Behind Those Beautiful Eyes [17: End]


BTBE end_

Behind Those Beautiful Eyes [17: End]

Arsvio | Tiffany Hwang Miyoung, Cho Kyuhyun, Choi Siwon | PG-13 | Vanilla Twilight (By Owl City)

Resolution

 

Jemariku saling meremas dengan gelisah, sementara mataku mengamati sosok eomma di sampingku yang berwajah pucat. Kakakku berdiri di depat pintu ruang operasi, yang lampunya masih menyala merah, dengan wajahnya mengejur. Mengangkat tanganku, aku merangkul pundak eomma dan meremasnya untuk memberikan dorongan sekaligus membenamkan kegelisahanku.

Aku mengangkat pandanganku, mengamati Siwon yang bergeming di tempatnya berdiri. Dua tahun belakangan yang membuat hidupnya terbolak-balik. Dia masih Siwon yang sama; Siwon yang bersikap angkuh dan dingin terhadapku—dan aku bisa menerimanya. Hanya saja, jarak yang dia jaga denganku semakin lebar.

Setelah siuman dari tidur panjangnya dua tahun lalu, Siwon membutuhkan waktu lebih dari dua bulan untuk penyembuhan. Mungkin karena alasan absensinya yang lama, dia dicopot dari kedudukannya sebagai co-chef financial officer di Samsung, atau mungkin karena alasan lain. Dia masih bekerja di Samsung, namun bukan lagi di posisi elite atas, melainkan bagian frontliner. Dari dulu dia workaholic, namun jika dulu masih terdapat semangat di matanya, kini semangat itu terganti hanya dengan ambisi.

Semenjak Kyuhyun pergi, aku kembali ke rumah keluarga Choi. Selain karena alasan sentimental, juga karena di rumah itu ada kakakku. Meskipun Siwon tidak menolak berinteraksi denganku—searah tentu saja, namun dia juga tidak mengindahkannya. Dia hanya bergumam, mengangguk, atau pun mengucapkan kosa kata pendek lainnya jika aku bertanya—dan aku bisa memakluminya.

Songsaenim…” pekik halus eomma menyentak lamunanku. Beliau berdiri dan setengah berlari mendekati dokter Kim yang muncul di depan pintu operasi. Mengekor eomma, aku ikut menyimak dengan perasaan was-was.

“Operasi Tuan Choi berhasil. Jangan khawatir, dalam 2-3 hari beliau akan pulih.” Dokter Kim mengangguk singkat sebelum undur diri.

Pagi ini abeoji ditemukan tak sadarkan diri di sel tahanannya sehingga langsung di bawa ke rumah sakit militer terdekat. Diagnosis awal adalah penyempitan pembuluh darah.

“Aku akan bicara dengan Kim Songsaenim,” ujar singkat Siwon sebelum berlalu—seperti biasa, dengan wajah kaku.

Tersenyum kecil, aku mengusap punggung eomma. “Kita tunggu hingga abeoji dipindahkan di ruang inap.”

#

Aku memandangi abeoji yang membuka kelopak matanya dengan lambat. Merapat ke sisi ranjang, aku meletakkan kedua tanganku di masing-masing pundak eomma yang terduduk di sebelah ranjang. Sekian tahun menjadi keluarga, baru kali ini aku merasakan memiliki ayah dan ibu secara utuh. Dimana ketika ayah sakit, ibu dan aku ada di sampingnya.

Yeobo…” lirih eomma memanggil abeoji.

Menoleh ke samping dengan pelan, abeoji berusaha membalas sapaan eomma dengan menggerakkan mulutnya, yang mungkin masih terasa kejur. Beliau menatap eomma, menatapku, kemudian menelengkan kepala ke arah lain; agaknya mencari sosok kakakku.

“Siwon-ie sedang menemui Kim Songsaenim,” jawab eomma tanpa diminta.

Abeoji mengangguk, kemudian mengangkat sebelah tangannya yang tidak tergenggam oleh eomma dan mengarahkannya padaku. “Youngie…” lirih beliau yang hampir tak terdengar.

Menyambut tangan abeoji, aku meremas jemari beliau sambil meletakkan tangan beliau di atas perutnya.

Berpaling padaku, eomma berdiri dari duduknya. “Agaknya abeoji-mu ingin bicara denganmu.” Menepuk pundakku, eomma keluar meninggalkan kami berdua. Bukannya eomma merasa tersisih, mungkin beliau memberikan waktu berkualitas bagiku dan abeoji karena selama ini menemui beliau dengan batasan tempat dan waktu sangat tidak cukup.

“Siwon-ie?” tanya abeoji, yang kutahu tidak semata menanyakan keberadaan Siwon, melainkan juga kehidupannya sekarang.

Siwon—boleh dikata, sangat jarang menjenguk abeoji di tahanan. Mungkin dia belum siap menemui abeoji, mungkin juga dia masih menyalahkan abeoji atas kehidupan yang dia jalani sekarang.

Aku menarik bibirku datar sambil menepuk ringan punggung tangan ayahku. “Siwon Oppa, hanya masalah waktu baginya untuk menerima keadaan yang menimpanya. Dia masih berusaha menata kembali kehidupan dan rutinitasnya.”

Abeoji memejamkan matanya sejenak, sebelum membukanya kembali dengan raut bersalah. “Aku…yang bersalah…” sesal abeoji dengan suara yang tersendat, bukan hanya karena penyesalan, tapi juga karena kondisinya.

Abeoji, saat ini tidak ada gunanya menyesali apa yang terjadi di masa lalu.” Mungkin benar bahwa pilihan Siwon menjadi gay salah satunya karena andil sikap abeoji yang tak acuh di masa kecilnya. “Apa yang dibutuhkan oppa sekarang adalah dukungan dari abeoji—apa pun pilihan jalan hidupnya.”

Abeoji mengangguk, “Salinglah menjaga karena aku tidak bisa lebih bangga memiliki kalian.”

#

Gamsahammida, Ahjussi,” aku mengangguk singkat kepada seorang kolega abeoji yang kukenal, yang membantuku untuk dapat bertemu secara personal dengan Victoria.

