Behind Those Beautiful Eyes [15]


BTBE 16

Behind Those Beautiful Eyes [15]

 

Arsvio | Tiffany Hwang Miyoung, Kyuhyun Cho, Siwon Choi | PG-16 for language | After A Minute (Super Junior M)

Her Love

 

Telingaku menegak dengan suara jeritan, yang kukenali sebagai jeritan Jessie, dari dalam ruang inap Siwon. Aku melepas benda yang kubawa dari sarungnya, kemudian merentangkan tanganku ke udara untuk menyiapkan diri. Begitu mataku menangkap sosok yang keluar dari ruang inap Siwon dengan gerak cepat, aku berteriak di ujung tenggorokanku, “Berhenti!”

Udara rasa-rasanya memanaskan tenggorokanku. Seiring mataku yang menangkap seringai picik wanita di depanku, aku menggesekkan telunjukku pada index point, sisi pistol yang digunakan untuk menempatkan telunjuk. Aku tidak begitu mengerti mengenai senjata api, tetapi setelah sekilas melihat tulisan di badan pistol, C 30-60, mengenai cartridge yang menjadi amunisinya, aku ingat ayah pernah mengenalkanku pada jenis pistol ini. Tentu hal itu hanya sebuah ketidaksengajaan saat aku mengunjungi ayah dan kakakku yang sedang berlatih menembak; sekadar hobi dan olah raga tentunya.

Menggenggam erat pistol, aku memposisikan tanganku dalam posisi menembak. Selain siaga, adalah untuk men-deactive pengaman pelatuk pistol. Aku tahu pistol ini jenis yang memakai grip safety, dimana pengaman pelatuk akan dinonaktifkan ketika penembak menjaga genggamannya hingga menekan sebuah tombol di bawah slide.

“Jessie!” aku berteriak memanggil Jessie yang berada di dalam ruang inap kakakku, kuasumsikan demikian, untuk memastikan kondisinya. Pandanganku menajam, tidak melepaskan barang sejenak, sosok Victoria yang berada di depanku dengan sebuah pisau yang ternoda setitik darah di mata pisaunya. “Jessie!” ulangku dengan lebih keras.

“Aku…bernapas…,” jawab terbata Jessie yang dibumbui dengan sedikit lawakan agar aku tidak mencemaskan kondisinya.

Victoria mengerutkan hidungnya, “Kurasa aku sedikit meleset.” Dia mendekat ke arahku dengan pisau yang teracung, membuat kakiku ingin tidak bergeming di tempatnya. “Biarkan aku menerangkan dengan cepat,” ujarnya sebelum aku sempat menanyakan motifnya melakukan kejahatan; membunuh detektif dan melukai Siwon atau Jessie, dugaanku. “Siwon, aku membencinya karena memutuskan hubungan kami sekadar one-night-stand,” dia mendengus, “dan kemudian hari lebih memilih menjalin hubungan long-run dengan sepupuku sendiri,” kini dia tertawa hambar.

Aku merendahkan telunjukku dari index point, mendekat ke pelatuk. Jelas sudah bahwa wanita ini sakit hati karena mencintai kakakku melebihi esensi hubungan yang dikomitmenkan oleh kakakku; one-night-stand.

“Ini benar-benar menggelikan, bahwa lelaki yang kutiduri, yang kemudian kucintai tidak lebih dari seorang gay,” ucap Victoria dengan getir. “Dan lebih mengejutkan lagi, setelah mencampakkanku hanya dalam semalam, sebulan kemudian,” suaranya bergetar, “bayangkan hanya sebulan kemudian dia dengan mudah menjalin hubungan dengan Kyuhyun, sepupuku Cho Kyuhyun.” Jarak Victoria denganku semakin dekat, dan dengan pisau yang tidak mengendur dari cengkeramannya, aku semakin merasa terancam. Meskipun di tanganku juga terdapat senjata, namun yang kulindungi bukan nyawaku, melainkan keselamatan calon bayiku.

Aku mengejurkan rahang, rasanya ingin mendegus mengejek ucapannya tentang cinta. Mungkin aku sesungguhnya juga tidak mengenal apa itu makna cinta. Mungkin kami berdua adalah sama. Namun bagiku, cinta adalah Kyuhyun dan janin ini, yang bagiku tidak mungkin melukai salah satu dari keduanya.

“Kau tentu ingin tahu mengapa aku mengirimkan foto Gonjiam?” tanya Victoria dengan nada pongah. “Oh, tentu kau sudah menduga bahwa aku yang melakukannya, kan?” yakinnya ketika melihat ekspresi kakuku. “Karena ternyata sebrengsek-brengseknya seorang Choi Siwon, dia masih memiliki hati untuk perempuan lain,” dia menaikkan pisaunya hingga sejajar dengan dadaku, “perempuan yang tidak lebih dari adik tiri yang menyedihkan, yang hampir gila karena masa lalunya.”

Kaki kananku bergerak mundur beberapa centimeter, cukup untuk menunjukkan kegetiranku. Tangan kananku yang memegang senjata mulai bergetar sehingga tangan kiriku harus menyusul untuk menguatkannya.

Cish, jangan berlagak jika kau tidak bisa menggunakan benda ini,” cemooh Victoria yang dengan cepat mempersempit jaraknya hingga ujung pistolku menyentuh dadanya, sementara ujung pisaunya menyentuh dadaku.

Napasku tertarik cepat, berhenti sejenak di ujung kerongkongan. Jantungku menggila dan kulit tanganku yang bersinggungan dengan permukaan pistol, mulai berkeringat. Menguatkan diri, aku menarik sebelah sudut bibirku semata untuk melecehkan cemoohannya. Aku membisu, bukan karena tidak memiliki kalimat yang ingin kusampaikan padanya, melainkan tidak ingin kewaspadaanku lengah.

Pendengaranku menangkap bunyi pintu yang didorong paksa, disusul derap langkah dari belakangku. Max, entah apa yang menahannya hingga dia membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke lantai ini. “Jatuhkan senjata kalian!” serunya.

Victoria sedikit menelengkan kepalanya, melongok melalui bahuku untuk mengetahui gerangan yang berada di belakangku. “Cish, lagi-lagi orang tidak berguna,” desisnya.

Mencekungkan bahuku, aku meringis ketika Victoria menekan pisaunya hingga kulihat bercak merah merembes melalui blus kuning gading yang kukenakan. Tanpa keraguan, kupindahkan telunjukku ke pelatuk.

