan tubuhnya yang tiba-tiba mengaku menunjukkan keterkejutannya melihatku di ambang pintu. Bibirnya tertarik dengan paksa membentuk senyum, “Kau datang?” sapanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku dengan nada tidak ramah. Entah mood-ku yang tidak bagus, atau karena sensitivitasku yang sedang tinggi. Orang bilang, perempuan yang hamil lebih perasa.

Meskipun aku tidak pernah memiliki perkara dengan Victoria, bahkan kesan pertamaku padanya cenderung baik, tapi dua kali melihatnya berkeliaran di sekitar keluargaku bukanlah hal yang membuatku senang. Pertama, ketika Kim Cheonsa, keponakan Kyuhyun sekarat, Victoria menyampaikan keprihatinannya. Masalahnya, aku tidak menyukai caranya yang terlihat ramah, tetapi seperti menyembunyikan hal lain di balik punggungnya. Kedua, saat ini ketika kakakku terbaring koma. Walaupun dia memiliki alasan masih berkerabat dekat dengan Kyuhyun, namun kali ini tidak mengurangi ketidaksukaanku.

Oh, aku hanya ingin menengok kondisi Choi Siwon-ssi.” Masih seperti yang kuingat, keramahannya untuk menjawab pertanyaanku masih sama. Dia membawa board tulis di tangan kanannya dan pulpen di tangan kirinya; seolah memberikan kesan sedang melakukan tugas mengecek kondisi pasien. Padalah yang kutahu, dia bukanlah tenaga medis. Menjepitkan pengait pulpen di kertas yang dia bawa di board, Victoria kembali memandangku.

Aku melirikkan mataku melalui bahu Victoria, mencari tanda kehadiran orang lain di dalam. Akan tetapi tidak kujumpai seorang pun, yang berarti dia berada berdua dengan Siwon di ruang ini beberapa saat lalu. Mungkinkah jika aku mencemburuinya karena sudah melihat keadaan kakakku, sementara aku adiknya belum?

“Selamat untuk kebebasanmu, Miyoung-ssi,” Victoria mendekat ke arahku sambil menutup pintu, “Walau rakyat Korsel sendiri masih awam mengenai kepahlawanan yang dilakukan ayahmu, namun aku turut berbangga terhadap apa yang Tuan Choi lakukan.”

Aku dengan sigap menepis tangan Victoria yang ingin mengusap lengan atasku. “Aku yakin wargaku lebih bijak untuk menyikapi masalah kali ini.” Aku tidak menyangkal perkataan Victoria bahwa warga Korsel kebanyakan awam dengan operasi returning, namun mendengar penuturan langsungnya mengenai ayahku, mau tidak mau memanaskan kupingku. Seakan dari ucapan Victoria, ayahku merancang returning demi memperoleh tanda kepahlawanan. Kenyataannya, abeoji adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam artian sesungguhnya.

“Tapi kau tentu tidak menampik sebagian dari mereka berkomentar tidak patut,” Victoria menyipitkan matanya, “yah, tentunya karena mereka tidak mengalami sendiri peristiwa itu. Kuharap kau tidak terpengaruh dengan bashing tersebut. Stres tidak baik bagi kehamilan.”

Menanggapi celoteh Victoria, keningku mengerut tidak kentara. Bibirku tersenyum semu, “Aku bahkan cukup terkejut atas pengetahuanmu mengenai peristiwa itu,” tekanku pada kata ‘peristiwa itu’ yang meniru ucapan Victoria sebelumnya. Jika Victoria hanya mengikuti perkembangan desas desus yang menyebar di masyarakat, dia tidak akan dengan percaya diri menyampaikan opini mengenai ‘peristiwa itu’, kecuali…

Ah, pemberitaan di media online cukup ramai.”

‘Wrong move, wrong answer!’ Pekikku dalam hati terhadap jawaban Victoria. Hidup dengan abeoji, aku sedikit banyak mengenal kesolidan di antara para tentara seperti mereka. Terlebih untuk operasi kali ini, aku bisa memastikan keamanan berlipat untuk menjaga kerahasiaannya. Mengenai pembobolan yang dilakukan Siwon terhadap file returning, sepertinya abeoji memiliki alasan sendiri untuk tidak menjatuhkan hukuman pada kakakku; mungkin alasan itu adalah aku. “Agaknya pemberitaan online memang diluar kontrol,” selorohku.

Aku mendekat untuk membuka pintu ruang inap Siwon, “Dan Victoria-ssi, kuharap lain kali kau tidak mengunjungi kakakku di saat keluargaku tidak di sini.” Dengan berani aku memberikan batasan. “Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman.”

Wajah Victoria bermimik kaku untuk beberapa detik. “Maaf jika kedatanganku membuatmu tidak berkenan,” senyumnya untuk menutupi ekspresi pertentangannya terhadap peringatanku. Dia mengangguk ringan untuk memberikan salam perpisahan, sebelum melenggang pergi.

“Youngie-ya!”

Pekik namaku membuatku mengurungkan niat untuk mendorong pintu. Memutar tubuhku, aku menjumpai Max mendekat. “Annyeong,” sapaku secara spontan. Aku belum bertemu dengan Max semenjak aku terbebas.

Menekuk lehernya untuk memandang sesuatu di belakangku, Max menepuk ringan lengan atasku. “Apa yang kau bicarakan dengan wanita itu?” Bukannya menjawab sapaku, Max malah menanyakan hal lain yang kupikir bukan merupakan urusannya. Selalu to the point, khas gayanya.

“Hanya beramah tamah,” pancingku atas keingintahuan Max. Pria ini bukan tipikal suka mencampuri urusan orang lain; kurasa mengurus pacar macam Jessie sudah merepotkannya. Aku menarik tanganku, kemudian mensedekapkan di depan dada, siap meladeni apa pun topik yang Max bawa. Memerhatikan gerak-geriknya yang belum melepaskan pandang dari arah Victoria pergi, aku berpraduga dia memiliki sesuatu terkait wanita itu.