“Jika terjadi sesuatu, petugas ada di depan pintu, Youngie,” pesan beliau sebelum meninggalkanku di sebuah ruangan—yang sepertinya merupakan ruang interograsi.

“Jadi sekarang kau menggunakan relasi orang dalam untuk sekadar menemuiku?” sindir Victoria yang telah duduk di salah satu kursi yang saling berhadapan—dengan penengah berupa meja. Dia divonis penjara karena terbukti bersalah membunuh seorang detektif, melukai beberapa orang—termasuk aku, dan akan melakukan pembunuhan berencana.

Aku mengabaikan sinisme Victoria, kemudian mengambil tempat duduk di depannya. Diriku sendiri terbebas dari jerat hukum karena tindakanku diputuskan sebagai pembelaan diri—persis seperti yang kualami ketika masih muda dalam kasus ayah tiriku.

“Jadi apa yang membuat putri Choi Sang Hoon yang terhormat menemuiku?” Victoria menyeringai, berlaku angkuh. “Mengais kabar tentang suaminya yang meninggalkannya, huh?”

Aku mengepalkan tanganku untuk menguasai diri. Agaknya waktu 2 tahun belum menguragi kesintingannya. Ini pertama kalinya aku mengunjungi Victoria, dan aku ingin kunjungan ini juga menjadi yang terakhir kali. Itu mengapa aku meminta bantuan rekan ayah untuk menemuinya secara pribadi, agar mendapat keleluasaan waktu dan tempat. “Kau masih sama.”

Victoria mendorong punggungnya hingga menyandar, lalu bersedekap. “Kau berharap tempat ini menguburku?” lagi-lagi dia menyeriangai, yang membuatku ingin menghapus kesombongan itu dari wajahnya. “Oh, dan bagaimana kabar lelakiku, yang—“ dia mengangkat sebelah tangannya untuk melecehkan, “ugh, akhirnya mengakui dirinya sebagai gay?”

Belum lima menit, dan tanganku  sudah gatal ingin menampar mulut jalang—yang sepertinya aku masih tetap menggunakan panggilan tersebut. “Pertama, dia bukan lelakimu,” tegasku, “Kedua, dia sangat baik-baik saja menjalani kehidupannya tanpa jalang sepertimu.”

Oh, aku tahu kau bermulut besar,” telunjuk Victoria terangkat menunjuk wajahku, “Ini Korea dan aku tahu benar bagaimana masyarakatnya yang kolot menyikapi kaum seperti kakakmu.”

Dalam hati aku membenarkan pendapat Victoria. Korea Selatan memang termasuk negara maju, namun masyarakatnya belum bisa menyikapi liberalistis dengan terbuka. Hal ini menjadi bernilai positif, sekaligus negatif. “Kau masih mengharapkannya,” ujarku mantap ketika melihat sorot mata Victoria—kebencian tapi juga terdapat kerinduan.

Raut Victoria berubah, menjadi suram—dan aku tahu tebakkanku benar. “Jika kau mencintainya, mengapa tidak mencoba menggapainya dengan cara yang benar?”

“Cara yang benar, kau bilang?” Victoria tertawa getir. “Aku yang terlalu menghiperbolis ataukah kau yang terlalu bodoh?”

Aku merilekskan tubuhku karena sepertinya yang kuhadapi bukanlah jalang yang kehilangan akalnya, melainkan kehilangan hatinya. “Keduanya,” jawabku yang membungkam mulut Victoria. “Siwon menghapusmu dari hati dan pikirannya, aku bisa jamin hal ini. Bukan saja karena apa yang kau perbuat, tapi juga tak adanya makna akan dirimu di matanya. Memang apa yang kau harapkan dari hubungan one-night-stand?”

Terpancing dengan ucapanku, Victoria mengejurkan rahangnya.

“Mungkin akan lain cerita jika kau mendekatinya dengan cara yang lebih manusiawi.” Aku menajamkan tatapanku padanya. “Dan Kyuhyun,” aku membesarkan hatiku untuk mampu melisankan namanya, “dia peduli padamu. Jadi berlakulah—setidaknya, menghargainya.”

Menyampir tali tasku di bahu, aku ingin menyudahi kunjunganku. “Semoga kau bisa menyikapi hukumanmu sebagai perenungan. Selamat siang, Victoria Song.” Aku berdiri dan melangkah meninggalkannya yang membatu.

“Dan bagaimana denganmu?”

Menahan langkahku, aku memutar badan dan menemui Victoria yang juga telah berdiri dari duduknya. Langkahku mendekatinya—dan dengan sadar aku mengangkat tanganku dan mengayunkannya menampar pipi jalang ini.

Wajah Victoria terpaling ke samping dengan bekas jemariku yang tercetak di pipinya. “Kau…” geramnya.

“Inilah aku, wanita kau hilangkan harapannya dua tahun lalu, sepertimu.” Aku dengan tangkas menahan pergelangan Victoria yang bermaksud membalas tindakanku. “Perbedaannya, aku berusaha mendapatkannya kembali.” Kuhempas tangan Victoria dengan kasar.

Meski sedikit terpetal ke belakang, Victoria diam dan tak lagi berupaya melawanku. Rautnya menjadi linglung, tidak seperti ketika aku masuk ruangan tadi. Binar arogansi di matanya memudar. Kemudian aku tahu, hanya masalah waktu hingga datang penyesalan dan perubahan padanya.

#

Aku menginjak pedal kopling dan rem untuk melambatkan kecepatan mobilku ketika kesadaranku tersentak—setelah sebelumnya sempat melamun. Memerhatikan jalan, aku bahkan baru menyadari telah mengambil jalan menuju ke rumahku dan Kyuhyun. Setelah menemui Victoria tadi, tidak kupungkiri bahwa pikiranku terpenuhi dengan Kyuhyun—lagi. Mengenainya yang sempat membela Victoria, mengenai bayi kami yang keguguran, dan…

Menarik tuas hand rem, aku memastikan mobilku terpakir dengan aman di depan rumahku. Sejenak aku masih enggan turun, karena walaupun ini rumahku, tetapi suasana rumah ini sangat kental dengan kenangan bersama Kyuhyun. Aku mengembus napas panjang, lalu keluar dari mobil. Membuka pintu utama, aku berdiri di mukanya.

