Baby Brother


kyunie da pooh

Fanart’s credit: @dancingberry on askwonkyu.tumblr.com 

Baby Brother

Arsvio | Choi Siwon, Cho Kyuhyun featuring Kid!Won, Baby!Kyu | PG-15

 

“Choi Kyuhyun, kalau kau tidak membawa pantatmu ke ruanganku dalam waktu 20 menit,” aku menggerat gigiku dan menekan tinjuku di permukaan meja, “kupastikan menggeret Lamborghini terbarumu.” Telingaku dapat mendengar kebisingan dari seberang jaringan, yang kuduga adalah suara musik yang keras.

Oh, go ahead,” jawab Kyuhyun dengan santai.

Aku melirik arlojiku, menemukan waktu pertemuan dengan perwakilan dari Shwang semakin mepet. Mengerutkan keningku, aku menangkap bunyi bising lain, seakan Kyuhyun sedang berada di dalam mobil. “Di mana kau?”

Eum…” gumam Kyuhyun, “mengamankan Hummer-ku dari jangkauanmu?” ucapnya diakhiri nada tanya yang tidak tepat.

Memijat pelipis, aku memanjangkan napasku. Andai aku tidak terbiasa meladeni kebengalannya, sangat mungkin aku sudah terkena serangan jantung mendadak. “Kau tidak peduli dengan nasib mobil kesayanganmu?” pancingku.

Hurr…” ejek Kyuhyun, “kau masih menanyakan hal itu? Bagaimana jika aku menderek Audi favoritmu? Yang mungkin akan kau raungi karena bekasmu bercinta dengan tunanganmu ada di sana.”

“Choi—“ aku, lagi-lagi, menghela napas panjang untuk melebarkan kesabaranku. Mengurut belakang leherku, aku melirik asisten pribadiku yang menatapku dengan prihatin. Tidak mau kalah dengan sarkasme Kyuhyun, aku berucap, “Kalau begitu aku lebih memilih memesan puluhan Audi baru, yang membuatku memiliki alasan untuk mengulang-ulang sesion bercinta kami.”

You’re gross!”

You’re a cocky bastard!”

“Lagipula aku tidak pernah setuju untuk memakai jasa Shwang, bukan?”

“Dengan alasan bahwa kau tidak menyukai perwakilannya yang selalu mengibaskan poni lemparnya lima belas kali dalam semenit?” Aku harus memijit pelipisku saat Kyuhyun menolak kerja sama dengan Shwang karena alasan ini. Bocah itu, apa yang dia lakukan ketika meeting? Menghitung berapa kali orang dari Shwang mengibaskan poni? Ini benar-benar menggelikan!

Come on, Kyu, be realistic!” sentakku lelah. “Sejauh ini hanya Shwang yang memiliki standar kualitas bahan baku yang—“

“Kau tidak perlu mengulangnya dan membuat kupingku berdenging.”

“Kalau begitu berikan aku alasan logis mengapa kau menolak Shwang!” Aku melirik Hyukjae, PA-ku yang mengetuk jam tangannya untuk memberikan tanda bahwa aku hampir terlambat. “Kuberikan waktu hingga siang ini,” tekanku, “jika aku tidak melihat wajahmu di ruanganku, maka ucapkan selamat tinggal pada Lamborghini-mu!”

***

Aku membulatkan mulutku, lalu lebih meneleng kepalaku lagi untuk dapat melihat sosok mungil yang bersembunyi di belakang kaki eomma. Setelah eomma memanggilku tadi dengan nada ceria, lalu mengoceh, entah aku sebagian besar tidak memerhatikannya, eomma mengakhiri rentet katanya dengan, “Ini Kyuhyun, empat tahun, dan dia akan menjadi adikmu.”

“Ayo, Kyuhyun-ah, beri salam pada hyung-mu.” Eomma bergeser sehingga memperlihatkan sosok Kyuhyun untuk pertama kalinya.

Anak ini, ahem, Kyuhyun hanya berdiri mengatupkan bibirnya dengan rapat sambil mencengkeram salah satu ujung selimut bayinya yang bewarna biru laut di depan dada. Kedua matanya yang bulat, mirip mata rusa yang lucu, hanya memandangku dan eomma secara bergantian. Pipinya yang tembam, rasa-rasanya aku ingin mencubitnya. Rambutnya yang bewarna kecoklatan terlihat lebat dan halus.

Senyumku merekah, aku kemudian mengambil langkah mendekat dan mencondongkan tubuhku untuk menyamakan pandangku dengan Kyuhyun. “Anyyeong, Kyuhyun-ah. Kau bisa memanggilku Siwon-ie Hyung, arachi?”

Aku tidak mengerti bagian mana dari pengenalanku yang salah sehingga Kyuhyun memanyunkan bibir merah mudanya dan mengerutkan dahinya. Dia mundur selangkah seraya mencekal selimutnya seerat mungkin. Mendongakkan kepalanya ke arah eomma, aksinya malah membuat eomma tertawa renyah.

Uri Kyuhyun-ie is too shy,” ujar eomma-ku.

Oh, eomma memang terkadang menggunakan English. “Oo…” aku berjingkrak, kemudian membulatkan mulutku. “Kyunie, you’re so cute!” Aku menganjurkan kedua tanganku untuk mencubit kedua pipi tembam Kyuhyun.