Max berdeham, agak gelisah, kiranya dia sedang terburu sebelum berpapasan denganku. Boleh jadi dia berhenti untuk menyapaku sebentar karena urgensi yang dia bawa. “Well, kurasa kau tidak akan terkejut jika kukatakan bahwa wanita itu pernah menjalin hubungan dengan kakakmu,” cerocos Max dengan cepat.

Ne?” kagetku terhadap ucapan Max yang jauh dari perkiraanku.

“Kurasa aku salah,” resume Max setelah melihat reaksiku.

“Hubungan macam apa? Pekerjaan atau romantisme?” Aku tidak ingin melompat pada kesimpulan bahwa hubungan yang dimaksud Max adalah sejenis percintaan.

“Romantisme.”

Long-running relationship, one night stand, fling[2]?”

Whoa…whoa…,” Max membuka kedua telapak tangannya di depan dada untuk menghentikan cerocosku. “Untuk hal itu, aku tidak bisa menjawabnya sekarang karena, Oh my,” pekik Max ketika melihat arlojinya, “Jessie akan memenggalku jika aku terlambat semenit lagi.” Max berjalan mundur menjauhiku, “Kuhubungi kau nanti, ok?”

“Shim Changmin!” panggilku yang tidak digubris oleh Max yang sudah berlari menjauhiku. Mengurut keningku, aku membalik badanku untuk memerhatikan arah hilang Victoria. Hal apa lagi yang bisa membebalkan otakku kali ini? Oh goodness… Kuharap mulut Max hanya membeberkan gosip murahan yang menyebar di rumah sakit ini. Mungkin sebelum aku, ada orang lain yang memergoki Victoria berkunjung ke ruangan Siwon, kemudian menyebarkan gunjingan.

Memasuki ruangan Siwon, aku menempatkan diri duduk di samping ranjangnya. Bunyi bip diskrit dari alat-alat medis di samping kanan kirinya sesungguhnya membuatku takut; takut andai bunyi itu tiba-tiba mengeras dan berganti menjadi kontinu. Mengambil jemari Siwon yang tergeletak di sisi tubuhnya, aku membawanya kedepan wajahku. Suhu tubuhnya sedikit lebih dingin dariku.

Siwon seakan-akan tidur dengan terlelap, tidak memedulikan sekitarnya. Minus peralatan medis yang terpasang di badannya, dia seperti seorang pangeran yang sedang menunggu ciuman dari putrinya. Kepala atasnya terbalut oleh kasa putih, sedangkan tangan kirinya terpasang gips. Wajahnya tertutup oleh masker oksigen sehingga aku tidak dapat mengagumi wajahnya secara penuh.

Oppa,” panggilku disusul senyum kecil. “Kau selalu ingin dipanggil demikian bukan? Sekarang aku di sini. Tidak bisakah kau membuka matamu?”

“Bangunlah, dan aku akan dengan rela menggantikanmu untuk tertidur,” rengekku mirip gadis kecil yang bermanja pada kakak lelakinya. Aku menempelkan tangan Siwon di pipiku, lalu memejamkan mata. “Oppa…” rintihku, “Oppa…” Tidak dapat membendung gejolak perasaanku untuk semua pengorbanan yang dilakukan kakakku, aku mulai terisak. Kumohon, jangan menyerah. Demi aku, demi Kyuhyun.

***

Memperlambat laju mobil, aku mencondongkan badanku ke depan agar lebih jelas menangkap mobil lain yang terparkir di depan rumahku. Logo lingkaran yang terbagi menjadi empat bagian, dua bagian bewarna putih dan yang lain bewarna biru, serta merk mobil yang tertera di bagian luar lingkaran memberikan informasi jenis mobil. Setelah menetralkan mesin dan menarik tuas rem tangan untuk memastikan mobilku terhenti dengan aman, aku keluar untuk mengamati lekat sebuah BMW bewarna hitam metalik dengan plat polisi yang tidak kuhafal. Aku memilih mengabaikannya, mungkin mobil milik tamu Kyuhyun.

Seharian ini aku belum bertemu Kyuhyun, kecuali di pagi aku membuka mata. Melihat kelelahan di wajah Kyuhyun, aku sengaja tidak membangunkannya, bahkan sekadar untuk sarapan. Dia bahkan hanya menggeliat dan bergumam kecil ketika aku tidak mengaja menjatuhkan hairdryer dari meja rias hingga menimbulkan sedikit kegaduhan. Setelah selesai berhias pun, aku tidak lantas membangunkannya, malahan menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutup hingga dada.

Mendekati pintu, telingaku menegak dengan bunyi berdebam dari dalam. Oleh karena perasaan khawatir melihat bahwa Audi milik Kyuhyun masih terpakir di tempatnya, yang berarti Kyuhyun berada di rumah, segera kutekan ibu jariku pada pemindai untuk membuka pintu. Mempercepat langkahku masuk ke rumah, aku meletakkan sebelah tangan di perut bawahku untuk menyangga.

My goodness…” pekikku sembari menutup mulut dan dengan sigap memposisikan diriku menamengi Kyuhyun. “Abeoji, kumohon…” meletakkan tanganku terbuka di depan dada, aku menahan ayah mertuaku mendekati Kyuhyun yang telah tersungkur. Aku menengok melalui pundakku, keadaan Kyuhyun yang jauh dari kata baik. Pipi kirinya memerah dan sudut bibirnya berdarah, bercak-bercak darah juga telah mengotori kemeja biru langitnya.