…dan mengenai pernikahan kami.

Dia pergi, meninggalkan semuanya—bahkan barang-barangnya pun masih berada di rumah ini, tak tersentuh. Kyuhyun tidak meninggalkan pesan apa pun, selain message terakhirnya. Pernikahan kami pun seakan dibekukan selama 2 tahun ini—tidak ada kepastian.

Mungkin kepergian Kyuhyun tidak selalu berdampak buruk. Hubungan ayah dan ibu mertuaku dengan Kim Seobin, kakak perempuan Kyuhyun, kini jauh lebih baik. Seobin bahkan ditempatkan di level manajerial Assan—untuk mengganti kekosongan yang ditinggalkan oleh Victoria tentunya. Setelah kepergian putrinya Kim Cheonsa, setahun kemudian Seobin dikaruniai seorang putra—setampan ayahnya Kim Youngwoon.

Meletakkan tasku di atas konter mini bar—tempat favorit Kyuhyun, aku berjalan ke tepian kolam renang. Walaupun aku memerintahkan petugas cleaning untuk rutin membersihkan rumah ini, namun udara di sini tetaplah sedikit pengab. Mengamati ketenangan airnya, rasanya baru kemarin aku dan Kyuhyun menghuni rumah ini atau beradu pendapat di sini.

Terpesona dengan jernihnya air, aku menurunkan kakiku ke dalamnya—tidak peduli airnya akan membasahi celana kain yang kukenakan. Aku sadar dengan apa yang kulakukan, tidak seperti dua tahun lalu ketika kondisi psikisku sangat buruk. Meluncurkan tubuhku ke air, aku mengambil napas panjang sebelum menenggelamkan diriku.

Rasa dingin dan sejuk menyentuh kulitku—pipiku. Air ini seakan mengangkat dan menahan tidak hanya bobotku, melainkan juga kerinduanku. Aku masih ingat ketika Kyuhyun menceburkan dirinya deganku yang berada dalam dekapannya. Kami sama-sama tidak memiliki akal yang jernih kala itu. Bibirku tersenyum simpul, sebelum suara ciprat keras terdengar; membuatku mendongak dan bersiap mengapungkan diri.

Tubuhku disentak naik, kemudian digiring ke tepian kolam di bagian yang dangkal. Aku terengah-engah mengatur napasku. Kuangkat kepalaku untuk melihat sosok yang menggangguku. “Oppa?”

“Apa yang kau lakukan, huh?” tanya Siwon dengan marah. Dia mengusap turun wajahnya dan mengusap naik rambut yang menutupi dahinya. Pakaiannya masih melekat lengkap, sama sepertiku.

Aku menggeleng dan tersenyum kecil. “Oppa, kau salah paham,” jawabku yang mengerti arti nada marahnya; dia mengira pasti mengira aku sedang menenggelamkan diriku. Oh Tuhan, jalan pikiranku tidak sesempit itu sekarang. Menepuk ringan bahu Siwon, aku berenang untuk mencapai tangga kolam, kemudian naik ke permukaan.

Berjalan menuju almari kecil di dekat bar, aku mengambil dua handuk besar. Sambil mengeringkan rambutku, aku menganjurkan satu handuk di tanganku pada Siwon. “Oppa, aku tidak sepicik itu untuk mengakhiri hidupku,” ujarku meluruskan kesalahpahamannya. “Percayalah, aku bisa menjaga diriku.”

Siwon mengeringkan badannya sambil membulatkan mulutnya—yang jika tidak disertai ekspresi kakunya akan membuatku tertawa.

“Kau bisa menggunakan kamar Ky—“

“Aku tahu,” sahut singkat Siwon sembari melangkah pergi ke lantai dua.

Cukup lama aku tidak mengunjungi rumahku, terakhir kali mungkin dua atau tiga pekan lalu. Setelah mengganti pakaianku dengan yang kering, aku sengaja menuju sisi halaman. Aku merindukannya—tentu saja. Meskipun tidak bernama, dia adalah hal yang pernah kumiliki, yang sangat kental dengan memori akan Kyuhyun. Duduk di bangku teras, aku memandangi kuburan kecil di sudut halaman. Hai, Sayang.

Aku mendongak ketika sebuah selimut diangsurkan di depanku. Sembari menerimanya, senyumku mengembang kecil, mengetahui kakakkulah yang menawarkannya. Siapa lagi? Hanya ada kami berdua di sini. Menyelimutkan selimut tersebut di punggungku, aku melirik Siwon yang mengambil tempat di sampingku. Merasakan kejanggalan, aku menolehkan kepala hingga menatapnya.

Tidak ada yang salah dengan kakakku, dia terlihat tetap memesona dengan rambutnya yang masih basah. Hanya saja, pakaian yang dikenakannya…

Aku memalingkan lagi pandanganku ke arah lain untuk menghindarkan pikiranku memutar ulang kenangan akan pakaian yang dikenakan Siwon. Menarik napas panjang, aku memandang jauh hingga jatuh pada penanda kecil yang akhir-akhir ini jarang kukunjungi.

“Aku bisa berganti yang lain jika kau keberatan,” ucap kakakku yang membaca pikiranku dari polahku.

Aku menggeleng untuk mengingkar, sekali lagi mengingatkan diriku bahwa ini hanyalah sebuah hal kecil. Akan tetapi hal kecil pun kerap menggiringku untuk mengimajinasikan Kyuhyun. Mengangkat kepalaku, aku tersenyum ke arah kakakku dan mengabaikan gangguan kecil tersebut. “Ini pertama kali oppa bicara cukup panjang padaku,” ucapku meloloskan pemikiranku semenjak insiden kolam renang tadi.

Siwon menyeringai kecil, sambil menjalin jemarinya menjadi satu, dia menunduk. “Apakah aku seburuk itu?”

“Berapa kali oppa menemui Nam songsaenim?”

Hmm?” gumam tanya Siwon, “sekali dalam seminggu, kenapa?”

“Kalau begitu kau tidak dalam kategori buruk,” selorohku.

Cish.” Siwon melepaskan pandanganya ke halaman rumahku.