Eugh…” walaupun Kyuhyun mengerutkan ekspresi wajahnya tanda tidak nyaman dengan perlakuanku, namun pipinya bersemu merah.

Mengingat permintaanku pada eomma untuk hadiah ulang tahunku beberapa hari lalu, “Eomma!” pekikku girang. “Did you just buy Kyuhyun-ie from that toy store?” tanyaku antusias yang ternyata hanya dijawab kekehan. You know, I ask eomma for a baby brother to be my birthday present. And this is great! I’ve never seen a very cute baby doll as Kyuhyun-ie before!

***

“Dari kerutan di wajahmu, kurasa ancamanmu tidak mempan.”

Sembari menyandarkan punggungku di sandaran kursi, aku mengurut pelipisku untuk menanggapi seloroh Hyukjae. “Berapa lama waktu hingga pertemuan dengan perwakilan Shwang?”

“Kau ingin menemui mereka secara pribadi untuk menyelamatkan pantat adikmu?”

Aku meletakkan kedua tanganku di tangan kursi dengan lesu. Memang seharusnya hal yang berkaitan dengan pengadaan bahan baku bagi pabrik otomotif Hyundai yang baru adalah tanggung jawab Kyuhyun, namun ketika bocah itu saat ini mangkir, apa boleh buat? Aku meneggakkan punggungku, “Hyuk, siapkan berkas yang diperlukan untuk pertemuan dengan Shwang.”

Tsk! Berhenti memanjakannya!” lantang Hyukjae. Jika bukan karena dia adalah temanku semenjak sekolah menengah, mungkin aku sudah memecatnya karena berani mengeraskan suaranya untuk melawanku. Akan tetapi Hyukjae sudah terlalu hafal dengan peringaiku maupun Kyuhyun.

“Suruh orang untuk mengambil Lamborghini dan koleksi wine-nya.”

Nah,” Hyukjae menekan tablet-nya, menenjemahkan perintahku dalam aksi. Dia dengan bersemangat menelpon, entah itu siapa, tapi kupikir adalah perusahaan derek atau asuransi. Sejak dari pertama bertemu, Hyukjae dan Kyuhyun memang tidak pernah akur.

***

Aku bersedekap, sedikit marah karena Kyunie menolak ciuman selamat malamku. Parahnya, eomma hanya tertawa kecil sambil membantu Kyunie menaiki ranjangnya. Nah, padahal Kyunie membiarkan eomma mencium kedua pipi tembamnya!

Well, Kyunie hampir tidak pernah bicara. Mungkinkah dia memang belum bisa bicara? Eomma hanya bilang itu dikarenakan Kyunie masih sedih karena kedua orang tuanya pergi ke surga. Oleh karenanya aku harus menjadi hyung yang baik baginya.

Be patient, Wonnie,” bisik eomma setelah menidurkan Kyunie. “How about a cookies for a kiss?” eomma mengedip sebelah matanya dan membuatku melongo.

“Kyunie loves cookies?”

He loves milk, too,” bisik eomma, “three spoons and half bottled of water,” eomma menegakkan tiga jarinya. “Now, go to bed.” Eomma menggandeng tanganku untuk keluar dari kamar Kyunie yang didominasi warna biru muda dengan gambar beruang pooh dan teman-temannya di dindingnya, seperti milik bayi laki-laki. He’s a baby after all.

…dan malam ini, lagi-lagi aku harus tidur dengan kegagalan mendapat ciuman dari Kyunie.

Urrghh…” aku menggeram ketika merasakan wajahku ditekan-tekan. “Eomma…let me sleep more…” Aku menggerakkan tanganku untuk mengusir sesuatu yang menekan pipiku. “Eomma…” rajukku sebelum membuka mata dengan malas karena tusuk-tusuk ringan di pipiku tidak menyerah.

Eh,” Aku turun dari ranjang, mengucek kedua mataku dan menyalakan lampu. “Kyunie?”

Kyunie berdiri di sisi ranjangku, menuduk sampil mengigit bibirnya. Tak lupa, dia mencengkeram selimut kesayangannya.

Waeyo?” tanyaku menghampirinya dan meletakkan sebelah tanganku di pundak mungilnya. Ketika Kyunie diam dan hidungku membau sesuatu, mataku melihat ke bawah, tepatnya ke celana Kyunie. “Eeehh?” teriakku, “you wetted your bed?”

Oh, sshh…sshh…it’s ok,” aku sedikit panik ketika keterkejutanku tadi membuat bibir Kyunie mencebik dan mencekung ke bawah, sementara matanya berair. “Come here with hyung,” ucapku sambil menggandeng tangan Kyunie.

Aku memanjat kursi dan mengambil celana kering bewarna biru laut milik Kyunie di tumpukkan baju kering di laundry. Membantu memelorotkan celana Kyunie, aku kemudian memasukkan celana kotornya ke dalam mesin cuci. Mengamati selimut Kyunie yang juga basah, aku lalu mengambilnya, namun Kyunie menahannya.