Tidak perlu disangsikan lagi gerangan yang membuat marah ayah mertuaku pada Kyuhyun. Mungkin ayahku sendiri memberitahukan masalah hubungan Siwon dan Kyuhyun kepada ayah mertuaku. Mungkin juga ayah mertuaku menilai interaksi Siwon dan Kyuhyun selama Siwon dirawat di Assan, kemudian menyimpulkan sendiri. Apa pun itu, singkat kata, ayah dan ibu mertuaku mengerti duduk perkara hubungan kami bertiga; aku, Kyuhyun, dan kakakku.

“Minggir, Miyoungie,” geram Tuan Cho. “Anak kurang ajar ini sepatutnya diberi pelajaran.”

Aniyo, Abeoji,” rintihku tidak tahan melihat kondisi Kyuhyun. “Eomonim,” mintaku pada ibu mertuaku yang duduk di lantai dengan air mata yang telah bercucuran. Aku tahu eomonim juga merasa berat untuk berdiri membela Kyuhyun setelah mengetahui apa yang putranya lakukan. Meskipun begitu, air mata beliau mewakili kegetiran dan kasih sayangnya terhadap Kyuhyun.

Merangsek maju dan tidak menggubris permohonanku, Tuan Cho ingin menjangkau lagi Kyuhyun. Tindakan beliau membuatku terdesak hingga kakiku menyandung kaki Kyuhyun. “Kau benar-benar memalukan!” sembur Tuan Cho, “Aku membesarkanmu bukan untuk menjadi cela bagi keluarga ini!”

“Tidak…tidak,” Aku mencegat tangan abeoji yang mengulur, siap menarik Kyuhyun kembali.

“Minggirlah, Young,” suruh Kyuhyun dengan menggamit lengan atasku.

“Tidak,” desisku untuk menolak.

“Aku ingin tahu apa yang mampu appa lakukan kali ini?” nada menantang Kyuhyun, “Mengusirku seperti saat appa mengusir noona?”

“Cho Kyuhyun!” bentakku sambil menolehkan kepala menghadap Kyuhyun. Tidak habis pikir di saat seperti ini, dia masih bisa mengungkit kenangan pahit tersebut.

Bukannya meluluh, Kyuhyun malah tertawa hambar. “Mengusirku?” nada tanya Kyuhyun dengan angkuh, “Ini rumahku. Appa tidak akan bisa mengusirku dari rumahku sendiri!” bentaknya. “Membuangku? Tidak mengakuiku sebagai anak?” tantangan lanjut Kyuhyun, “Tanpa diminta pun, aku dengan senang hati mengabulkannya!”

“Cho Kyuhyun!” teriak abeoji marah. Beliau menghindari tubuhku, kemudian dengan cepat menarik kerah Kyuhyun dan menghadiahinya pukulan-pukulan di wajahnya.

Andwe…andwe!” jeritku sambil menahan lengan bawah abeoji. “Kumohon hentikan,” sebisaku menarik tangan abeoji agar pukulannya tidak mengenai Kyuhyun, “Kumohon hentikan, Abeoji,” Aku lagi-lagi menyusupkan diriku di antara Kyuhyun dan Tuan Cho, kali ini dengan lutut tertekuk. Kutahan kuat-kuat lengan bawah abeoji, sebelum beliau mengempaskan cengkeramanku.

Napas tersengal abeoji dan dadanya yang naik turun serta wajahnya yang memerah merepresentasikan kemarahan beliau. “Bagaimana bisa aku mempunyai putra sepertimu?” sesal abeoji dengan nada tinggi. “Kau kubesarkan untuk—“

“Menjadi bonekamu?” potong dan lanjut Kyuhyun. “Aku muak, Appa. Selama hidupku aku sudah menuruti tuntutanmu; menjadi dokter, pewaris Assan, apa lagi kali ini, huh?”

“Kau anak kurang—“

“Berikan kami waktu, Abeoji!” mintaku.

“Waktu untuk apa?” hardik abeoji, “Agar kalian menghancurkan keluarga ini?” sarkasmenya. “Bagaimana mungkin kau menjalin hubungan hina dengan kakak istrimu sendiri, sementara kau juga menghamili istrimu, hah?” sentak abeoji yang memejamkan mata dan memegangi dada beliau.

Abeoji!”

Yeobo!” pekik Ny. Cho sambil bangkit dan berlari menopang suaminya. “Sudahlah, biarkan mereka menyelesaikan permasalahan ini dahulu,” lerai ibu mertuaku di antara isak tangisnya. “Kyuhyun-ah, eomma mohon,” pinta Ny. Cho agar Kyuhyun mengalah.

“Apa yang menjamin mereka tidak memperkeruh suasana, huh?” abeoji mengentakkan tangannya di udara.

Dalam hati, aku mengamini perkataan abeoji. Bahkan hingga saat ini, aku belum mengambil keputusan pasti untuk menyelesaiakan permasalahan kami bertiga. Meskipun dalam pikiranku, hanya ada satu solusi untuk mengakhiri lingkaran setan di antara aku, Kyuhyun, dan kakakku; memutus rantai yang menghubungkan dua diantara kami bertiga. Ketika otakku dijejali satu pertanyaan ‘rantai manakah yang harus kuputus?’, aku membuka mulut, “Aku mencintainya.”

Ne?” unifikasi kekagetan ayah dan ibu mertuaku.

“Young…” lirih Kyuhyun dari belakang.

“Kumohon, berikan kami kesempatan, Abeoji,” ulangku untuk meminta. “Kami tahu, kami telah melakukan kesalahan, namun,” aku melipat kedua bibirku, “orang tua juga tidak lepas dari kesalahan. Aku hanya berharap peristiwa ini menjadi koreksi bagi keluarga kita.” Mendongakkan kepala, aku menjumpai abeoji yang menutup erat matanya hingga kerut-kerut kelopaknya kentara.