Kami diam beberapa saat, menjadikan kecanggungan tumbuh. Sepertinya kakakku sibuk dengan pemikiran sendiri, atau mungkin dia sedang mencari topik pembicaraan yang bisa menghubungkan kami.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Siwon menoleh padaku, meninggikan alisnya barang sedikit, “Sejak kapan bertanya dilarang?”

‘Sejak oppa menjaga jarak denganku. Sejak Kyuhyun pergi.’ Aku ingin menjawab demikian, namun bersikap terang-terang saat ini bukan tindakan tepat. Aku lebih memilih memanfaatkan momen kali ini untuk membenahi kualitas hubungan kami. “Apakah menemui Nam songsaenim…” aku mengulum bibir bawahku, “cukup membantumu?”

Siwon meneleng kepalanya, menelaah pertanyaanku yang mungkin terdengar ganjil baginya.

“Jika ternyata menemuinya membantumu untuk meredakan stres karena tekanan kerja atau mengurangi kesedihanmu karena…” lagi-lagi aku mengigit bibir bawahku karena meragu, dan kemudian kubiarkan kalimatku mengambang sebab aku tak mampu melafalkan kata-kata selanjutnya.

“Bukan untuk alasan itu aku menemui Nam-ssi,” sangkal kakakku yang membuatku mengernyit. “Aku berkecimpung di dunia bisnis bahkan hampir delapan tahun, hingga saat ini tekanan kerja bukanlah hal yang tidak bisa kuatasi. Mengenai kepergiannya,” Siwon menunduk dan menyeringai kecil, “aku harus bilang apa,” ucapnya pasrah.

Dari pundak Siwon yang terangkat kemudian kembali melurus lagi, aku tahu dia mencoba mengutarakan pemikirannya. “Dia yang memutuskan untuk pergi, sementara aku saat itu tidak dalam posisi dapat menahannya. Lagipula jika memang itulah caranya memecahkan masalah, maka aku tidak bisa menentangnya.”

“Lalu?” tanyaku mengembalikan pertanyaan awalku mengenai alasan Siwon masih menemui psikiater. Nam songsaenim, psikiater yang—demi apa aku tidak suka menyebutnya, merawat kakakku.

“Perlukah kau menanyakannya, Youngie?” Siwon menatapku, membuatku terpaku beberapa saat. Bukan saja karena tatapannya, melainkan panggilannya terhadapku, yang hampir-hampir aku melupakan bagaimana rasanya dipanggil demikian olehnya.

Aku memaling, menyembunyikan mataku yang memanas. Memikirkan kembali bagaimana masyarakat menolaknya, meski tidak secara terang-terangan, adalah hal yang jauh lebih menyakitkan daripada mengetahui dia seorang gay. Awalnya bisik-bisik menyebar di kalangan teman kantornya, yang entah darimana mereka mendapatkan sumber, kemudian semakin kentara dengan perlakuan mereka terhadap kakakku. Bukan karena dia absen lama dari pekerjaan yang menjadikannya dilengserkan dari jabatan co-chef financial officer, tetapi alasan utamanya karena preferensi seksualnya.

Pandangan merendahkan, perlakuan tidak adil, dan teror kebencian yang bahkan dialamatkan ke rumah, hanya sebagian kecil yang kakakku terima. Jika dulu dia dipandang kagum karena prestisius dan fisiknya, maka sekarang dia dipandang dengan jijik. Hanya segelintir orang yang mau mengakuinya, aku dan eomma, diluar itu mungkin bisa dihitung dengan jari.

Oppa,” panggilku sedikit menyentak karena air mataku yang menyumbat pangkal tenggorokan, “yang kutahu, kita tidak bisa memuaskan harapan setiap orang.”

“Nyatanya tidak ada seorang pun yang kupuaskan harapannya,” sahut cepat Siwon dengan nada getir.

Aku melipat bibir atas dan bawahku, “Jika kau menemui psikiater hanya karena preferensi seksu—“

“Menjadi gay bukan sekadar hanya, Youngie,” tekan Siwon. “Aku mempertaruhkan martabatku, kedudukanku, keluargaku…” dia menarik napas panjang hingga membuat jeda, “juga orang yang kukasihi sepenuh hatiku… hingga tidak bersisa sesuatu pun untuk kumiliki.”

Aku mengangkat tanganku, menutup bibirku untuk tidak melenguh sedih. Dadaku memanas, kesedihan dan amarah, hingga rasa-rasanya apa pun akan kulakukan untuk dapat sedikit meringankan beban kakakku. “Oppa, aku tahu aku bukanlah orang terbaik di sisimu yang bisa kau andalkan, tapi aku hanya ingin kau tahu kau bisa bersandar padaku barang sejenak.”

Kuangkat wajahku, memandang biru langit untuk menahan air mataku. “Aku tidak akan mengingkar bahwa mengetahui preferensimu adalah hal mengejutkan. Seorang Choi Siwon yang kutahu tidak memiliki cela, yang begitu jauh dan angkuh, ternyata menyembunyikan hubungan yang dianggap tabu.”

Menoleh ke samping, aku memerhatikan kakakku yang memandang kosong ke depan. “Namun keterkejutan itu tidak berarti, jika dibandingkan dengan rasaku menyaksikan kehidupanmu sekarang. Kau mengabaikan keluargamu—dan itu masih bisa kutolerir, namun kau juga mengabaikan dirimu sendiri.”

“Dan satu cela mampu meruntuhkan semua yang kupunyai, yang kubangun dan kuraih bertahun-tahun,” sinis Siwon.

“Namun cela itu tidak mampu menghapus kenyataan bahwa kau kakakku, bahwa kau keluarga kami.”

“Aku telah menghancurkannya,” sesal Siwon, “dan percaya atau tidak, aku sangat ingin memperbaikinya.”

“Dengan menemui psikiater?” tanya retorisku, “maka lupakan.”

Siwon tertawa hambar, melecehkan peringatanku. “Kurasa usahaku tidak pernah benar.”

“Lupakah kau, orang yang sejak kecil berada di sisiku ketika aku hampir gila, yang tetap datang ketika aku mengabaikannya. Lupakah kau, orang yang mengkhawatirkanku, yang tetap mengawasiku dari jaraknya walau aku tidak mengacuhkannya. Dan lupakah kau, orang yang hampir satu bulan sekarat karena berusaha menyelamatkanku?”