“Kyunie…” rengekku ketika dia tidak melepas cengkeramannya dari selimut yang menjadi benda kesayangannya. “Selimutmu basah dan bau!” tegasku yang dijawab gelengan oleh Kyunie. Aku bersedekap untuk berpikir. Jika aku memaksa, maka Kyunie akan menangis. Jika aku tidak mengambil selimutnya, maka benda itu akan sangat tidak higienis untuk Kyunie; seperti yang eomma bilang.

Ah!” aku beride.

Berlari kecil ke dapur, aku mendorong kursi untuk kupanjati. Tanganku memanjang menggapai botol susu Kyunie dan kaleng susunya. Mengingat ucapan eomma, aku memasukkan tiga sendok susu dan mengisi botol dengan air hangat hingga separuhnya. Aku menggoyang-goyang botol, seperti yang eomma lakukan ketika membuatkan susu untuk Kyunie. Sepertinya aku melewatkan sesuatu, tunggu… oh! Eomma juga menitikkan sedikit susu di punggung tangan untuk…untuk…ah! Mengetahui apakah air susunya terlalu panas!

“Kyunie, kau ingin susu?” aku menganjurkan botol susu di depan wajahnya untuk membujuknya melepas selimutnya. “Huh? Huh?”

Mata bulat Kyunie menatap susu di tanganku, lalu memandang selimutnya dan memandangku.

Aku menarik sebelah tangan Kyunie, “Ayo pegang susunya,” dan karena tangan Kyunie terlalu mungil, dia harus memegangi botol susu dengan kedua tangannya. Well, itu membuatku secara perlahan dapat menarik selimutnya karena cengkeraman Kyunie melemah.

Yay!” teriakku gembira saat berhasil menarik selimut Kyunie dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.  Tapi ketika aku menoleh lagi, bibir Kyunie telah benar-benar mencekung ke bawah dan matanya membentuk bulan sabit. “Ooohhh…” kurasa dia ingin menangisi selimutnya.

Aku dengan cepat mengambil botol susu di tangannya, kemudian memasukkan dot susu ke mulutnya. Kupikir tindakanku berhasil karena perlahan bibir Kyunie mulai bergerak menghisap ujung dot dan kedua tangan mungilnya menyusul tanganku untuk menyangga sisi dot. “Good baby,” ucapku sambil mengusap puncak kepalanya.

Setelah membasuh tangan dan kaki Kyunie, juga membantunya bercelana, aku membimbingnya kembali ke kamarku. Tentu karena ranjang Kyunie basah, jadi dia tidak bisa menidurinya. “Up…up…” aku mendorong pantat Kyunie agar dia naik ke ranjangku.

Aku membenahi bantal dan menarik selimut. Sebelum aku tidur, aku menepuk-nepuk ringan pantat Kyunie, seperti yang eomma lakukan ketika menidurkan Kyunie. “Good night, Kyunie. Sleep well,” aku menguap, “and don’t wet the bed again.” Kali ini aku mencium pipi Kyunie yang seperti kue bakpao dan dia tidak menolaknya!

But in the morning

Eomma… it’s not me wetting my bed…” tangisku ketika menjumpai ranjangku yang basah.

***

Aku membolak-balik berkas proposal milik Shwang, dan belum menemukan kesalahan berarti. Meskipun Kyuhyun memberikanku alasan tak masuk akal, namun aku tahu sebengal-bengalnya dia, dia tidak pernah menyepelekan pekerjaan.

“Berapa kali pun kau memeriksa proposal itu dan berapa lama pun kau memandangnya,” Hyukjae mulai angkat bicara karena terganggu dengan tindakanku, “kau tidak akan menemui kesalahan berarti. Proyek itu sempurna.”

“Aku hanya belum menemukan alasan Kyuhyun menolaknya,” aku menggarisi beberapa kata untuk menandai.

That brat!” umpat Hyukjae yang kutahu juga kesal dengan sikap Kyuhyun. “Dia hanya menguji kewarasan kita!”

Meletakkan penaku, aku mencopot kaca mataku. “Mungkin benar,” aku menghela napas, “tapi setahuku Kyuhyun tidak pernah setengah hati menangani sesuatu.”

“Mungkin dia sedang mengalami pubertas atau apalah itu,” Hyukjae mengibas tangannya tanda tak peduli, “kemudian berulah untuk menunjukkan bahwa dirinya berpotensi mengacaukan proyek besar ini.”

Aku mengerutkan kening, “untuk apa?”

“Seperti yang kukatakan, pubertas,” Hyukjae membuat garis horizontal di udara dengan telunjuk, “mencari jati diri. Dia ingin membuktikan sejauh mana kemampuannya di perusahaan ini.”

“Dengan mengacaukan proyek ini?” tanyaku ragu, “tidak masuk akal,” aku menggeleng.

“Dia hanya ingin menguji seberapa besar pengaruh absensinya,” sangkal Hyukjae. “Jika proyek ini gagal dan mendatangkan kerugian besar, maka dia boleh menyombong bahwa dia memegang kendali penting di perusahaan.”

“Pertama,” aku menegakkan telunjukku, “Kyuhyun bukan teenager dalam masa pubertas. Dia seorang pria dewasa saat ini. Kedua,” aku menambah menegakkan jari tengah, “Tanpa dia bertingkah, aku yakin dia menyadari posisinya sebagai general manager adalah posisi strategis dalam perusahaan.”