“Aku tidak menjanjikan perubahan positif, tapi aku yakin kami dapat memulainya dengan lebih baik.” Kukepalkan tanganku ketika dadaku bergemuruh, “Bahkan jika keputusan kami nantinya adalah yang terburuk, kami akan lebih siap menanggung konsekuensinya.” Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang muluk, kemudian di lain hari mengingkarinya. Rantai setan yang menjerat kami bertiga terlalu kuat, dan tidak mungkin kami terputus darinya tanpa terluka sedikit pun.

“Jangan membuatku menyesal melepaskan perkara ini,” tandas abeoji sembari pandangannya menyorot tajam ke arahku dan Kyuhyun. “Atau di lain waktu, campur tanganku lebih daripada yang kalian bayangkan.” Abeoji menghela napas dalam, sebelum tanpa kata perpisahan meninggalkan rumahku, diikuti oleh eomonim yang menyempatkan diri meremas bahuku lembut.

Menurunkan ketegangan bahuku, aku melintangkan telunjuk dan ibu jariku di dahi untuk mengurut masing-masing pelipisku. Menoleh ke arah Kyuhyun, “Kubantu kau naik.” Aku mengambil tangan kanan Kyuhyun, lalu menyampirkan di pundakku. Mendengar geram rendah Kyuhyun ketika aku melingkarkan tangan melalui punggungnya dan menekan rusuknya membuatku khawatir. “Kau—“

“Tidak separah yang kau pikirkan, Young,” cegah Kyuhyun pada pertanyaanku lebih lanjut.

Menatih Kyuhyun untuk menaiki tangga bukan hal mudah, aku hanya memakai flat shoes sehingga praktis tinggiku yang hanya berhenti di bawah angka 160 cm tidak memenuhi tinggi Kyuhyun yang mencapai 180 cm. “Hati-hati,” sergahku sambil mengamati setiap langkah Kyuhyun agar tidak terantuk anak tangga.

Sebelah tangan Kyuhyun membantu menstabilkan tubuhnya dengan berpegangan di pembatas tangga. “Damn it…” erang rendah Kyuhyun. Dengan ekspresi mengerut, dia tampak kesakitan.

Tanganku menganjur untuk memutar kenop pintu kamar Kyuhyun. Begitu masuk ke dalam, aku membantunya duduk di ranjang. “Tunggu sebentar, kuambilkan kompres.” Bersegera turun ke dapur, aku mengambil mangkuk lalu mengisinya dengan kotak-kotak es batu[3]. Setelahnya menyambar handuk kecil dan ibuprofen[4].

Kembali ke kamar Kyuhyun, aku mendapatinya dengan kemejanya yang telah terlepas. Dia mengamati luka di tubuh depannya yang membiru dengan cepat. Duduk di sampingnya, aku mengambil handuk dan mengisinya dengan balok-balok kecil es batu. “Biar kulihat lukamu.” Kuangkat dagu Kyuhyun agar aku leluasa memeriksa luka lebamnya. Pipi kanannya hanya memerah dengan lebam biru kecil di tengahnya, sementara pipi kirinya lumayan parah dengan lebam yang hampir semuanya membiru. Aku menempelkan buntalan es batu di lukanya dengan hati-hati.

Ishh…” desis Kyuhyun. Dia hanya meringis dan mendesis kecil, tanpa menolak dan menarik mundur wajahnya yang kutangkup dengan sebelah tanganku.

Merampungkan mengkompres wajahnya, aku memeras handuk dan mengganti balok es dengan yang baru untuk mengkompres luka di tubuhnya. Kira-kira terdapat dua memar masing-masing selebar separuh telapak tangan di bagian dada bawah. Warna biru lukanya mengontras dengan warna pucat kulitnya. Terkadang aku sebagai perempuan mengirikan bagaimana seorang pria memilliki warna kulit putih sepucat ini. Kalau dia seorang gadis, tentulah sudah dijuluki ‘Snow White[5]. Aku mengulang perawatan yang serupa dengan wajahnya. Tubuh Kyuhyun yang menjengit ringan merupakan isyarat untukku agar lebih lembut menekan lukanya. “Perlukah ke rumah sakit?” tanyaku untuk meyakinkan bahwa luka-lukanya tidak berdampak buruk.

“Tidak,” singkat Kyuhyun.

Menyusuri cidera Kyuhyun, mataku menangkap bekas luka diagonal memanjang sekitar 10 centi di perut bagian samping kiri. Telunjukku dengan naluriah mengikuti kontur yang sedikit menonjol dari luka tersebut. Keningku mengerut, bahkan aku tidak ingat dia memiliki luka ini.

“Kecelakaan mobil tujuh tahun lalu.”

Aku mendongak ketika tanpa diminta, Kyuhyun menjawab rasa penasaranku. Menunduk kembali, aku memerhatikan lekat bekas timbul tersebut.

“Seharusnya aku mati saja di saat itu.”

“Hyunnie,” lenguhku sebagai pernyataan tidak setuju. “Tidak bisakah kau merendahkan egomu ketika berhadapan dengan ayahmu?”

Kyuhyun mendesahkan napasnya, sambil menjangkau piyama yang di atas meja kecil sisi ranjang. Menyusupkan kedua tangan secara bergantian di lengan piyama, dia kemudian mengancingkannya dengan sedikit bantuanku. “Kepalan tangan adalah ego pria, Young. Inilah cara kami menyalurkan emosi, berduel.”

“Tidak dapat dikatakan berduel jika kau satu-satunya yang mendapat luka,” sangkalku.

“Memang apa yang mampu kuperbuat jika berhadapan dengan appa-ku sendiri?” tanya retorisnya. “Mungkin kami beradu, lalu bermusuhan dan tidak saling menyapa dalam waktu lama,” Kyuhyun menatapku dengan sendu, “namun kemudian wanita kami masing-masing menggerus kekerasan hati tersebut hingga suatu saat kami dapat berhadap-hadapan lagi dan bertindak seperti normalnya.”