“Aku bicara atas nama hukum, jatuhkan senjata kalian!” teriak Max untuk mempersuasi masing-masing dari kami.

Akan tetapi, jika Victoria tidak menarik pisaunya, aku pun tidak akan menarik pistolku. Aku bisa merasakan keringatku mengembun di dahi dan mengalir sisi wajahku. Diantara kewarasan dan logikaku yang mengabur, aku tetap menginginkan baik aku atau dia selamat, lalu menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum.

Mataku melotot seketika saat menangkap dokter dan beberapa perawat berjalan dengan tergesa ke arah kami. Kemungkinan Jessie meminta pertolongan melalui bel di samping ranjang Siwon. Mungkinkah keadaan kakakku memburuk?

Mengerutkan ekspresinya, Victoria menyadari posisinya tersudut. Di sisi depannya ada Max, sementara sisi belakangnya terdapat beberapa tenaga medis. “Kau tahu, Miyoung-ie,” bisiknya, “Jika aku ke neraka, maka akan kubawa serta kau karena kematianmu lebih menyakitkan bagi Siwon daripada kematiannya sendiri.”

Mataku melirik ke depan, melihat rombongan medis terhenti karena terkejut melihatku dan Victoria. Secara naluriah, mereka memposisikan diri dalam sikap siaga. Kulihat seorang perawat paling belakang mengambil langkah mundur dengan hati-hati; yang kuharap dia ingin lari untuk meminta pertolongan.

Victoria mencondongkan wajahnya ke mukaku, “Sekaligus ingin kutertawakan bagaimana sepupuku berkabung karena kehilangan dua orang yang mulai mengakar dalam kehidupannya.” Dia menyeringai ketika aku membulatkan mataku.

Sebelum aku bereaksi, dengan cepat kurasakan nyeri menusuk di perut bawahku. Batuk disertai cairan kental yang menyembur dari mulutku menjelaskan luka tersebut. “Jangan bermimpi kau bisa menyentuh kakakku lagi,” aku terbata ketika asin dan anyir darah memenuhi mulutku, kemudian mengalir keluar dari bibirku. “You fucking bitch!” teriakku sebelum dengan mantap kutarik pelatuk.

Dor! Dor!

“Youngie!”

Aku memejamkan mataku ketika tubuhku melimbung ke belakang. Rasa nyeri luar biasa menusuk-nusuk perutku bagian bawah.

“Youngie…Youngie…”

Membuka mataku sekuat tenaga, aku menjumpai wajah Max. Semua ototku melumpuh ketika nyeri di pangkal perut menyebar. Anggota gerakku seakan diiris-iris dengan setiap desir darah yang melaluinya. Sengatan-sengatan kecil menggelitik leherku, menuruni tulang punggungku dengan sengatan yang lebih menyakitkan. “Max…” lirihku. Dalam kesadaran minim, aku dapat merasakan air mataku memanaskan wajah. Tanpa melihat lukaku, aku pun sadar bahwa di saat ini aku telah kehilangan separuh cintaku…

“Bertahanlah…bertahanlah….,” racau Max.

Aku ingin melakukan perintah Max, namun rasa kejur di seluruh tubuhku mengalahkanku. Kelopakku mataku menutup, menyisakan garis penglihatan beberapa orang berpakaian putih yang mendekatiku.

…dan aku pun lebih rela jika aku pergi bersamanya.

#

Aku merasakan sentuhan lembut di pipiku, sangat lembut hingga aku pun mengherankan di dunia ini ada orang yang memiliki kulit selembut ini. Mengabaikan gerangan asing yang menyentuhku, aku dengan sengaja menyandarkan wajahku terhadap sentuhannya.

Were you crying?”

Suara yang tak kalah lembut mengalun, membuatku mau tak mau membuka kedua mataku yang memejam. Sepasang mata bulat dengan bulu mata panjang dan lentik adalah pertama kali yang ditangkap penglihatanku. Irisnya yang bewarna coklat tua dan bola matanya yang jernih memandangku dengan khawatir. Dahi sempit dan bibirnya yang mengerut membuatku bertanya-tanya hal yang mengakibatkan bocah ini begitu cemas.

I…” aku mengamati bocah laki-laki di sampingku, “I don’t know,” jawabku jujur.

How could you don’t even know something that made you cry?” Dia mengurai kerut bibirnya hingga aku melihat dengan jelas bibir penuhnya yang mungil, yang memiliki garis melengkung tumpul di lekukkan bibir atasnya. Dagunya yang membulat membuat garis parabola di perbatasan dengan bibir, namun berbentuk papar di akhirnya. Hidung mungilnya, rasa-rasanya aku ingin menekannya seperti tombol. Rambutnya yang hitam kecoklatan kelihatan lebat dan sangat halus.

Memperhatikan lebih cermat, bocah ini memakai kaos bewarna biru langit dan celana pendek bewarna biru gelap dengan bretel[1] bergaris merah yang tersampir di kedua bahunya. Sepatunya yang berbahan jeans biru tua tidak bertali, melainkan berperekat.

I…I think…” aku berpikir mengenai jawaban yang ingin kuberikan. “I’ve lost my half heart,” tanganku meraba dada, “here is really hurt.”

Dia menelengkan kepalanya ke samping disertai ekspresi heran yang menggemaskan. “Half heart?” ulangnya. Mungkin ucapanku kurang bisa ditelaah olehnya, yang kutaksir baru berumur empat atau lima tahun. “You meant, you can’t breathe?”

Aku menarik napas, lalu membuangnya. “I thought I can breathe properly,” jawabku.

But you said you lost your half heart!” pekiknya tidak setuju.

Yeah, I breathe, but every time I do it, I hurt.” Aku mengambil tangan mungilnya yang chubby, kemudian meletakkannya di dada atasku, “here,” tunjukku pada muara rasa sakitku.

Dia menarik tangannya, kemudian melipatnya di depan dada sambil berpikir. Ekspresi seriusnya dengan bibir yang mencebik dan pipi tembam yang membulat, sebenarnya ingin membuatku tertawa. Namun aku tidak sampai hati untuk melakukannya, salah-salah melukai perasaannya. Dia mendongak, kemudian menaikkan kakinya ke bangku yang kami duduki hingga dia berdiri di dua lututnya. Memiringkan badan, dia mengecup pipiku; sekali, dua kali, dan tiga kali. “Feeling better?” tanyanya dengan berharap.