Siwon membalas tatapanku dengan tertegun.

“Hanya kau, Choi Siwon yang melakukannya,” mantapku dengan menatapnya lekat. “Jika kau menemui psikiater karena kau tidak bisa menerima dirimu sendiri, maka lupakan,” tandasku memperjelas ucapanku sebelumnya.

Cish,” Siwon berdesis, “Sungguh lucu, di usiaku yang sudah kepala tiga, yang sudah tidak dapat dikatakan sebagai remaja, aku masih mencari jati diri. Aku…” dia lagi-lagi menghela napas panjang, “ingin memulai dari awal lagi, Youngie. Ingin mencari kepastian, apakah menjadi gay adalah keinginanku ataukah menjadi gay hanya karena trauma masa kecilku.”

“Gay atau bukan, kau selalu diterima di keluarga ini,” ucapku terang-terangan.

Siwon tersenyum kecil, bukan seringaian, yang membuatku merindukan wajah sumringahnya. “Kyuhyun…” ujarnya dengan polos, melafalkan nama yang tabu diantara kami berdua semenjak dua tahun belakangan.

“Aku yakin kau mengetahui dimana dia berada.” Mengabaikan tusukan di hatiku, aku memantapkan niatanku, “Oppa, jika kau dan dia masih mengharapkan satu dengan yang lain…”

Kakakku menggeleng kecil, bukan untuk menyangkal ucapanku, melainkan seakan menganggap ucapanku sebagai lelucon. “Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini, Youngie. Aku bahkan meragu dengan diriku.”

Aku tidak bertanya lebih lanjut. Sudah cukup bagiku mengetahui alasan Siwon hingga sekarang masih menemui psikiater. Lagipula bertukar pikiran seperti ini, aku tahu bukan gaya kakakku. Jadi aku sangat menghargai pengakuannya saat ini mengenai dirinya.

“Aku yang memulai kekacauan,” nada sesal Siwon.

Mengerutkan kening, aku ingin menyela dan menghentikan penyesalan Siwon. Akan tetapi, kami memang harus bicara mengenai akar permasalahan yang tidak—belum, tersentuh. Jadi kubiarkan Siwon menuturkan unek-uneknya.

“Awalnya kupikir pernikahanmu adalah hal yang bisa memberi jarak antaramu dan appa, yang saat itu sedang menjalankan misi berbahaya. Jika kau bertanya kenapa harus Kyuhyun, maka hanya dialah satu-satunya orang yang kukenal, yang kepadanya bisa kupercayakan dirimu.”

Aku diam, memerhatikan dan mencerna ucapannya. Pernikahanku adalah cara kakakku menjauhkanku dari abeoji, agar aku tidak terlibat dalam misi berbahaya abeoji. Dengan keluar rumah keluarga Choi, setidaknya aku tidak akan menjadi incaran utama pihak Korut jika misi abeoji terendus. Akan tetapi rencana ini gagal.

“Akan tetapi rencanaku gagal,” ucap Siwon yang seakan bisa meng-copy-paste pemikiranku. “Tidak hanya rencanaku gagal, tetapi juga membuat polemik lain yang lebih runyam; hubungan kita bertiga.”

Oppa,” lirihku, “aku…” lagi-lagi ucapanku mengambang. Aku seolah menjadi orang yang tak tahu diri di sini; Siwon telah berusaha menjagaku, namun aku melukainya dengan hubunganku dan Kyuhyun yang terlewat batas.

“Kau tidak perlu merasa bersalah,” sahut Siwon seolah bisa menebak warna hatiku. “Mungkin sejak dari awal hubunganku dan Kyuhyun sudah goyah, mungkin juga hubungan kami hanya bentuk pelampiasan rasa frustrasi.”

“Kau masih…mencintainya?”

Siwon tertawa kecil, tidak terkejut dengan pertanyaanku. “Baik ya atau tidak, makna cinta itu telah bergeser.”

“Bergeser?” aku membeo ucapannya.

“Dia telah mengambil inisiasi menyelesaikan kerumitan masalah yang kumulai, seharusnya aku melakukan hal yang sama.”

“Jangan katakan oppa akan mengikuti apa yang dia lakukan.”

“Tidak, Youngie, tidak,” Siwon menggeleng, “aku punya tanggung jawab di sini; appa, eomonim, pekerjaan, bahkan kau.”

“Mulailah bertanggung jawab pada dirimu sendiri, Oppa.

“Aku berusaha…” lirih Siwon, “aku berusaha,” mantapnya dengan menatapku. Dia menganjurkanku tablet miliknya, “Mengenai Kyuhyun, kuharap kau bisa mendapatkan jawabanmu dari sini.”

Siwon mengembus napas pendek dengan deru keras, memperdengarkanku sebuah kelegaan. Menepuk kedua paha, dia menjangkau kepalaku dan mengusapnya, “Sampai ketemu saat makan malam.”

Aku mendongak untuk melihat tinggi kakakku yang menjulang saat dia berdiri. Ucapan perpisahannya adalah hal baru yang membuatku lega.

Menganjurkan tangan, Siwon membelai puncak kepalaku. “Dan terima kasih,” bisiknya, “untuk menerimaku apa adanya.”

Memegang pergelangan kakakku, aku mengusapnya. “Sampai bertemu nanti,” jawabku, “dan Oppa, aku menyayangimu.”

Hmm…” Siwon bergumam dan tersenyum. Demikian aku tahu, dia membalas ucapanku. Tidak secara lisan, karena aku mengerti dia masih berusaha untuk menerima dirinya sendiri, juga kasih sayang kami keluarganya untuknya.

Selepas kakakku pergi, aku mengamati heran tablet yang dia tinggalkan sebelum menyalakannya. Inbox email-nya adalah hal yang terpampang di layar. Mengamati sekilas, tidak ada yang membuatku tertarik untuk membaca email-email perusahaan, sebelum pandanganku jatuh pada sebuah email. Ah, bukan sebuah melainkan beberapa.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: Beautiful

Aku selalu menyukai tempat ini; ramai dan suara-suara itu terdengar riuh. Meskipun dilingkupi oleh gempita, namun aku merasakan ketenangan.