Aku menjumput jemari Kyuhyun, kemudian meletakkannya di atas telapak tangan kiriku dan menangkupnya dengan telapak tangan kananku. Tekstur kulitnya yang sedikit lebih kasar dariku tidak menjadikanku tidak nyaman, malahan sebaliknya. Kuakui pernyataan Kyuhyun sebagai solusi saat ini; Tuan Cho marah dan Kyuhyun muak, yang mereka butuhkan hanyalah pelampiasan. “Lalu bagaimana denganmu atau pun Assan?”

Kyuhyun sekadar menarik sesisi sudut bibirnya, kemudian melengos dariku untuk sementara. “Appa tidak mungkin mendupakku dari Assan karena aku adalah satu-satunya yang dia miliki, kecuali jika dia memiliki putra haram.”

Aku menaikkan dan mencekungkan pundakku, kemudian melepaskan napasku dengan pelan. Melalui ucapannya agaknya Kyuhyun masih terbawa emosi. Siapa yang tidak, seumur hidupnya dia berkehidupan seperti itu. Tentunya perasaan yang mengendap selama dua puluh tahun lebih tidak akan terkikis dengan pertengkaran semalam. “Katakanlah yang terburuk, bagaimana jika itu terjadi?” paparku pada satu kemungkinan, “Bagaimana jika ternyata abeoji mengusirmu dari Assan?”

“Bukankah hal itu yang kuimpikan?” retoris Kyuhyun, “Hidup dengan pilihanku sendiri tanpa dikte dari orang lain.”

“Tapi orang lain yang kau sebutkan adalah ayahmu sendiri, dan tempat yang ingin kau hindari adalah tempat yang membesarkan namamu.” Aku tahu Kyuhyun jenuh dikendalikan oleh ayahnya, namun aku tidak ingin dia gegabah dalam bersikap, yang di kemudian hari akan disesalinya.

“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Kyuhyun dengan datar.

“Ya,” jawabku spontan, tanpa perlu berpikir dua kali.

Mengembus napas dengan cukup santer, jemari Kyuhyun yang kutangkup menggenggam balas tanganku. “Mengenai profesiku dan Assan, aku akan baik-baik saja, Young. Aku bukan lagi remaja yang impulsif, yang memberontak kemudian lari dari rumah tanpa rencana.”

Aku tersenyum tipis untuk mengapresiasi jaminan Kyuhyun. Selama hidup bersama dengan Kyuhyun, melalui peristiwa-peristiwa berat hingga di titik ini, aku tahu Kyuhyun bukan orang sembrono. “Kuharap aku berada dalam rencanamu,” candaku dengan senyum melebar.

Cemoohku berhasil membuat Kyuhyun ikut tersenyum, lalu menunduk dan menggeleng ringan untuk terkekeh kecil.

Menepuk-nepuk punggung tangan Kyuhyun, aku kehilangan kata-kata untuk menenangkan. Mungkin yang Kyuhyun butuhkan juga bukan kata-kata penenang. “Istirahatlah,” akhirnya hanya itu yang lolos dari mulutku.

“Tetaplah di sini,” cegat Kyuhyun ketika aku ingin menarik tanganku. “Dengan ini, anggap saja kita impas.”

Aku bermimik tanya atas pernyataan Kyuhyun.

Cish,” dengus Kyuhyun, “kau sudah melupakan bagaimana aku suka rela menemanimu kembali ke sarang musuh?”

Aku mencebik kecil atas sindiran Kyuhyun, yang kutahu hanya lelucon saja. “Kubawakan ibuprofen andai kau masih nyeri.” Meletakkan obat tersebut dan mangkuk di atas meja, aku kemudian menyibak selimut dan mengisut ke tengah ranjang. Menyusup di bawah selimut, aku duduk menyandar di kepala ranjang yang membuat Kyuhyun berekspresi tanya. Menepuk pangkuanku, aku menawarkannya membaringkan kepalanya di sini.

Meskipun mendengus ringan, Kyuhyun menerima tawaranku. Dia membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuanku.

Mengelus rambut Kyuhyun dan membiarkan helainya menyusupi sela jari tanganku, entah mengapa membuatku kecanduan. Kusibak poninya, kemudian kuturutkan rambutnya melingkari belakang telinganya. Kelopak matanya yang tertutup menampakkan wajah rileksnya yang menghadapku sepenuhnya. Meskipun terdapat memar di sana sini, dia masih telihat memesona. Kali ini dia lebih terlihat sebagai bajingan tampan[6] daripada dokter kharismatik.

“Young?”

Hmm…?”

“Ulangi lagi,” ucap Kyuhyun sambil membuka kelopak matanya.

“Apa?” tanyaku tidak mengerti pada maksud Kyuhyun.

“Pernyataanmu di bawah tadi.”

Tanpa Kyuhyun mencecarku mengenai pernyataan mana yang dia maksud, aku sudah dapat menebaknya. Mulutku seakan terdorong untuk mengucapkan kata-kata sakral tersebut, kata-kata yang seharusnya kusimpan saja. Toh kalimat ‘aku mencintainya’ tidak akan mengubah apa pun. “Untuk apa?” tanyaku balik.

Kyuhyun memiringkan badannya mengarah ke perutku; membuatku cemas andai lukanya tertekan. “Kau tentu tahu aku tidak bisa membalasnya atau pun menjawabnya.” Dia mengangkat jemarinya, lalu melarikan di perutku dengan usapan lembut, “Setidaknya tidak untuk saat ini.”

Melalui ucapannya, hatiku rasa-rasanya diremas kuat. Meskipun aku sudah dapat menebak jawabannya, namun memperdengarkannya secara langsung lebih menyakitkan.