Aku sedikit terkejut ketika bibir mungilnya menyentuh kulit pipiku. Tekstur bibirnya yang sangat lembut melekat di pipiku, membangunkan bulu kudukku dalam artian potitif, dan menghangatkan dadaku.

Feeling better?” tanyanya lagi ketika aku belum membuka mulut.

Aku mengangguk, tidak menjawab karena agaknya suaraku hilang; mungkin terlalu terlena dengan tindakan dan raut teduhnya. Bahkan wangi manis stroberi dari tubuhnya menyihirku untuk diam.

Mendapat jawabanku, dia melebarkan senyumnya hingga tulang pipinya yang terangkat membuat lekuk membulat sempurna. Sinar hangat, yang kupikir adalah sinar matahari, membuat rona memerah di permukaan pipinya. Tentu aku sangat familier dengan pemandangan ini karena tulang pipiku juga demikian atau ini sesungguhnya milik…

“Marc! Marc!”

Bocah lelaki ini menoleh ketika terdengar panggilan seseorang dengan nada tegas dan berat, khas suara lelaki. “Oops,” dia turun dari bangku, kemudian berdiri di depanku. Lagi-lagi memandangku dengan dua mata bulatnya. “I need to go,” tangannya menggapai sebelah pipiku, “Don’t be sad.”

Who are you?” tanyaku terakhir kali karena merasa ganjil. Aku dengan pasti belum pernah berjumpa dengannya, seorang bocah yang memiliki karakter wajah Asia, namun berbicara dan bernama kultur barat.

I’m Marc and I’m five,” dia membuka kelima jarinya, “I like ice cream and cookies!”

“Marc!”

Ah…” Dia melompat-lompat kecil dengan gelisah ketika panggilan terdengar lagi. “Really need to go.” Memajukan tubuh mungilnya, dia mengecup bibirku terakhir kali. “Bye,” dia melambaikan tangannya, sebelum berbalik dan berlari.

Tanganku terangkat, ingin memanggil Marc dan menanyakan apakah kami dapat berjumpa lagi, namun dia terlalu cepat berlari. Mataku mengamati Marc yang kian menjauh hingga menghilang di titik cakrawala. Mengangkat jemariku untuk merabai bibirku sendiri, jantungku berdegub kencang. Ciuman ini…

#

…Kyuhyun.

Aku berusaha mengangkat kelopak mataku yang terasa sangat berat. Berulang kali aku mengedipkannya dalam kondisi belum membuka sepenuhnya, semata untuk membiasakan dengan pencahayaan.

“Young?”

“Young?”

Kelopakku dibuka paksa, kemudian cahaya menyilaukan disorotkan ke mataku secara bergantian. Lamat-lamat kulihat jas putih, disusul wajah familier Kyuhyun. Pandangannya belum memfokus kepadaku, melainkan ke samping sisi ranjangku. Dia menolehkan kepalanya padaku. Dengan raut penuh determinasi, dia menatapku. “Young, kau bisa mendengarku?”

Meskipun telingaku masih berdengung, namun aku dapat menangkap ucapan Kyuhyun. Alih-alih menjawab, aku memutar pandanganku untuk menginspeksi ruangan. Tidak ada cahaya menghangatkan atau pun bangku putih, yang ada hanya sorot lampu yang menyilaukan dan sofa di sisi yang bersebelahan dengan ranjangku.

Aku menggeram rendah karena ketika kupanjangkan leherku untuk mengamati pintu. Rasa sakit di perut bawahku, meskipun hanya perih ringan, namun tetap menggangguku. Mataku masih melekat pada daun pintu, andai-andai bocah lelaki bernama Marc itu mengunjungiku lagi.

“Young?” panggil Kyuhyun lagi, kali ini lebih lembut.

Aku memilih mengabaikan panggilan Kyuhyun dan menjaga pandanganku. Meskipun kunang-kunang seolah beberapa kali mengganggu pandanganku, namun aku tidak mengalihkan tatapanku dari pintu. Aku berharap dapat melihat kepala kecil dengan rambut hitam kecoklatan menyembul dari balik pintu, lalu menyapaku dengan senyum bibir penuh mungilnya.

“Young, lihat aku,” perintah Kyuhyun yang bagi pendengaranku masih diselingi dengungan.

Wajahku dipalingkan dari menyamping menjadi menengadah, menatap lurus wajah Kyuhyun. Dahiku mengerut, ingin memprotes, namun agaknya tangan Kyuhyun menahan sisi wajahku.

“Cobalah menggerakkan tangan atau kakimu,” minta Kyuhyun, yang kupikir adalah permintaan terbodoh yang pernah aku dengar. Untuk apa aku melakukannya? Aku yakin tidak lumpuh, lagipula rasa sakit itu bersumber di perutku bukan tangan atau kakiku. “Apa yang kau rasakan, hum?”

Melihat tatapan sendu Kyuhyun, aku tidak tega untuk membantah perintahnya. Jadi kucoba menjentikkan jari-jari tanganku, tetapi bahkan merasakan jemariku saja, aku butuh waktu lama dan usaha kuat. Aku lagi-lagi mengerutkan dahiku, kali ini untuk mengisyaratkan bahwa aku menyerah.

Kembali menolehkan kepala ke arah pintu, harapanku pupus ketika tidak menjumpai Marc. Aku merasa sangat lelah dan sedang tidak ingin bercakap dengan yang lain kecuali Marc. Jadi kupejamkan mataku untuk menolak apa pun interaksi yang Kyuhyun tawarkan. Siapa tahu jika aku tidur sebentar, ketika membuka mata nanti Marc sudah datang.

#

Aku tidur, membuka mata, tidur lagi, membuka mata lagi. Akan tetapi Marc tidak pernah mengunjungiku. Bahkan ketika aku berupaya bangun dari berbaring, tentu akan lebih nyaman bercengkrama dengan Marc ketika dalam keadaan duduk santai, dia tidak muncul. Bocah lelaki dengan pipi tembam kemerahan, yang mirip warna peach, itu seakan tidak akan muncul lagi.

“Young, buka mulutmu.”

Aku merasakan dingin logam menyentuh permukaan bibirku, namun aku, lagi-lagi, memilih tidak mengindahkannya.

“Kau harus memakan sesuatu, Young.”