Penebus yang kutahu selama ini adalah bagaimana aku melebur kesunyianku dalam keriuhan dunia malam. Sekarang, meskipun aku masih menyukai tempat ramai, namun apa yang kulakukan berbeda; melebur keriuhanku dalam kesunyian.

Bukankah ini ironi?

Oh, I’m Marc by the way. And, I didn’t make any mistake by emailing you. Well yeah, I got your email on a certain website.

 

Aku mengadu alisku. Sepertinya ini hanya suatu email usil dari seorang pengguna produk perusahaan tempat Siwon bekerja. Memang awalnya nama emailnya menarikku, namun bukankah orang yang memiliki nama tersebut sangat banyak?

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: Bad day

Aish, it’s my bad bad day. Pagiku dimulai dengan tergesa karena, oh shit, tugasku belum selesai kugarap. What? Kelasku kemarin berakhir hingga petang, dan aku sudah berusaha maksimal menyelesaikan tugas ini.

Dan, oh-my-freaking-goodness, pengendara mobil sialan itu harus membayar ganti rugi menabrakku! Roda sepedaku hampir-hampir membentuk angka 8! Good that I’m just got a minor injury, but it’s still hurt.

Above all, my professor gave me detention for being late. Great! Very Great!

 

Aku menyungging bibirku secara samar saat membaca pesan yang—menurutku, sedikit kekanakan. Mungkin usia Marc di sini memanglah masih sangat muda, dilihat dari dirinya yang masih beraktifitas kuliah.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: An Angel

Kelahiran dan kematian. Aku tidak pernah menyadari bahwa sebuah kematian seorang dalam suatu keluarga sangatlah menyedihkan, sementara kelahiran seorang bayi dalam sebuah keluarga membawa kebahagian luar biasa. Bagiku menyaksikan proses itu adalah hal biasa.

Hari ini aku membantu proses persalinan seorang ibu yang mengalami komplikasi, aku tahu kau tidak tertarik dan tidak mengerti mengenai kerumitan kasus ini, jadi aku tidak akan menceritakan detailnya. Kami tim medis mengupayakan segala cara untuk menyelamatkan keduanya, dan aku hampir-hampir mengutuki sang bayi karena mempersulit keadaan sang ibu. Pada akhirnya setelah menjalani proses pembedahan selama 2 jam, kami tim medis harus mengakui kekalahan; sang ibu tidak terselamatkan.

Aku kesal, sangat kesal! Dan kekesalanku ingin kutumpahkan pada si bayi. Dia yang membuat operasi ini gagal dan dia yang membuat si ibu mati!

Jadi aku berdiri di depan inkubatornya, mengamatinya. Jika pandanganku memiliki kekuatan laser, maka sudah pasti tabung inkubatornya berlubang. Aku marah, aku kesal, namun ketika melihatnya menggerakkan tangan mungilnya, entah mengapa kekesalanku menghilang tanpa bekas. Kedua matanya yang tertutup kasa, kulitnya yang merah, jemarinya yang masih sangat kecil, perut dan dadanya yang mengombak karena napasnya yang berat; dia mencoba bertahan hidup. Kemudian aku tahu, dia adalah harapan.

 

Aku mulai mengadu alisku lagi. Marc, dia seorang mahasiswa kedoteran.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: Dream

Aku tidak pernah memimpikan suatu hari nanti memiliki seorang anak. Well, tidak hingga sekarang. Namun aku menjadi berangan, bagaimana jika aku memilikinya? Adakah dia akan memiliki alis dan mataku, atau bibirku, atau tulang pipiku?

 

Dalam imajinasiku, Marc memiliki sepasang mata yang indah, bibir kissable, atau tulang pipi yang khas, yang membuatnya ingin menurunkan ciri dirinya pada sang anak nantinya.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: She

Aku selalu berkunjung ke tempat ini setiap akhir pekan. Selalu saja duduk di bangku yang sama, dengan pemandangan yang tidak pernah menjemukan. Aku mengingatnya lagi, dan mengingatnya bukanlah hal buruk, tentu saja karena aku tidak ingin melupakannya. Namun setelah beberapa lama diam di sini, aku selalu menyesal…

 

…karena di akhirnya, aku merindukannya.

 

Meskipun dengan paragraf pendek, aku seakan dapat merasakan perasaan rindu yang sama dengan yang ditanggung Marc, karena aku juga mengalaminya.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: Tear up

Negara ini istimewa bagiku. Bukan karena aku pernah memiliki kenangan manis di sini, aku bahkan baru pertama kali ini bertempat di sini, namun negara ini pernah menjadi angan-angan masa depanku. Bersama seseorang yang—cish, aku sangat malu mengakuinya, kucintai. Aku tidak malu dengan cintaku kepadanya—walaupun orang lain menganggapnya terlarang, aku hanya malu dengan kepengecutanku.

Aku ingin dia di sini, memersuasiku akan hubungan kami untuk melenyapkan keraguanku. Aku akan kuat jika dia ada di sampingku; aku yakin itu.

Namun akulah yang meninggalkannya, akulah yang menyerah. Jadi, jika sekarang aku mengharapkannya lagi, bukankah itu terlalu egois?

 

Sekiranya ini bukan email kakakku, aku ingin membalas email Marc. Mengatakan padanya untuk mengejar cintanya; bahwa bersikap egois demi kebahagiaannya adalah hal yang pantas dicoba, yang bisa jadi orang yang dia kejar—cintai, juga memiliki perasaan sama.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: Greedy

Aku melepaskan, namun aku mengharapkan. Aku ingin bersamanya, namun hubungan kami tidak akan berhasil; mungkin. Kami tidak akan pernah bisa memiliki pengikat yang menyatukan kami jika suatu saat janji kami goyah. Dan pengikat itu bernama ‘keturunan’.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: She, again

She, maybe the face I can’t forget, the trace of pleasure or regret

Maybe the treasure or the price I have to pay

She, maybe the song that summer sings

Maybe the chill that autumn brings

Maybe a hundred different things within the measure of a day

She, maybe the beauty or the beast

Maybe the famine or the feast

May turn each day into a heaven or a hell

She, who always seems so happy in a crowd

Whose eyes can be so private and so proud

No one’s allowed to see them when they cry

….