Kyuhyun merangsek maju, kemudian tanpa kuduga memberikan ciuman di perutku. “Namun aku tidak akan memungkiri bahwa kalian memiliki arti tersendiri bagiku,” rampung Kyuhyun sebelum memejamkan mata lagi.

Air mataku menggaris di pipi, namun aku tidak terlalu memedulikannya. Menarik bibir dengan sunggingan getir, aku mengusap kembali puncak kepala Kyuhyun. Aku juga tidak bisa menuntutnya untuk membalas perasaanku, yang berarti dia akan melukai Siwon jika melakukannya. Sejenak melanjutkan belaianku, aku menarik bantal dan memindahkan kepala Kyuhyun ke atasnya dengan ekstra hati-hati agar tidak membangunkannya.

Aku tidak ingin pergi dari sisinya, setidaknya ingin kunikmati waktu bersamanya serakus mungkin. Menyusupkan tubuhku di bawah selimut, aku membenarkan posisiku. Melingkarkan sebelah tanganku melalui pinggang Kyuhyun, aku mengadu keningku di punggungnya yang terasa hangat. Menangis dalam diam pun tak ada gunanya, tetapi aku tidak lantas dapat mencegahnya. Kelopak mataku menurun dan hidungku menyerap wangi Kyuhyun sebagai lullaby.

***

Mempercepat langkahku sepanjang koridor rumah sakit, aku ingin mengumpat, namun kutahan untuk mengeluarkannya dari mulutku karena, oh gosh, aku tidak ingin anakku nanti mudah mengumpat. Shim Changmin harus memiliki berita penting karena menyuruhku datang ke Assan di pagi buta. Kalau tidak, bukan Jessie yang akan memenggalnya, tapi aku! Katanya dia mengejar penerbangan pagi, katanya dia harus menemui pacar tercintanya terlebih dahulu, astaga pasangan ini benar-benar membuatku geram.

Melalui depat ruang inap Siwon, aku secara mendadak menghentikan ayunanku. Emosiku melejit begitu melihat bayangan Victoria dari kaca pintu, yang baru saja masuk ke dalam. Aku ingin menyusul wanita itu dan menghardiknya karena tidak mengindahkan laranganku, namun melihat arloji, agaknya tidak mungkin aku melakukannya. Membiarkannya untuk kali ini, aku menyerah dan melangkah menjauhi ruang inap Siwon menuju ruang kerja Jessie.

Membuka pintu ruangan Jessie, “My freaking goodness,” desisku sambil memaling dengan cepat. “Ya!” sentakku sambil menoleh kembali ke arah Jessie dan Max yang tadinya sedang terlibat ciuman panas. Max duduk di tepi meja kerja, sementara Jessie berada di antara dua pahanya. Tangan Max sudah menyisip di balik kemeja Jessie, sedangkan kedua tangan Jessie mengalung di lehernya. Sepasang kekasih ini benar-benar…

“Kalian tahu ini rumah sakit!”

Well, can’t stand,” seloroh Jessie sambil membenahi kancing depan blusnya, sedangkan Max hanya meringis seraya membenahi kemeja dan menyisir rambutnya dengan jemari. “Lagipula kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu,” bela Jessie.

Aku menyilangkan tanganku di depan dada, “Jikalau pun aku melakukannya, apa kalian akan mendengar?”

Not really.”

Right!” ucapku dengan keras, “jadi aku tidak perlu melakukannya.” Telunjukku menunjuk pintu, “Setidaknya kalian perlu menguncinya jika ingin melakuakan hal tidak seronok.”

Ei, ini masih pagi buta, tidak ada pasien yang mengantri kecuali kau yang tiba-tiba muncul,” sanggah Jessie.

“Tanyakan hal itu pada kekasihmu,” aku mengedikkan dagu ke arah Max untuk memperjelas alasanku di sini. Menarik bangku kursi di depan meja Jessie, aku duduk di sana dengan wajah pasrah.

“Kau ingin mengatakan padanya sekarang?” tanya Jessie pada Max.

“Aku tidak punya pilihan,” Max mengangkat bahu, lalu duduk di kursi yang bersebrangan denganku, “tidak mungkin kutunda hingga aku kembali dari Jepang, bukan?”

“Tapi kita belum menemukan tujuannya.”

“Kurasa Youngie berhak mengetahuinya.”

Ok,” putusku pada pembicaraan Jessie dan Max yang tidak kumengerti, “berhenti bicara sesuatu yang tidak kumengerti.”

“Kutinggalkan kalian berdua,” Jessie mengambil jas putih yang tersampir di gantungan, “Aku harus memantau kondisi seorang pasien. Membuka pintu, Jessie menoleh kembali, “Call me if you want to leave, Darl,” pesannya pada Max yang membuatku memutar mata.

You both are indeed hopeless.”

Sorry,” ringis Max sambil tangannya menjangkau tablet. Dia menyentuh layar tablet sebelum menghadapkan padaku. “Lihat dan perhatikan.”

Menerima tablet Max, aku menginspeksi suatu foto pertemuan yang kupikir adalah sebuah seminar atau workshop. Aku menyipitkan mataku untuk menelusuri satu persatu wajah yang terdapat dalam foto hingga kutemukan sosok Siwon di sana. “Apa ini?” tanyaku yang tidak mengerti maksud Max menunjukkannya.

“Samsung mengadakan workshop bagi karyawan baru di cabang China pada tahun 2011. Kakakmu menjadi salah satu narasumber dalam workshop tersebut.”

“Lalu?”