Tubuhku bergeming, tidak mengacuhkan bujukkan Kyuhyun. Bibirku mengatup rapat walau sodokkan sendok mencoba memisahnya. Mataku menatap lurus pada kakiku yang terselimut putih. Tidakkah Kyuhyun mengerti, aku tidak menginginkan apa pun selain kehadiran Marc.

“Kau memerlukan asupan nutrisi untuk pulih,” Kyuhyun masih menjaga sendok menggantung di depan mulutku. “Ayolah, Young, beberapa suap saja.”

Untuk saat ini saja, jika memungkinkan, aku memilih untuk sama sekali mengabaikan Kyuhyun. Benar bahwa Marc hanyalah bocah yang baru saja kukenal, tapi di saat ini kehadirannya adalah segalanya bagiku. Bukan Kyuhyun yang selalu ada ketika aku menutup dan membuka mata. Bukan Kyuhyun yang kutemui tertidur di sofa atau terbaring memelukku di ranjang ini. Bukan Kyuhyun yang secara rutin memeriksa tanda vitalku; denyut jantung, nadi, kesadaranku, apa pun itu. Terlebih, bukan Kyuhyun yang selalu berusaha menyuapkan makanan, yang pada akhirnya terbuang percuma.

Aku merasakan sebelah pipiku ditangkup, kemudian arah pandangku diubah menyamping, ke wajah Kyuhyun.

“Baik,” Kyuhyun meletakkan sendok, “Jika kau menolak makan, maka aku juga akan melakukan hal serupa.” Dia menyilang kedua tangannya di depan dada.

Fine, if you don’t want to eat, then I don’t either!”

Mataku membulat, menangkap sosok mungil Marc menyembul dari balik punggung Kyuhyun sambil mensedekapkan kedua tangannya. Bibirku ingin meloloskan namanya, namun hanya berakhir dengan komat-kamit. Dadaku terasa dialiri hawa dingin yang menyejukkan saat dapat menjumpai cebikkan bibir mungil Marc.

Mata bulat Marc menatapku dengan tajam, yang terlihat sangat menggemaskan daripada menyeramkan. Dari sekarang, lebih baik kucatat dalam tulisan tebal bahwa Marc memiliki sepasang bunny-eyes. Jika lain waktu kami mengunjungi kebun binatang, aku harus ingat untuk membelikannya bandana telinga kelinci!

You will take me to the zoo?” Marc mendekat dan mengurai lipatan tangannya. Matanya yang membulat semakin membulat ketika antusias merambatinya. “Like…like seriously?” dia menjatuhkan tangannya di tepi ranjang, kemudian meloncat-loncat kecil. “But,” lagi-lagi Marc mengerucutkan bibirnya, “you’ve got to be healthy so we can go to the zoo, rite?”

Aku mengangguk, kemudian secara sadar membuka bibirku.

“Kau mau makan?” Tanpa menunggu jawaban, Kyuhyun menyuapkan sesendok makanan.

Aku tidak begitu memedulikan rasa hambar makanan dan tekstur lembeknya karena yang kupedulikan hanya tepuk girang Marc ketika aku menelan makananku. Dia yang mengangkat tangan chubby-nya ke sisi kepala saat makananku habis adalah hal memuaskan yang kudapat.

Selalu seperti ini ketika aku makan atau melakukan perintah Kyuhyun dengan sungguh-sungguh. Marc akan ada di sana, memandangku dengan semangat yang tercermin di matanya atau pekik ‘huray’ yang lantang dari mulutnya. Saat menjelang tidur, ketika Kyuhyun memposisikan dirinya di sisiku dan meletakkan sebelah tangannya dengan hati-hati di perut atasku, mataku tidak terlepas dari sosok Marc yang meringkuk di sisiku yang lain. Dia yang membola sambil mengisap ujung jempol tangannya, mau tak mau membuatku tersenyum. Beruntungnya bahwa ranjang rumah sakit ini cukup untuk menampung kami bertiga.

#

Saat kembali ke rumah dan dapat melihat kamarku lagi, aku hanya mengejurkan rahangku, setelah entah-berapa-hari berada di rumah sakit. Aku tahu beberapa orang hilir mudik mengunjungiku; ayah dan ibu mertuaku, Ahreum dan Lee Bujangnim, Max, Jessie dengan kruknya, dan tentu ibuku sendiri. Akan tetapi aku terlalu enggan untuk meladeni simpati mereka. Untuk apa? Toh aku senang karena Marc selalu mendampingiku. Kini ketika aku sepenuhnya di rumah, sosok Marc belum kulihat selain pagi ini ketika aku tiba di rumah. Hanya ibuku yang terlihat berlalu lalang di kamarku untuk membereskan ini dan itu.

Kelelahan itu tercetak jelas di wajah eomma. Aku tahu, kondisiku adalah salah satu penyumbang letih yang membuat kantung matanya. Kasus yang menjerat abeoji dan juga keadaan oppa, tentu aku masih ingat kedua masalah pelik ini. Aku tidak gila, kan?

“Youngie, kau ingin makananmu di antar ke sini atau kau ingin makan bersama kami di bawah?” Eomma menyentuh tanganku.

Aku memerhatikan raut ibuku dan menimbang tawarannya. Jika aku di sini, maka aku hanya akan bosan menunggu Marc datang mengunjungiku lagi. Akan tetapi aku juga terlalu malas untuk turun ke bawah karena rasa sakit di pangkal perutku masih terasa ketika aku berjalan.

“Kyuhyun akan pulang sebentar lagi.” Eomma meremas jemariku untuk meminta perhatian.

Aku meluruskan punggungku begitu mendengar tentang Kyuhyun. Biasanya Marc akan di sana ketika Kyuhyun juga di sana, walaupun keduanya tidak terlibat interaksi. Menganjurkan tanganku, aku mencari topangan dari eomma untuk membantuku bangun. Siapa peduli dengan rasa perih yang tak seberapa ini, jika itu artinya aku dapat berjumpa dengan Marc lebih cepat.

Eomma melingkarkan sebelah tangannya di pinggangku, sementara tangan yang lain memegangi lengan atasku dengan erat. Kami menuruni tangga dengan ekstra hati-hati. Berbeda ketika aku tiba di rumah, dari rumah sakit, dimana Kyuhyun membopongku menaiki tangga, sedangkan Marc berada di muka kami; berjalan riang menaiki anak tangga sambil mengulang berhitung dari satu sampai sepuluh. Sesekali dia salah mengurutkan angka, lalu berhenti di anak tangga cukup lama dengan wajah mengerut untuk berpikir. Saat dia menemukan urutan yang tepat, ekspresi wajahnya akan mencerah kembali.