“Tapi—“

“Ketiga, jika kau tidak memiliki gagasan yang masuk akal, bisakah membawakanku seluruh berkas milik Shwang dalam kerja sama dengan Hyundai sebelum ini?”

Hyukjae bermuka masam, namun tetap berdiri.

“Dan,” panggilku pada Hyukjae, “tolong carikan aku historis Shwang.”

***

This is my baby brother Kyunie,” aku mengangkat tangan Kyuhyun untuk mengenalkannya pada teman-teman sepermainanku, “He’s five!” rampungku dengan bangga. Telingaku mendengar nada heran serentak teman-temanku.

Woo, dia sangat lucu,” ucap seorang temanku.

Akan tetapi, seperti pertama berjumpa denganku, Kyunie mundur selangkah, menyipitkan matanya, mencebikkan bibirnya, dan mencekal erat selimut favoritnya. Oh my…oh my…Kyunie selalu membawa selimut itu kemana pun, dan eomma masih berusaha membujuknya untuk melepaskan selimut itu. Eomma bilang minggu depan Kyunie akan masuk sekolah karena itu dia tidak bisa membawa selimut kesayangannya setiap waktu! Itu membuatku semakin senang karena taman kanak-kanak berada tepat di sebelah sekolahku.

Ehh?” temanku bernama Donghae menegakkan badanya setelah sebelumnya ingin mencubit pipi Kyunie. “Dia tidak menyukaiku, huh?” tanyanya sambil bersedekap dan memajukan bibirnya.

Eum,” aku menaruh telunjuk di pipiku, “kurasa Kyunie hanya malu, Hae.” Di rumah pun, Kyunie tidak berbicara, hanya bermain dengan boneka beruang pooh, piglet dan kereta mini. Bahkan dia belum pernah memanggilku Siwon-ie hyung, dan itu membuatku sedih.

Kyunie hanya duduk di bawah pohon dengan selimutnya selama aku bermain kejar-kejaran dan pesawat kertas dengan teman-temanku. Hey! Aku sudah mengajaknya ikut serta namun dia menggeleng cepat. Daripada dia menangis, membuatku merasa buruk sebagai hyung, aku membiarkannya duduk di sana. Sepertinya Kyunie masih terlalu malu untuk bermain. Mungkin jika sudah terbiasa, dia akan tertarik bermain bersama kami suatu hari nanti.

Aku yang sedang berlari untuk berusaha menerbangkan layang-layang berhenti tiba-tiba ketika ekor mataku menangkap keributan kecil Kyunie dengan… Hae? Mengabaikan layang-layangku, aku berlari menghampiri keduanya yang terlibat adu tarik selimut Kyunie. Tapi sebelum aku sampai di tempat, Kyunie telah terjatuh ke belakang.

“Hae!”

“Hae hanya ingin melihat selimutnya!” ucap pembelaan Donghae yang matanya mulai berair ketika mendengar Kyunie menangis kencang.

Sshh…” Aku membantu Kyunie bangun dan memeriksa luka-lukanya. “You’re ok, Kyunie. Don’t cry anymore. Hyung’s here.” Aku menepuk-nepuk tubuh Kyunie untuk membersihkan debu-debu yang menempel.

“Ini,” Donghae mendekat dan mengulurkan selimut Kyunie dengan wajah yang memerah. “Hae is sorry, Kyunie.” Dia sesenggukan sebelum ikut menangis bersama Kyunie.

“Hae, jangan menangis! Kau seorang hyung!” ucapku menepuk-nepuk pundak Donghae, yang sayangnya malah membuatnya bertambah keras menangis, sementara Kyunie sendiri tiba-tiba diam. Mungkin Kyunie heran dengan kencangnya suara tangis Hae.

***

Aku melemparkan berkas laporan kerja sama Shwang dan Hyundai ke meja. Mendorong punggungku ke belakang, aku menyandarkannya melawan punggung kursi. Ini benar-benar tidak kumengerti. Tidak ada yang salah dengan detail kerja sama itu. Shwang selalu memberikan yang terbaik hingga kini. Aku memejamkan mata, lalu memijat pelipisku.

Boss, kurasa kau perlu melihat ini,” panggil Hyukjae yang membuatku membuka mata karena sapaan ejekannya.

Aku menerima laporan, bukan, namun sebuah foto harian surat kabar. Agaknya Hyukjae mendapatkannya dari perpustakaan kota karena melihat warna kertasnya, koran ini sudah berumur. Melihat judul artikelnya, aku mengerutkan dahiku dan memandang Hyukjae.

“Bacalah, mungkin ini akan membantumu memahami adik brengsekmu.”

Aku menuruti perintah Hyukjae. Mataku bergerak menelusuri informasi mengenai kecelakaan tunggal mobil yang ditumpangi Cho Joowon beserta istrinya Cho Hana. Mobil itu terbalik dan terbakar, membakar hidup-hidup suami istri tersebut. Penyebabnya diduga ada kesalahan pada mesin dan rem mobil.  Berita ini menjadi headline karena Cho Joowon baru saja menandatangani kontrak kerja sama bersama Daewoo Grup bernilai jutaan dolar.