Kau tentu tahu bait lagu ini. Dan seperti itulah dirinya bagiku; suatu kontradiksi yang indah, yang menggiurkan untuk kumiliki, yang menawarkan harapan lain.

 

Dari sini, jemariku mulai bergetar. Akalku mulai menyambung inti dari setiap email, yang kemudian menggiringku menebak-nebak sosok Marc.

 

From: Marc.choco@gmail.com

To: Siwon.Choi@samsung.com

Subject: A family

Dia pernah menanyakanku, apa makna keluarga—yang saat itu kujawab: keluarga adalah perlindungan. Dan aku memimpikan suatu hari dapat membangunnya.

Namun menciptakan keluarga tidak cukup ikatan saling mencintai—karena aku pun gamang rasa itu bisa terpupuk hingga ketika punggungku merapuh nantinya. Dan aku pun bukan orang yang bisa dibanggakan mempunyai rasa cinta—karena cinta bagiku adalah pemuasan hasrat dan ambisi.

Aku membutuhkan pengikat dan pengokoh yang membuat keluarga tetap berlanjut sebagai perlindungan. Sebuah pengikat yang terus menyatukanku dengan pasanganku, sebuah pengokoh yang menopang keluargaku—nantinya. Dan yang ada dalam pikiranku saat ini, pengikat dan pengokoh itu bernama ‘anak’.

 

Aku meloloskan napasku yang tertahan dan memanas ketika menyimpulkan sosok Marc—Kyuhyun. Dia ingat pertanyaanku padanya, yang hanya aku dan dia yang tahu. “Kanada…” lenguhku menebak tempat dia berada dari salah satu emailnya.

Mengamati langit yang mulai menggelap, aku mematikan layar ipad milik kakakku hingga kelamnya permukaan layar mempertegas sesuatu yang jatuh di atasnya. Mendongakkan kepala, aku mengusap air mataku. Jika sesak adalah sebuah barang, maka sesak di dadaku telah bertumpuk hingga dapat membengkakannya.

#

Oppa?” aku mengetuk pintu ruang kerja abeoji, dulu, sebelum kini lebih sering dipakai oleh kakakku.

“Masuklah.”

Memutar kenop pintu, aku masuk ke ruangan dan menjumpai kakakku yang tengah berdiri di depan rak buku sambil memegangi sebuah buku tebal. Aku berjalan ke tengah ruangan, kemudian meletakkan tablet milik kakakku yang tadi sore dipinjamkan padaku.

“Kau telah menemukan jawaban yang kau cari?” Siwon mendekat, lalu menyandarkan pinggangnya di tepi meja. Dia melepas kaca-mata bulatnya, lalu meletakkannya di meja.

Aku menarik sudut bibirku dengan getir, “Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang oppa harapkan setelah aku membacanya.”

“Pertanyaanmu seharusnya bukan mengenai apa yang kuharapkan, melainkan apa yang akan kau lakukan,” jawab tenang Siwon.

Aku mengangkat kedua bahuku, lalu menggeleng. Bukan aku tidak memiliki pemikiran dan keinginan, melainkan aku takut jika dua hal tersebut melukai kakakku.

“Tidak,” sangkal Siwon, “Aku yakin, kau tahu hal yang kau inginkan setelah membaca emailnya.”

Mengurai lipatan bibirku, aku menjawab Siwon. “Kau telah banyak berkorban untukku.” Aku tahu makna implisit kalimat Siwon.

Kali ini Siwon-lah yang menggeleng kecil. “Aku hanya memberikan kesempatan, Youngie. Kau tahu, aku tidak bisa memberikan apa yang dia impikan.”

“Kau bisa memperjuangkannya.”

“Kami sudah memperjuangkannya, Youngie,” jawab kakakku, “dua tahun lalu. Ketika aku dalam fase vegetative dan ketika aku membuka mataku untuk pertama kali—menatap matanya, kemudian aku tahu apa yang ada diantara kami telah berubah”

Butuh keluasan hati yang ekstra hingga Siwon bisa dengan tenang mengucapkan kalimat demikian. Mungkin tanpa kusadari, dalam dua tahun ini selain berjuang melawan sikap intimidasi dari masyarakat, sesungguhnya dia juga memikirkan masa depannya. “Oppa,” aku mengambil langkah mendekat hingga berdiri di depannya.

Siwon tersenyum hingga lesung pipitnya terlihat. Memutar badannya, dia mengambil sesuatu—sebuah kartu, di agendanya.

Mengerutkan kening ketika bingung, aku menerima kartu nama yang disodorkan Siwon—dan tatapanku langsung tertuju pada kata terakhir ‘Canada’. Melipat bibirku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyelipkan kedua tanganku di pinggang Siwon dan memeluknya. “Bagaimana denganmu, Oppa?” aku bergumam di dadanya.

“Akan ada sesuatu yang baik untuk seseorang yang melakukan hal yang baik, right?” Siwon membalas pelukanku dengan keeratan yang sama.

Aku mengangguk, merasakan mataku yang memanas—yang kali ini aku rela mengalirkan air mataku. Tidak ada insan yang sempurna, dan kami adalah bagian dari ketidaksempurnaan. Meski dengan ketimpangan kami, apa yang kusyukuri sekarang adalah bahwa keluarga ini masih terjaga.

Di mata orang awam, Siwon boleh merupakan orang terhina—karena preferensi seksualnya, tetapi di mataku dia adalah orang terkasih. Seorang kakak tiri—yang lebih terdengar wajar jika dia membenciku, namun memiliki hati yang tulus ketimbang orang yang mencacinya—yang mengklain diri mereka lebih baik dari Siwon.

“Dan satu kebaikan yang telah kuterima adalah kau,” Siwon mengusap belakang kepalaku, “juga eommonim.”

Aku memejamkan mataku, menikmati kehangatan tubuh Siwon—yang baru pertama kali ini kurasakan. Pelukan kuatnya membuatku merasa dikasihi dan dilindungi. Malam ini, beban di kedua pundakku terangkat—maka biarkan aku menguasai momen ini lebih lama.