“Young?” Kyuhyun meletakkan tas kerjanya dan bersegera menghampiriku yang telah sampai di pangkal anak tangga. “Aku atau eomonim bisa mengantarkan makanan ke atas,” ucapnya dibarengi raut cemas.

Eomma yang menawarinya makan bersama di bawah, Kyuhyun-ah,” ibuku menjawab, lalu melimpahkan tanganku ke Kyuhyun, “agar dia tidak melulu terkungkung di kamar.”

Ah, ne, eomonim,” Kyuhyun menuntunku, dan aku dapat melihat Marc berlarian melentangkan kedua tangannya untuk menirukan pesawat terbang. Kyuhyun menarikkanku kursi, lalu membantuku duduk.

Aku tidak tertarik dengan berbagai macam makanan yang disiapkan eomma dan aku juga tidak tertarik dengan bahan obrolan eomma dengan Kyuhyun. Hal yang kulakukan hanya membuka mulut ketika sesendok makanan menyentuh permukaan bibirku. Sedari tadi, mataku hanya terfokus pada gerak-gerik Marc yang berlarian mengelilingi meja makan.

Kepalaku menoleh ke belakang saat sosok Marc tidak terlihat. Mengerutkan dahiku, aku kemudian mendorong kursiku ke belakang dan berdiri dengan cepat ketika melihat Marc bermain di bibir kolam renang. Tanpa menggubris panggilan Kyuhyun, aku bergerak mendekati Marc. Anak seusianya tentunya belum bisa berenang, kan?

Dia hanya berdiri di tepian sambil mengamati ketenangan air. Bibirnya yang membulat dan tangannya yang terletak di masing-masing sisi tubuh dengan sedikit kaku, menggambarkan ketakjubannya. “Wow,” lirihnya yang masih bisa kudengar. Dia memutar kepalanya ke samping, dimana aku berdiri. “Can I?” tanyanya padaku untuk meminta izin berenang.

“Young.”

Merasakan cekalan di lengan atasku, aku memaling ke sisi yang lain dan menemukan Kyuhyun dengan raut, entah-apa-itu, antara tanya dan kekhawatiran.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Kyuhyun tanpa merubah ekspresinya.

“Miyoung-ie,” panggil eomma yang berdiri di sebelah Kyuhyun sambil meremas jemarinya, tanda khawatir.

Eommonim, aku tidak bermaksud kurang sopan,” Kyuhyun menoleh kepada ibuku, “namun dapatkan eommonim meninggalkan kami?”

“Kyuhyun-ah…”

“Kumohon, percayakan Miyoung padaku, eommonim.”

Aku tidak menggubris bagaimana Kyuhyun kemudian meyakinkan ibuku higga beliau pergi. Perhatianku terserap begitu melihat Marc menekuk kedua lututnya, lalu menjulurkan kedua kakinya ke dalam air kolam. Secara naluriah aku ingin mendekat dan memperingatkannya, namun cengkeraman Kyuhyun di lenganku menguat.

“Young,” panggilnya lagi sambil menahanku.

Mengadu alisku, aku menyentak lenganku untuk memberontak, namun gagal.

“Apa yang ingin kau lakukan?” ulang Kyuhyun lagi.

Kepalaku memaling kepada Marc, menemukan bahwa dia menendang-nendang air yang hanya meyentuh ujung jemari kakinya. Tawanya yang girang membuat hatiku rasanya meleleh. Tidakkah Kyuhyun melihat alasanku? Memelintir tanganku, aku berusaha lebih keras lagi untuk terlepas dari Kyuhyun saat menonton Marc memerosotkan tubuhnya ke air.

“Young, tatap aku!” Sekali ayun, Kyuhyun mencekal kedua bahuku hingga kami bersemuka. “Kau ingin berenang?” tanyanya mengujiku. “Kau tahu lukamu masih tidak memungkinkanmu untuk berenang, kan?”

Eugh,” aku melenguh, lagi-lagi untuk memberontak ketika kecipak air tertangkap oleh telingaku. “Eugh…” Menggeliatkan tubuhku, aku ingin bebas dan menceburkan diri ke air untuk memantau Marc.

“Kemarilah,” Kyuhyun menggeretku ke sisi kolam yang terendah, yang seingatku hanya memiliki kedalaman kurang dari 1,5 meter. Tidak mengerti jalan pikirannya, aku hanya memerhatikan saat dia masuk ke kolam, sementara aku masih berdiri di tepian. “Ulurkan tanganmu,” Kyuhyun mengangkat kedua tangannya untuk menjangkauku, “Bukankah kau ingin berenang?”

Dengan keraguan aku mengulurkan tanganku dan membiarkan Kyuhyun membimbingku masuk ke kolam. Tidak, tentu dia tidak membiarkanku berdiri atau berenang sendiri.

Kyuhyun menyampirkan sebelah tanganku di pundaknya dan menyusupkan tangannya di belakang lututku. Dia membopongku ketika berada di dalam air. “Kau ingin merasakan ketenanganmu?” Tanpa menunggu jawabanku, karena aku hanya memandanginya, Kyuhyun berjalan di sepanjang sisi kolam yang paling rendah.

Aku menuruti Kyuhyun, kemudian menjalin jemari tanganku yang lain pada tanganku yang terkalung di pundak Kyuhyun. Sesekali mataku melirik Marc yang dengan riang, diluar dugaanku, berenang ke sana kemari. Kami, aku dan Kyuhyun, melakukan seperti ini, jika kuhitung sudah dua kali bolak-balik dari tepi ke tepi. Sebelum mataku melotot menangkap tubuh Marc yang timbul tenggelam.

Help…” teriak Marc, “Help me!”

Aku meronta turun dari gendongan Kyuhyun, namun tentu saja dia tidak melepaskanku. Tanganku menggapai-gapai ingin menjangkau Marc, tetapi tubuhku tertahan oleh Kyuhyun. Pergulatanku untuk bebas sampai menimbulkan kecipak air yang keras.

“Young!” seru Kyuhyun yang kutangkap. “Choi Miyoung!”