Meletakkan tablet milik Hyukjae, aku berpikir mengenai tragedi ini. Hal yang kutahu, sepasang suami istri itu adalah orang tua kandung Kyuhyun. Semenjak Kyuhyun diadopsi oleh orang tuaku, kami sekeluarga tidak pernah menyinggung detail musibah yang menimpa keluarga Cho. Bukannya kami ingin menghindar, namun Kyuhyun masih terlalu kecil saat itu, dan kami lebih memilih menganggap musibah ini adalah mimpi buruk saja. Hal yang terpenting adalah ketika Kyuhyun bangun, dia tetap merasa terlindungi dalam naungan keluarga; terlepas dari keluarga angkat atau kandung.

Bagiku, aku memilih mengabaikannya…

“Aku sudah mengkonfirmasi ke Daewoo Grup,” ucap Hyukjae, “Gee! Untungnya kau berteman akrab dengan pewaris Daewoo sehingga mau membantuku mengobrak-abrik dokumen lama Daewoo.”

“Kau menemui Hae?”

Hyukjae mengangkat kedua bahunya. “Kau tahu kan bahwa Cho Joowon termasuk lima orang pemegang saham terbesar, sekaligus pendiri Dasoon, Ltd?”

Dari beberapa artikel yang kubaca, aku mengangguk untuk menjawab. Ayah Kyuhyun dulunya adalah salah seorang dari pemilik Dasoon, Ltd. Kini tidak ada lagi Dasoon karena perusahaan itu mengganti namanya menjadi Shwang.

“Setelah kematian Joowon, Dasoon tetap melanjutkan kerja samanya dengan Daewoo. Pemegang kekuasaan Dasoon yang baru sedikit mengubah isi kontrak kerja sama, namun itu tidak masalah karena kerja sama ini mendulang sukses besar.”

Aku menyimak penuturan Hyukjae. Kerja sama yang dia bicarakan terjadi sekitar 23 tahun lalu sehingga praktis aku tidak mem-follow-up berita ini.

“Dua tahun kemudian Daewoo memutuskan kerja sama ini secara sepihak akibat dampak lingkungan yang diakibatkan dari limbah pabrik Dasoon. Pemutusan perjanjian secara sepihak ini membuat Dasoon hampir bangkrut, lalu perusahaan ini berganti nama menjadi Shwang.”

“Lalu apa hubungannya semua ini dengan Kyuhyun selain bahwa ayah kandung Kyuhyun adalah CEO Dasoon terdahulu?”

“Kudeta,” jawab singkat Hyukjae yang membuat telingaku berdenging.

Aku menyambar ponselku, menekan angka 7 dalam speed dial, angka favorit Kyuhyun. “Kau dimana?” tanyaku ketika panggilanku terhubung.

I’m giving you the honor to guess where I am.”

Mendengar suara berisik, seperti bising keributan angin, aku menebak tempat yang dikunjungi Kyuhyun adalah pantai. “No matter where you are, get your fatty ass out of there,” perintahku tanpa menaikkan suara, “My office now.”

Kyuhyun tertawa kecil, “Kau masih tidak mengerti dimana aku, huh?”

“Aku tidak ingin bermain-main, Kyuhyun-ah.

“Kau sendiri yang bilang aku bisa mengunjungi tempat ini kapan pun.”

Aku benar-benar tidak mendapatkan petunjuk, juga tidak mengerti ucapan Kyuhyun. “Jika kau ingin menghormati hari ini, kembali ke rumah dan peringati hari ini dengan tata cara yang terbaik.” Mungkin Kyuhyun sedang memperingati hari kematian kedua orang tuanya yang jatuh pada hari ini.

“Untuk apa Hyung?”

Ne?”

“Aku bahkan hampir tidak mengenali mereka. Jadi untuk apa aku memperingati hari ini, huh?” sarkasme Kyuhyun.

“Choi Kyuhyun…” panggilku dengan nada memperingatkan.

“Lihat, bahkan kau sendiri mengakuiku sebagai seorang Choi.”

Yeah, you are!”

“Dua puluh dua tahun, Hyung,” suara Kyuhyun merendah, “dua puluh dua tahun aku menyandang marga Choi. Jauh lebih lama dibanding sekadar empat tahun menyandang marga Cho. Dan yang kuherankan, bagaimana ternyata empat tahun itu mampu membuat luka dan mendidihkan emosiku.”

“Kyuhyun-ah…” Sekarang aku menjadi jelas mengapa Kyuhyun menolak kerja sama Shwang. Kudeta yang Hyukjae sampaikan lebih bermakna perebutan kekuasaan di tubuh Shwang, yang tanpa otak pintar, siapa pun akan berkesimpulan bahwa kecelakaan Cho Joowon adalah kesengajaan pemimpin Shwang terdahulu.

“Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara memperingati kematian mereka. Harus kutaruh dimana bunga yang kubawa untuk mereka, huh?”

Aku merasakan desir perih di dadaku. Kenyataan bahwa kedua tubuh orang tua Kyuhyun terpanggang habis bersama mobil mereka, membuat keduanya tidak mendapat tempat pemakaman yang selayaknya. Mungkin, sangat mungkin, abu mereka diletakkan di rumah pemakaman, namun bahkan kita tahu abu tersebut entah abu apa; tercampur antara abu keduanya dan bangkai mobil.