Max menarik tablet, kemudian melingkari sesuatu dengan jarinya. Bukan sesuatu, melainkan seseorang. “Victoria Song terdaftar sebagai salah satu peserta workshop. Dia pindah ke Samsung setelah sebelumnya sempat bekerja satu tahun di sebuah bank. Wanita ini menyelesaikan pendidikan sarjana di Beijing Normal University di pertengahan tahun 2010. Dari seorang sumber, begitu dia lulus, ayah mertuamu menawarkannya bekerja di Assan, tapi Victoria menolaknya. Berbeda dengan keluarga Cho, keluarga Song bukan tipikal konglomerat yang memiliki lahan bisnis pribadi. Aku sendiri kurang mengerti hubungan antara keluarga Cho dan keluarga Song, namun agaknya hubungan kekeluargaan mereka merenggang setelah ibu Victoria pindah dan menetap di China mengikuti suaminya, tepat ketika dia mengandung Victoria.”

Aku dengan penuh perhatian menyerap segala informasi yang dikatakan oleh Max. Walaupun sesungguhnya aku belum mengerti alasan Max menguntit latar belakang Victoria.

“Siwon dan Victoria, yang kutahu, bertemu pertama kali dalam workshop tersebut. Swap layarnya, Youngie,” perintah Max.

Aku kembali mengamati foto Siwon dan Victoria yang keluar dari sebuah restaurant. Meskipun mereka berjalan sedikit berjauhan, namun aku pikir mereka memang bersama dalam saat itu.

“Foto itu diambil sehari setelah workshop selesai oleh seorang paparazzi yang agaknya mengincar kehidupan kakakmu. Di usia muda, Choi Siwon memiliki prestasi cemerlang dalam karirnya di Samsung, ditambah latar belakang keluarganya, tidak heran beberapa paparazzi berminat mengetahui kehidupan pribadinya.”

Tidak perlu ragu mengenai pernyataan Max. Kakak lelakiku memang berprestasi dalam bidang yang ditekuninya. Otak cerdas, wajah jauh di atas rata-rata, dan keluarga terpandang. Walaupun bukan selebriti, siapa yang tidak tertarik mengenai dirinya?

“Singkat cerita, Siwon dan Victoria pernah menjalin hubungan, mungkin sejenis one night stand,” Max mengedikkan kepalanya, “Tadinya aku meragukan foto-foto ini karena menurut pengamatan Jess, kakakmu adalah seorang gay. Maaf mengenai hal itu,” ucapnya yang sepertinya mengamati ekspresi getirku.

“Lanjutkan,” perintahku untuk mengabaikan bagian akhir Max.

“Aku menemui jurnalis yang mengambil foto ini untuk mengkonfirmasinya,” lanjut Max, “Dan dia memberikanku ini.” Max menyapukan telunjuknya di layar tablet hingga menunjukkan sebuah foto yang membuatku menganga. Sebuah foto, yang meskipun sedikit blur karena diambil dengan halangan kaca, memaparkan Siwon yang tengah bercumbu di ranjang dengan seorang wanita.

“Victoria?”

Yep,” jawab singkat Max membuatku terkejut. “Ayahmu atau kakakmu sepertinya mempunyai andil untuk membungkam jurnalis ini, karena kurasa jurnalis ini menjadikan foto skandal Siwon sebagai senjata untuk memeras sejumlah uang.” Max menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil mensedekapkan tangannya. “Begitu Siwon menyelesaikan urusannya di China, selesai juga hubungan ini.”

Aku meletakkan tablet milik Max dengan perasaan campur aduk. Bukan perkara kakakku mengenal dunia seperti itu, oh jangan naïf, Siwon memiliki segalanya untuk membeli setiap pelacur. Bahkan aku yakin, wanita rendahan seperti mereka rela ditiduri secara cuma-cuma oleh kakakku. Hanya saja, bagaimana bisa dia tergoda oleh wanita itu, padahal dia seorang gay? Dari penjabaran Max, kesimpulanku Siwon benar-benar menganggap hubungan itu sebatas one night stand. Bisa jadi Victoria hanyalah pelampiasan rasa jenuhnya terhadap pekerjaan.

“Jangan dulu terkejut,” Max kembali mengambil tablet-nya, mengutak-atiknya, kemudian menyuguhkan foto lain.

“Pembunuhan detektif yang dulu pernah kutanyakan?” tebakku pada foto yang kali ini dihadapkan padaku. “Kau menelusuri kasus ini?”

Max mengangguk, “Aku tertarik dengan kasus ini karena kau menanyakannya. Meskipun kasus ini ditutup dengan kesimpulan kematian sang detektif dikarenakan perampokan, namun aku menyangsikannya.”

“Kenapa?’

“Karena hal yang hilang dari kantornya hanyalah buku catatan kecilnya dan hardisk laptopnya,” jawab Max. “Perampok yang membunuhnya tidak mengincar harta, melainkan informasi terhadap kasus yang sedang ditanganinya.”

Aku terperanjat kaget, mungkinkah kasus itu adalah milik Kyuhyun? Mengingat Kyuhyun menyewa detektif ini untuk melacak keberadaan kakak perempuannya dan…mulutku membulat…latar belakangku; Gonjiam[7].

“Aku pernah mengatakan kesangsianku pada luka kecil di pipi kanannya, bukan?”

Aku mengingat-ingat, kemudian mengangguk. “Kanan?” repetitifku, “kanan, kau bilang?”

“Ya, sekarang kau mulai bisa menduganya?” Sebelum Max melanjutkan penjelasannya, ponselnya yang berada di meja, bergetar. “Tunggu sebentar, kurasa aku harus mengangkatnya,” dia berdiri dari duduk dan menjauhiku untuk mendapat privasi. “Oh, what’s wrong Sweetie?” sapanya yang membuatku tahu gerangan yang diseberang jaringan.