Eugh!” aku semakin kalap saat tubuh Marc tidak terlihat di permukaan. “Eugh!” jeritku sekuat tenaga ketika rasa menusuk kembali hadir di perutku. Napasku mulai memendek dengan tempo cepat. Semburat merah yang muncul di air di sekitarku, meskipun tidak terlalu kentara, membuatku memekik tak terkendali. Kakiku menjejak-jejak, ingin terbebas dari belenggu yang memerihkan bagian perutku. “Eugh!” Aku memejamkan mataku, menggerakkan anggota gerakku dengan brutal, hingga yang kurasakan adalah tubuhku yang terbaring pada permukaan datar yang keras.

“Young!”

“Young!”

“Choi Miyoung!”

Aku mengangkat kelopak mataku ketika kurasakan tepukan kontinu di kedua pipiku. Kecemasanku membesar, bukan karena rasa sakit yang mendera, tetapi karena keselamatan Marc. Menggapai Kyuhyun, aku menarik lengan kemejanya yang basah.

Kyuhyun membantuku bangun dengan segera, dan ingin menjunjungku lagi, tetapi aku meremas pundaknya untuk menolak.

Kepalaku sangat pening, seakan dihantam pukulan keras dari dalam. Entak napasku memanaskan tenggorokkan, seakan membakar organku sendiri. Aku memekik, mengeluarkan suara histeris ketika menangkap tubuh Marc, yang berada tidak jauh dariku, berlumur darah di sepanjang dada mungilnya.

Marc membisu, sebelum terisak. Dia menangis, mulanya hanya terdengar sebagai rengekkan, namun kemudian menjadi jeritan. “Mommy…help me…” tubuh ringkihnya limbung ke lantai.

Jemariku meremas dan menjambaki rambut, lalu mengurai dan menarik lengan Kyuhyun. “Tolong selamatkan dia…” mintaku diantara sesenggukan.

“Young?”

Mommy…help me…” rintih Marc lagi ketika bagian perutnya merembes darah.

“Kumohon…” Aku mengeratkan cengkeramanku di kemeja Kyuhyun. Mengguncangkan tubuhnya, aku ingin dia berpaling pada Marc. “Selamatkan dia…” Aku tidak peduli saat suaraku yang serak memerihkan kerongkonganku. “Selamatkan dia…”

Mommy…” pekik Marc ketika hampir seluruh tubuhnya dipenuhi dengan darah.

Aku menarik tanganku, lalu memukuli kepalaku yang berdenyut menyakitkan. Dadaku sangat sesak, seolah diimpit sesuatu yang besar. “Bertahan…bertahan…”

“Young.”

“Young!”

Wajahku ditangkup, lalu dipaksa bersemuka dengan wajah Kyuhyun. Pandanganku mengabur karena lapisan bening air mata yang memenuhi permukaan mataku.

“Dengar, kuasai dirimu.” Kyuhyun menguatkan tangkupannya, “Kuasai dirimu,” tekannya lagi. Dia mengadu dahinya denganku, “Jangan hilang diri, Young, kumohon.”

Aku serta merta menghentikan histeriaku, lalu mengamati mata Kyuhyun yang terpejam untuk sejenak.

Membuka mata, Kyuhyun menatapku dengan matanya yang memerah. “Kita,” rahang bawahnya bergetar, “telah kehilangan dia,” lirihnya yang lolos bagai bisikkan.

Menggelengkan kepala, aku menentang ucapan Kyuhyun. “Tidak…tidak…” Mataku melirik, melihat Marc yang kini terkulai di lantai dengan darah yang menggenanginya. “Kau harus menyelamatkannya.”

“Young, dia telah pergi…”

“Tidak…tidak…” ratapku. Aku mengangkat tanganku untuk memukul-mukul dada Kyuhyun. “Tidak…tidak…” dan kata ini yang terus kuucapkan untuk menyangkal perkataan Kyuhyun. “Kembalikan dia…kembalikan dia…” tangis dan teriakkanku menggema. “Kumohon…”

Alih-alih menghentikan kebrutalanku dalam memukulnya, Kyuhyun menarik tangannya dan mengepalkannya di atas kedua pahanya. “Maafkan aku,” sesalnya sambil menduduk.

Aku sepenuhnya menyadari bahwa semua yang menimpaku bukan kesalahan Kyuhyun, tapi aku butuh sesuatu untuk dipersalahkan; sesuatu untuk meluapkan emosiku. Menyuduk kepalaku ke dada Kyuhyun, aku menghentikan pukulanku dan tergugu keras. Rumah ini penuh dengan raungan tangisku, tetapi aku tidak peduli. Sesak yang mengimpit dadaku dan perih yang menggores hatiku, aku ingin mengeluarkannya.

“Young…” desis Kyuhyun yang merengkuhku dalam pelukannya. “Menangislah…menagislah…” Dia mengeratkan kekangannya, yang meskipun membuatku sesak namun juga membuatku terlindungi.

Meledakkan seluruh bentuk kesedihanku, aku meyusupkan wajahku di dada Kyuhyun. Tidak mengindahkan pernapasanku yang mulai kesulitan menghirup udara. Tidak memedulikan wajahku yang sangat kacau. Aku menjerit, melolong, dan apa pun bentuk suara kesedihan yang bisa kukeluarkan.

Aku menancapkan kukuku di bahu Kyuhyun yang bergetar, berharap dapat memadu duka kami. Kepalaku semakin pening akibat terlalu keras dalam mengeluarkan emosiku, tapi aku tidak berniat berhenti karena rasa kehilangan itu melebihi apa pun. Di sini, di dada ini, perih itu terlalu menyayat.

Katakanlah aku mendramatisir, katakanlah aku hiperbolis. Akan tetapi calon bayi itu adalah satu-satunya yang kupunya, yang dapat kucintai dan akan mencintaiku secara mutlak. Separuh alasan aku bertahan, yang dalam masa mendatang kuharapkan menjadi alasan tunggalku. Kini hilang sudah semuanya; cintaku…harapanku…

Aarrrgghhhh…” teriakku terakhir sebelum semuanya menggelap.

#

Aku mengerjapkan mataku dan mengadaptasikan dengan cahaya, yang kemudian mendapati warna biru matang memenuhi pandanganku. Penciumanku membau wangi khas Kyuhyun. Melebarkan jemariku, aku merabai tekstur lembut kain katun di mukaku; kaos Kyuhyun. Kepalaku mendongak dan mataku menangkap rahang bawah Kyuhyun yang seakan-akan memayungi ubun-ubunku.