“Kau selalu mengabaikannya, kan?” tanya Kyuhyun. “I’m a Cho, Hyung! I’m a Cho!” teriaknya.

Aku diam, ikut meresapi emosi Kyuhyun, dalam hati membenarkan ucapannya. Bahwa aku tidak pernah mengindahkan identitasnya sebenenarnya, sederhana saja, dia adikku. “As simply as it is, you’re Kyuhyun, you’re Kyunie, and you’re my brother.

I—“ ucapan Kyuhyun terhenti begitu saja. “How could you say that? You don’t even know where I am!”

Aku mengadu alisku, kemudian menajamkan telingaku untuk mencari petunjuk. Ketika telingaku menangkap kicau beragam burung, aku tahu tebakkan pertamaku salah. “Yongsan…” lirihku. Kyuhyun tidak berada di pantai, melainkan di dataran cukup tinggi sehingga angin bertiup cukup kencang. Yongsan, tempat masa kecil kami sebelum pindah ke Seoul.

I…” rintih Kyuhyun, “save me, Hyung. I’m bleeding inside and your pooh band aid didn’t work.

Aku memejamkan mataku. Mendengar suara pecah Kyuhyun bukanlah hal yang menyenangkanku. Terlebih, aku terbiasa mendengar sarkasme dan komentar pedasnya daripada suara pasrahnya.

***

Ta-da!” aku memekik riang, menunjukkan plester bergambar Winnie the pooh pada Kyunie. Well, Kyunie dan Hae lagi-lagi berebut mainan dan berakhir dengan Kyunie yang terguling ke tanah. “Let Hyung help you Kyunie,” ucapku sambil merekatkan plester tersebut di lutut Kyunie yang berdarah. “Look, it’s cute, isn’t it?”

Menganjurkan tanganku, aku mengusap air mata Kyunie. Pundaknya masih tersengal naik turun, walaupun tangisnya sudah mereda. “Jangan menagis Kyunie. Lukamu  tidak lagi berdarah, kan? Lihat…lihat…” tunjukku pada plester bewarna biru di lutut Kyunie.

Kami masih berada di tempat biasanya aku dan beberapa temanku bermain. Saat ini tinggal aku dan Kyunie karena temanku yang lain sudah pulang. Tempat ini sangat menyenangkan. Ada pohon besar di sisi lapangan, tempat aku dan Kyunie duduk di bawahnya sekarang. Dari sini, kita bisa mengamati rumah-rumah di bawah. Pagar pembatas di depan kami dibuat sangat tinggi sehingga aku tidak takut Kyunie akan jatuh ke bawah jika bermain di dekat sini.

Now, say Siii-Wooon-iee Hyuuung,” aku mengucapkan suku kata namaku dengan hati-hati agar Kyunie menirukannya. Dia sudah masuk sekolah taman kanak-kanak, meski baru beberapa hari, tapi masih enggan berbicara. “Say Siii…Wooon….ieee…Hyuung,” ulangku lagi.

Tapi Kyuhyun hanya melihatku dengan ekspresi tertekuk; bibir manyun dan mata menyipit. Mungkin dia masih kesal karena lututnya terluka, sementara tangan beruang pooh yang diperebutkannya dengan Hae tadi putus.

Heih,” aku menggeleng karena agaknya usahaku akan gagal lagi. Mengaduk tasku, aku melebarkan senyum ketika mendapati cookies yang dibuatkan eomma. Kuambil satu cookies, kemudian kupamerkan kepada Kyunie. “Jika kau memanggilku Siwon-ie Hyung, aku akan memberikan cookies ini.”

Mata Kyunie melebar, sedangkan jemari mungilnya bergerak-gerak. Dia terlihat berpikir ketika dahinya berkerut samar.

“Katakan Siii…Wooon….ieee…Hyuung…” ulangku lagi.

Bibir Kyunie bergerak, meringis, membulat, kemudian mengerucut.

What?” tanyaku yang tidak mendengar bunyi apa pun keluar dari mulut Kyunie.

Iii…” Kyunie lagi-lagi meringis, namun kali ini dia disertai bunyi lirih. Sangat lirih hingga aku harus mendekatkan telingaku ke mulutnya. “Ooo….” Dia membulatkan mulutnya, “uuu…” diakhiri mengerucutkan mulutnya.

Aku menegakkan tubuhku dan berpikir, “What did you say?” tanyaku.

Kyunie mencebikkan bibirnya, lalu melipat tangannya dengan ekspresi marah.

Ah! Siwon Hyung!” tabakku pada ucapan Kyunie, “rite, rite?” Aku menganjurkan tanganku untuk mengusap pipi Kyunie, “I’ll give you this cookie even you didn’t say my name properly yet. You know, you’re just so so so cute!”

Kyunie menerima cookie yang keberikan, lalu memakannya dengan lahap. Bahkan sepertinya dia lupa boneka beruang poohnya yang rusak dan luka di lututnya. Matanya yang melengkung membentuk bulan sabit dan senyumnya… Dia sungguh mudah tergoda dengan cookies. Mungkin lain kali aku akan menggunakan trik ini lagi untuk memintanya melakukan sesuatu. You’re smart, Choi Siwon!