‘Kanan?’ Ulangku lagi dalam hati. Jemariku saling meremas begitu pikiranku menebak-nebak kejanggalan tersebut. Jika korban terluka di pipi kanan, maka kemungkinan besar orang yang menjadi lawannya adalah seorang yang kidal, yang menggunakan tangan kirinya untuk memukul atau pun menampar. Pikiranku menggali penjelasan Max dahulu, mengenai bekas melintang tunggal pada pipi korban[8]. Jika luka tunggal yang Max maksud dikarenakan oleh kuku maka…

Mengangkat jemariku, aku mengamati kuku-kukuku yang panjang, yang terpoles dengan cat kuku. “Oh?” lenguhku sambil menutup mulut.

…pelaku pembunuhan detektif tersebut besar kemungkinan adalah seorang perempuan karena dibandingkan kaum laki-laki, kaum kami lebih sering memanjangkan kuku. Kidal dan perempuan. Menggigit bibir bawahku, tanganku memanjang untuk menyapu layar tablet Max hingga menunjukkan foto Victoria.

Aku melirik suatu benda di meja, yang agaknya tergeletak sembarangan. Mungkin Max tidak sengaja meletakkannya di sana atau Jessie yang sengaja melepaskan benda tersebut dari pinggang Max ketika ciuman mereka memanas; sekadar menghidarkan hal buruk yang mungkin terjadi. Menganjurkan tanganku, aku menyambar benda tersebut, kemudian berdiri. Dengan cepat aku keluar dan meninggalkan ruangan Jessie.

“Youngie!”

Aku mempercepat langkahku untuk menjangkau lift. Beruntungnya di pagi hari, sebelum aktifitas rumah sakit memadat, tidak banyak orang yang menggunakan lift. Kutekan tombol penutup pintu dengan gusar ketika melihat Max mengejarku di ujung koridor.

“Choi Miyoung! Hentikan!”

“Kumohon…kumohon….,” racauku sebelum akhirnya sosok Max menghilang dari penglihatanku karena pintu lift yang menangkup. Menekan tombol angka tujuanku, hatiku berderum. Bunyi ‘ting’ tanda bahwa aku sampai di lantai tujuanku membuat jantungku berdetak lebih keras lagi. Keluar dari lift, aku melebarkan langkahku untuk mencapai ruang inap Siwon.

Telingaku menegak dengan suara jeritan, yang kukenali sebagai jeritan Jessie, dari dalam ruang inap Siwon. Aku melepas benda yang kubawa dari sarungnya, kemudian merentangkan tanganku ke udara untuk menyiapkan diri. Begitu mataku menangkap sosok yang keluar dari ruang inap Siwon dengan gerak cepat, aku berteriak di ujung tenggorokanku, “Berhenti!”

TBC*

 

Note:

Di BTBE 5, aku sedikit membuat kekeliruan bahwa luka sayat korban pembunuhan ada di pipi kiri. Kemudian dulu ada yang bertanya tentang ibuprofen, itu sudah aku buatkan catatan kecil. Aku juga sempat tertukar antara ibuprofen dengan thrombogel; thrombogel ini digunakan untuk mencegah penggumpalan darah, biasanya di pakai di daerah memar yang membengkak.

See my note? Ok, Tiffany officially berpacaran dengan Nickhun, congratulation both of you. Fiksi tetaplah fiksi, jangan mengekstraknya di kehidupan nyata. Tenggelamlah dalam fiksi, berimajinasilah semampumu, namun kemudian bangunlah dalam realita.

Oya, Tiffany memiliki tinggi 162 cm, di fiksi ini aku buat lebih pendek, kurang dari 160 cm.

Untuk BTBE, ada beberapa yang tanya akan kuakhiri di part berapa? Aku belum merancangnya dengan pasti, mungkin di angka 16/17.

Ok, semoga update kali ini bisa menemanimu ketika mengantri di TPS!

Bye, give me your feed back, ok? Because I’ll make sure some of you who willingly and diligently leave reviews will get what you deserve.

Sekalian, ternyata banyak yang tanya “Berarti Siwon bisex, bukan gay?” 

Nah gini, seorang gay memang memiliki ketertarikan dengan sesama jenis, namun tidak menutup kemungkinan seorang gay memiliki fling or one night stand dengan wanita. Karena di sini masih banyak reader yang belum cukup umur, jadi penjelasanku sedangkal itu saja, ok? Kalau belum puas, nanti  kalau ada part yang diproteksi, bisa aku jelaskan lebih lanjut buat kalian yang udah cukup umur, ok?

 

 

 

[1] Korea Utara mengecam keras Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye, dengan menggunakan kata-kata ‘menghina’ terkait dengan program nuklir Pyongyang. Jubir Korut menuduh Park membual seperti wanita kampungan dan menggambarkannya sebagai ‘pelayan setia’ dan antek AS. (BBC Indonesia dalam tribunews.com pada 27 Maret 2014)

[2] Fling: hubungan seksual dalam jangka pendek.

[3] Ketika mendapat luka/cedera baru, kompres dingin akan membantu menyempitkan pembuluh darah yang membesar. Jika luka/cedera telah lebih dari 48 jam, maka barulah menggunakan kompres panas.

[4] Ibuprofen berguna untuk demam, meredakan nyeri, disminor, dan inflamasi/ pembengkakan.

[5] Credit goes to SiwonnieFan dalam “Love in the Air”.

[6] Bajingan tampan: credit goes to @widanong

[7] Gonjiam: RS Jiwa tempat Miyoung pernah dirawat. (BTBE 7 dan 8)

[8] BTBE [5]: Max menjelaskan pada Miyoung mengenai luka sayatan korban yang diduga bekas penganiyayaan: “Bagaimana jika luka ini hanya efek samping karena tamparan, Youngie? Lebam karena tamparan tidak terlalu kentara karena mayatnya ditemukan 10 jam dari perkiraan waktu kematian. Selain itu, luka ini juga tersamar karena luka tembak di pelipisnya.”

189 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [14]

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s