Membenahi letak kepalaku, aku kembali menyusup di dada bidangnya hingga kulit dahiku menggesek kulit leher bawahnya. Aku menghirup wangi pelembut dalam kaos Kyuhyun yang berpadu dengan bau keringatnya, manis seperti vanilla dan sedikit masam, untuk mencari ketenangan. Memiringkan kepalaku, aku menempelkan telingaku di dadanya untuk menikmati detak jantungnya yang tenang.

Kyuhyun menggeliat, agaknya terganggu dengan gerakanku. Dia melonggarkan dekapannya, kemudian menunduk saat aku mengangkat wajahku. “Hei…” sapanya sambil mengusapkan ibu jarinya di kantung mataku.

Aku tidak membalas sapanya, baik dengan lisan atau sekadar ekspresi wajah. Pendengaranku mengharapkan Kyuhyun menanyakan “Merasa lebih baik?” atau “Bagaimana perasaanmu?”, namun setelah lama aku hanya memandangnya, kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya. Aku lebih berterima kasih untuk itu, karena pertanyaan itu adalah yang paling tidak ingin kudengar.

Alih-alih, Kyuhyun bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

Menundukkan kepalaku, aku memainkan tepi kerah kaos Kyuhyun yang rendah. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai hari ini atau bagaimana memulai menata perasaanku yang hancur. Nyatanya perasaanku tidak membaik, meskipun telah meraung semalaman. Akan tetapi setidaknya ledakan emosiku semalam mampu membangunkan kesadaranku; hanya itu.

Kyuhyun mengambil jemariku yang bermain di kerahnya dan membungkusnya dengan tangkupan jemarinya. “Bagaimana jika kau bertemu dengan seorang rekanku?”

Aku mengigit pipiku bagian dalam, “Psikolog?” tebakku.

“Jika kau tidak menginginkan menyebutnya demikian, anggap saja kau bertemu dengan—“

“Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun, terutama psikolog,” potongku. Aku hanya tidak ingin emosiku dimanupulasi, atau apa pun kata yang tepat. Juga, tidak ingin kembali ke rumah sakit jiwa. Tentu saja tidak selamanya yang berkonsultasi dengan seorang psikolog adalah ‘orang gila’ yang akan dimasukkan ke dalam RS kejiwaan, namun masa laluku terlalu kental dengan hal demikian.

Dada Kyuhyun mengombak ketika dia mengambil tarikan napas panjang. “Young…”

“Bagaimana dia pergi?”

Kyuhyun mengangkat daguku agar wajahku bersemuka dengannya. “Bagaimana jika kita mengunjunginya hari ini?” tanyanya yang tidak menjawab pertanyaanku semula.

Bola mataku bergerak menelusuri wajah bangun pagi milik Kyuhyun, yang walau pucat namun tetap memiliki keindahan tersendiri. Gemuruh di dadaku memintaku untuk menolaknya, namun ragaku mengingkarinya dengan anggukan kepala. Aku tidak yakin dapat menguasai lonjakan emosiku, tapi jika itu artinya aku akan mengunjunginya dengan Kyuhyun, mungkin dia dapat menjadi peredamku.

“Rasa kehilangan itu, aku tidak memungkirinya, terasa sangat menyakitkan saat ini.” Iris coklat tua Kyuhyun terfokus padaku, “Dan aku tidak menjaminkan akan hilang dalam waktu dekat.” Tangan besar Kyuhyun yang hangat menangkup pipiku, “Namun seiring waktu, rasa itu akan tertempa hingga kebas, dan ketika saat itu tiba, kau akan merelakannya pergi.”

Mendengar ucapan Kyuhyun, mataku memanas. Membayangkan bagaimana aku akan melalui hari-hari ke depan dengan suram, aku menjadi takut untuk beranjak. Aku mengakui kebenaran ucapan Kyuhyun, namun aku enggan untuk mengamininya.

“Young, yang kuharapkan adalah kau menguasai dirimu. Belajarlah untuk mengontrol rasa dan karsamu, dan,” Kyuhyun membawa wajahku mendekat, kemudian mencium keningku, “Cintailah dirimu.”

Aku memejam dan mengusap punggung tangan Kyuhyun.

Kyuhyun menarik mundur wajahnya, “Terima kasih, Young.” Sekali lagi dia mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung kami bersinggungan. Terlihat ragu untuk suatu alasan yang tidak kumengerti, “Terima kasih untuk mencintainya,” yang kutahu pronominanya ditujukan untuk calon bayi kami yang tiada.

Aku membisu saat gelombang kepedihan itu lagi-lagi menerpa hingga membuat bibirku bergetar kecil.

“Dan, terima kasih untuk mencintaiku,” desah Kyuhyun yang hampir-hampir tidak terdengar olehku. Dia menjulurkan lidahnya, menyapu permukaan bibir atasku. Sebelum kemudian bibirnya memerangkap bibir atasku dan mengisapnya kecil. Sebelah tangannya mengusap punggungku dengan lembut, lalu membawa tubuhku semakin mengimpit tubuhnya. Dia masih melarikan ujung lidahnya di bibir atasku, membiarkanku merasakan lembab dan lunaknya, sebelum melumat bibirku dengan sangat lembut.

Aku pasif, namun tidak menegah ciumannya. Air mataku lagi-lagi turun, kali ini dalam diam. Hingga saat kurasakan jemarinya mengusap leherku, menggelitik wilayah sensitifku, embus napasku menyentak kecil. Jemariku kian meremas kaos depan Kyuhyun, sebelum bibirku bawahku memberanikan menangkup; membuat bibir bawah Kyuhyun terperangkap diantara bibirku.

Dalam pikiranku masih banyak pertanyaan yang belum terjawab: keadaan kakakku serta kematian sepupunya. Aku tidak menyaksikan kematian Victoria, tetapi aku yakin tembakanku mampu membunuhnya. Dalam hatiku, hingga sekarang, belum ada penyesalan setelah aku menghabisi wanita itu yang merupakan ancaman bagi kakakku. Entah ini suatu hal yang baik atau tidak. Akan tetapi mengingat aku kehilangan calon bayiku karenanya, rasa yang ada hanyalah kebencian mendalam padanya. Bahkan pada raga dan tulang-tulangnya yang mungkin sudah menjadi abu.