Uung, moe!” lirih Kyunie sambil membuka kedua tangannya kepadaku. Menginginkan lagi cookies, mungkin maksudnya ‘Hyung, more.”

***

Aku menarik dasi yang rasa-rasanya mencekikku seharian ini. Setelah bertemu dengan pihak Shwang, membatalkan proyek dengan sedikit mempermalukan mereka dengan cemoohan, aku tidak berharap kepalaku tidak berdenyut. Jangan tanya alasannya, tentu saja karena aku baru saja kehilangan proyek jutaan dolar. Selain itu, Hyundai harus bersiap diri bermusuhan dengan Shwang untuk waktu ke depan.

Aku mengernyit ketika mendapati suasana sepi di rumah. Biasanya eomma selalu menyambutku, jika beliau tidak disibukkan dengan acaranya. Mengabaikan kesepian ini, aku naik ke atas untuk menuju kamar.

You were crying a lot over this baby blanket back then.”

Kakiku terhenti di depan kamar Kyuhyun ketika kutangkap suara eomma. Aku mendorong pintu kamar Kyuhyun yang tidak tertutup rapat. There he is, my baby brother! Dia membaringkan kepalanya di pangkuan eomma dengan alas selimut bayi bewarna biru muda, yang kuingat bergambar Winnie the pooh. Berjalan mendekat, aku menganjurkan tanganku untuk mengelus perut Kyuhyun. “Hi brat,” sapaku.

“Wonnie…” ringis eomma memperingatkan sapaku pada Kyuhyun.

How’s your day, Eomma?” aku mencium kening eomma untuk memberikan sapaan.

Great,” jawab singkat eomma sambil tersenyum.

Aku mengambil tempat duduk di sisi eomma, di sisi berlainan dari Kyuhyun.

Bring back my Lamborghini and wines!” Kyuhyun mendongakkan kepalanya, tidak bangun dari pangkuan eomma.

Promise me to double work off your ass,” aku menggunakan kepalan tangan untuk menyangga kepalaku sementara tubuhku miring ke sisi Kyuhyun.

How can?” protes Kyuhyun.

“Kau membuatku kehilangan jutaan dolar dalam waktu lima menit, dan reaksimu hanya ‘how can’?” cemoohku.

Kyuhyun masih enggan bangun dari pangkuan eomma, hanya semakin mendongakkan kepalanya. “You’ve rejected Shwang, haven’t you?” mata Kyuhyun membulat sempurna.

I’m offended by your reaction,” Aku mendengus untuk mengejek.

Kyuhyun seharusnya tidak perlu kaget akan keputusanku atas Shwang. Dia tahu, arti dirinya bagiku melebihi apa pun. Jangankan kali ini hanya sebuah proyek.

I—“ Kyuhyun memiringkan badannya, mengarahkan wajahnya ke perut eomma, “I’m sorry, Hyung.”

Eomma dan aku berbagi senyum, sebelum jemari eomma menyisir rambut Kyuhyun. Melihat selimut kenangan Kyuhyun, agaknya beliau berbagi mengenai kisah kecil kami kepada Kyuhyun. “Don’t worry, Sweetheart. I know you’ll work it out, you always be, rite?”

Tidak eomma, tidak appa, kami sekeluarga memanjakannya. Appa memang disiplin dengan kebengalan Kyuhyun. Tapi percaya atau tidak, beliau tertawa terkekeh-kekeh setelah memarahi Kyuhyun karena bocah ini mengumpati salah seorang dewan direksi di rapat direksi. Kata appa setelah Kyuhyun tidak di hadapannya, tentu saja, “Itulah putraku, sedikit liar dan bengal! He’s a man after all!”

Don’t be,” Aku menjitak ubun-ubun Kyuhyun. “Kau hanya perlu bekerja keras untuk mengembalikan kerugian proyek ini. Setelahnya, kau bisa mendapatkan lagi Lamborghini-mu.” Aku menyelipkan tanganku ke dada Kyuhyun dan mengusapnya, “We love you, Kyunie, always have,” aku berbisik di atas kepalanya, “because we’re your family, my baby brother.” Kukecup puncak kepalanya untuk meyakinkannya bahwa dia adalah bagian keluarga ini, bahwa dia diinginkan dalam keluarga ini.

Kyuhyun diam sejenak, sebelum menjawab dengan ringan, “I know,” pongahnya.

Aku menegakkan punggungku dan tersenyum lebar, “You’re a cocky badass!” Lagi-lagi, aku menjitak ubun-ubun Kyuhyun, kali ini agak keras hingga membuatnya merengek.

Ah, hyung…” Dia mendongakkan kepala dan menatapku dengan masam sambil sebelah telapak tangannya menutup ubun-ubunnya yang kujitak.

“Wonnie…” eomma menyentuh lenganku agar aku mengalah.

What?” sahutku, “He’s indeed a badass, eomma.”

But this badass is you brother, and you love him, yes?”

Fortunately, yes, eomma,”

Then treat me nicely!”

I treat you well!”

But you just hit me!”

You deserved it, baby badass!”

END*

 

Note:

Aku hanya ingin membuat ff ringan, sebagai selingan BTBE. Dan jadilah oneshot pendek ini. Lebih panjang dari drable, namun lebih pendek dari biasanya kubuat oneshot.

 

 

90 thoughts on “Baby Brother

  1. shino says:

    Sukaaa sama ceritanyaaaa~~ penggambaran kyuhyun sama siwon kecil disini imut bgt.. jadi ngebayangin sekucel apa itu selimut kyuhyun kkkk~
    Tapi suka bgt sama karakter siwon. kaka idaman bgt haaaa~~

  2. Bagian Hae nangisin Kyu, eh tp malah jadi dia yg nangis lebih keras aku ngakak sendiri hehe *padahal baca dikereta* :v
    Sumpah aku suka banget sama jalan ceritanya, no romance but… Ah pokoknya gak bisa dijelaskan dengan kata kata. aku baru baca yg BTBE ampe chap 6 *karna kendala pw blm baca chap 7 hehe*, disitu siwonnya nyebelin banget *menurut aku*, but in here~~~ omg omg, dia sweet banget❤
    Dan Kyu nya astaga unyu level maximal :*
    Agak nyesel kenapa baru terdampar di sini skrg hihi.
    Keep writing authornim^^

  3. saraaahhhh says:

    Aahh finally aku baca ff kakak lagi, setelah sekian lama hiatus dalam dunia perbacaan ff (halahh bahasanya)
    Mau baca yg oneshoot ato gak drabble dulu nih kak sebagai permulaan comeback hahahayy
    Ff nya ringan as i like, cuma rada bingung aja tadi diawal pas part flashbacknya. Tapi lama kelamaan udh gak lagi kok.
    Semangatt terus kak. Fighting!

  4. nayla says:

    ya ampun ceritanya imut banget…
    ini bener-bener sama kaya yang aku bayangi selama ini. tokohnya real banget. keke
    ngebayangin kyuhyun yang ngompol terus di ganti celananya sama siwon. dan itu selimut pooh y. g kebayang.
    lucu banget… banget…banget…. banget….
    aku juga suka pas donghae nagis gara-gara ngambil selimut pooh kesayangan kyu.
    aduh, lucu banget….

  5. milia says:

    Waw, kerennnnn. Ini kaya ke pribadian siwon sm kyuhyun banget hahahaaa.
    Siwon kamu sayang sekali sama kyuhyun, jadi iri.

  6. azulla lim says:

    Sama kek siwon oppa pasti gemess bin gregetan sm klakuan si unyu itu tuh!
    Crita masa kecil mereka lbh ngegemesin tpnyaa, bayangin pipinya kyu yg kek bakpow itu ya amypuuun >< tp jailnya tetep yee bawaan lahir itu mah ;D
    nice story mbaaaa ^^d

  7. eyl says:

    omg im super late to find this pic
    i always find siwon and kyuhyun r adorable as brothers and you did it very well thankyou!
    i love this fic, the sugar level is perfect
    hope you gonna post this brothership fic like this again
    looking forward for ur next ff with siwon as the main cast of course :p

  8. baby brother? how sweet this fic!😀
    makin sering baca dan liat semua ttg KyuWon malah makin suka wkwkwk
    bukan maksud ngebedain member suju ataupun KyuMin shipp sih, hanya kesukaan tiap org yang berbeda2❤
    disini kerasa bgt manjanya Kyu ke Siwon. gimana Kyu dimanjain bgt sama keluarga Choi.
    judulnya sih gak nyangka aja bisa kyk gini jalan ceritanya. lucu onn😀
    sering2 deh buat kek beginian onn, semangat! keep writing! ^^9

  9. nana says:

    oh-oh eonni aku suka banget ceritanya❤
    aku pikir habis aku hiatus trus ada btbe waktu buka blog ini lagi tapi ini juga gpp ^_^, cerita nya gag berat2 banget tapi ngena dihati,. jadi pengen punya saudara kayak siwon sayang banget dia sama adiknya, ini ada hubungannya kah eonni dg oneshoot siwon yang sebelumnya? kayak berhubungan soalnya kekkekk

  10. beneran cute pke banget…Siwon dsni baik n sayang banget sma kyu…cerita masa kecil mereka sweet bnget,,kluarga choi emang baik walaupun kyu cma anak angkat tpi mereka gag pernah ngebeda2in…pokonya sweet pke banget eon…

  11. za says:

    Kira awalnya ada hub dg crt mereka yg guy itu, rpanya sambungn crt salvation ya?
    Pngn jg yg crt awal hub Siwon dg tunangannya🙂
    Crtnya lucuuu…Kira ada foto beneran Kyu kecil pke selimut..
    Great job, kak🙂

  12. ya ampun.
    saat baca yg masa kecil. siwon bnr2 sayang dan benar2 ingin menjadi.good brother buat kyuhyun. kurasa kyuhyun kecil jarang bicara karna trauma. sebenernya aku berharap saat siwon minta kyuhyun manggil siwonie hyung, kyuhyun bicara dg jelas dan siwon sampe terperangah. tp yah iiiee ooo uuu yg kyuhyun ucapkan lumayan lh.

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s