Aku melenguh kecil ketika lumatan bibir Kyuhyun menghentikan rentet pemikiranku. Merasakan manis dari bibir penuh Kyuhyun, aku mengisapnya dan membalas lumatannya dengan lembut. Ciuman ini tidak berhasrat, tidak menuntut, hanya sebuah cara untuk melarutkan rasa berkabung kami.

Kyuhyun menghadiahi kecup-kecup ringan di bibirku sebelum melepaskan pagutan bibir kami. Dia juga mencium kedua pipiku. Menggerakkan ujung ibu jarinya secara horizontal di bawah bibirku, dia menyeka sisa ludahnya yang menempel di sana. Napasnya yang sedikit memburu terasa hangat menerpa daguku.

Setelah menormalkan napas, Kyuhyun menyibak selimut, lalu bangun dan berjalan memutari ranjang untuk mencapai sisiku. Menyusupkan tangannya di bawah punggungku, dia menggendongku. “Aku lapar,” ucapnya.

Mengalungkan tanganku di pundaknya, aku menarik bibirku secara datar. Kali ini aku sungguh-sungguh melakukannya, bukan karena khayalanku. Setelah keluar dari buntalan selimut, aku baru menyadari pakaianku kemarin malam yang basah telah terganti dengan gaun tidurku sendiri yang bewarna merah muda. Melalui gaun yang sedikit menerawang, aku dapat melihat kasa putih pembungkus luka di perutku. Sungguh pun, aku tidak membayangkan bagaimana Kyuhyun mengurusku. Bukannya aku malu karena dia melihat tubuh polosku. Tidak, perasaan itu tidak ada, yang ada hanyalah rasa terima kasihku padanya.

“Bagaimana dengan pancake atau waffle?” tawarku.

Kyuhyun mengerutkan hidungnya, “Aku tidak bisa membuat jenis masakan itu.”

“Aku bisa memasakkannya.”

“Tidak,” Kyuhyun menggeleng, “pagi ini, kau harus bertahan memakan masakanku.”

Aku menyandarkan kepalaku di pundak Kyuhyun, “Kalau begitu bagaimana dengan pizza kentang yang pernah kau buatkan untukku?”

“Kau membutuhkan makanan yang lebih lunak.”

Aku tersenyum kecil dan merasakan dadaku sedikit melonggar dengan perhatiannya. “Hyunnie?”

Hmm?”

“Apakah kau di sana ketika dia pergi?”

Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menundukkan pandangannya, “Aku di sana, bersamamu, bersama kalian. Jika kau menanyakan bagaimana perasaanku saat itu, maka aku tidak akan pernah bisa mendiskripsikannya dengan baik melalui kata-kata.”

Mengangkat tanganku, aku mengusap pipi Kyuhyun, “Aku tahu.” Memanjangkan leher, aku mengecup pipinya, “Terima kasih dan maaf,” lirihku dengan segala kesenduan yang kumiliki.

 

TBC*

 

Note:

Who Marc is? Dia hanya tokoh imajinatif yang dikhayal oleh alam bawah sadar Miyoung. Perawakan mungilnya seluruhnya adalah gambaran fisik Kyuhyun. Secara halusinasi, Miyoung akan ‘melihat’ sosok Marc ketika dia bersama Kyuhyun karena praktis, Marc adalah diskripsi putra mereka.

Dan di part ini, Miyoung berada pada level depresi sehingga dia kehilangan rasa dan karsanya terhadap lingkungan dan waktu. Singkat kata, dia hampir ‘gila’ lagi.

Maaf, aku tidak dapat menjanjikan setiap dua minggu update BTBE. Dan akhirnya, kalian harus menunggu satu bulan sekali untuk baca BTBE. Walaupun bukan BTBE, kuusahakan update blog ini atau ff di AFF kurang dari satu bulan.

Ah, because someone insisted me to make a poster using Kyuhyun’s musical singing in the rain photo teaser.

 

[1] Bretel (suspender: eng): tali elastis atau tidak elastis, tersandang di kedua bahu untuk mengikat celana agar tidak lepas.

164 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [15]

  1. VivitYulia says:

    Part ini bner2 mengguras emosi. miyoung bner2 depresi, smpai2 dia berhalusinasi tentang putra mreka. Dan di part ini jga aq ngerasain klw kyuhyun bner2 tulus sma miyoung.

  2. sparkyukyu says:

    terharu banget pada saat mereka d kolam renang. Bgmna kyuhyun mencoba menenangkan miyoung yg berhalusinasi tentang marc. Nampak sekali bagaimana perhatian kyuhyun kepada miyoung yang benar2 sangat tulus…

  3. Saya menangis lagi di part ini lol. Ah hal yg saya takutkan terjadi ㅠㅠ Miyoung kehilangan bayinya hueeee.. depresinya Miyoung itu ngena banget sumpah. Ah, mau komen apa ya? Sedih banget sih ya si Miyoung. Satu belom selesai, udah ada masalah lagi. Ayolah.. Siwon bangun dan kemudian rampungkan semua ini ㅠㅠ

  4. windy3288 says:

    yaaa ampun saking kehilangannya miyoung jadi berhalusinasi.. nah kan sekarang kelihatan yg bener bener tulus dan enggak.. dan kyu bener bener tulus terhadap miyoung..

    aku pikir jessi yg dicurigai miyoung ternyata vic..

    dan kapan siwon sadar.. aku pikir siwon bakalan sama vic agar memudahkan kyu dgn young..

  5. abellia cho^ says:

    OMG..kenapa bayi itu tiada sblm ia lahir pdhal ku brharp dgn adanya bayi itu membuat hubungn kyu & minyong smkin jelas..dn siwon akn sukarela meleps mrk untuk bahagia..
    tpi smua jauh dr prediksiku & entahlah hbungan mrk akn brakhir nantinya??!!
    rsa kehilngn bener2 menyakitkan namun dengn keikhlsan akn sedikit menyejukkan hati kita..

  6. Vic udah terlanjur sakit hati sama won
    Tapi dia tahu wos sangan menyayangi young. Dengan membunuh young tentu membuat won menderita.

    Alasan kyuhyun bertahan dengan young sudah hilang. Tapi aku masih berharap mereka bersama.

    Kasian young
    Aku sempet mikir marc ini won kecil. Tapi melihat kedatangan kyuhyun mempengaruhi kehadira marc di sekitar young ,aku mulai sadar itu calon putra mereka.

    Eonni 짱!

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s