Aku menyangimu, Oppa. Kami menyayangimu.

And Youngie, tomorrow, the earliest flight will wait for you.”

#

Mrs. Cho?”

Aku mendongak dan menjumpai seorang perawat. “Yes, I am,” jawabku sambil berdiri.

I received your message this morning,” wanita paruh baya yang memiliki rambut blonde dan iris mata bewarna hijau ini tersenyum ramah, “and I did what you’ve told.” Dia menganjurkan tangannya, “Sarah Davies.”

“Stephanie Cho,” aku membalas jabat tangannya, “and thank you for granting my ridiculous—“

Oh, it’s nothing. I’d like to help that young man,” Mrs. Davies membuat mimik masam dengan wajahnya, “I couldn’t say that he wasn’t happy here, but he just looked like a lost puppy.”

Aku mengigit bibirku untuk menahan senyumku tidak melebar; rasanya aku sangat antusias. “Once again, thank you.”

Now I knew, he missed his gorgeous spouse here,” canda Mrs. Davies yang membuatku sedikit tersipu. “Come with me,” dia mempersilakanku mengikutinya.

Berjalan di belakang Mrs. Davies, pandanganku mengitari lingkungan rumah sakit—yang wajarnya ditemukan di kebanyakan rumah sakit: bangku tunggu yang berderet, dominasi warna putih, juga koridor panjang. Aku berjalan hingga akhir koridor yang berujung pada sebuah ruangan yang cukup luas.

There he is,” ucap Mrs. Davies sembari menunjuk seseorang yang duduk membelakangi kami. “I already canceled his schedule for today,” dia menepuk punggungku saat aku terkaget, “so have a nice day, Mrs. Cho,” salamnya sambil mengerling.

Thank you,” ulangku lagi pada wanita paruh baya tersebut.

Sepeninggal Mrs. Davies, aku berjalan masuk ke ruangan dengan pelan. Ruangan ini sepertinya digunakan sebagai ruang rekreasi, menilai dari beberapa alat permainan yang ada di sini. Warna-warna pastel mengentalkan suasana manis—khas anak-anak. Grafiti pada dinding didasari warna biru langit dengan bermacam gambar tokoh kartun idola anak. Tawa riuh anak-anak yang bermain, yang sebagian besar mengenakan piyama rumah sakit melengkapi suasana hidup ruangan ini. Meskipun beberapa dari mereka menggeret penyangga infus, satu atau dua duduk di kursi roda, namun tidak mengurangi keceriaan mereka.

Sebuah pemandangan di ruang rekreasi McMaster Children’s Hospital.

Tanpa aba, aku mengambil tempat duduk di sisinya—yang masih belum menyadari kehadiranku karena terlalu asyik mengamati tingkah polah anak-anak. Dia mengenakan jas putih—khas seorang dokter, dengan kemeja bewarna merah muda pucat—yang membuatku menahan senyum. Poni yang dahulu kuingat menutupi dahinya hingga batas alis, kini tertata rapi menjadi jambul hingga memperlihatkan keningnya. Dia terlihat lebih maskulin dengan potongan rambut seperti ini. Pipinya menirus, menampakkan garis rahangnya dengan jelas. Wangi parfumnya masih sama seperti yang kuingat, dan…

Dia menoleh, agaknya mulai menyadari kehadiran seorang asing di sampingnya. Alisnya mengadu, bibirnya terkatup rapat, dan bahunya terlihat mengaku. Menatapku cukup lama, kerut keningnya secara perlahan mengendur dan sudut bibirnya semakin tertarik berlawanan.

…dan mata almondnya memandangku dengan berbinar.

Menunduk sejenak, dia mencoba menahan tawa kecilnya. Kedua pundaknya terangkat ketika dia menarik napas dalam, sebelum mengembuskan napasnya dengan sedikit dramatisir sambil menyandarkan punggungnya di punggung bangku. Pandangannya kembali ke arah anak-anak yang sedang bermain, kali ini dengan ekspresi yang lebih sumringah.

“Young, someday…” dia menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu.

Tatapanku turun ke pangkuannya—dimana jemarinya terletak persis di atas pangkuannya. Senyumku menyungging penuh kelegaan tatkala mataku menangkap sesuatu yang bersinar di jari manisnya—yang pasangan benda tersebut juga melingkar di jari manisku.

Someday, would we have such beautiful angel like them?”

Cho Kyuhyun, dan itulah kalimat cinta pertamanya untukku. Kali ini aku menjawab dengan yakin, “Of course, we wouldif He let us.

END*

Note:

Stop right there, I know you’ll be wailing into me (you too a certain bocah pervy!). I won’t let it pass, I’m planning to make it extended, between Marc and Stephanie—will be protected of course, mature content.

Oh, aku tidak ingin berdebat mengenai gay dengan membawa doktrin dari agama. Kita, umat Islam—dan setahuku umat Kristiani juga, tahu benar aturan yang telah ditetapkan dalam masing-masing agama kita. Jadi tidak perlu diperdebatkan lagi.

Melalu fiksi ini, aku hanya menyajikan topik gay dari sudut berbeda. Agar kalian aware terhadap topik ini, agar kalian tidak semata men-jugde sesuatu dari kulitnya saja.

Aku bukan muslim radikal maupun militan. Aku berusaha open-minded jika kalian ingin bertanya atau berdiskusi lebih lanjut. Jika terlalu tabu apabila dituliskan dalam komentar, kalian bisa email ke lenterajingga13@yahoo.com.

Thank you and happy fasting!

Lirik:

“Vanilla Twilight”

The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere
‘Cause I’ll doze off safe and soundly
But I’ll miss your arms around me
I’d send a postcard to you, dear
‘Cause I wish you were here

I’ll watch the night turn light blue
But it’s not the same without you
Because it takes two to whisper quietly
The silence isn’t so bad
‘Till I look at my hands and feel sad
‘Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly

I’ll find repose in new ways
Though I haven’t slept in two days
‘Cause cold nostalgia chills me to the bone
But drenched in vanilla twilight
I’ll sit on the front porch all night
Waist deep in thought because when
I think of you I don’t feel so alone

I don’t feel so alone
I don’t feel so alone

As many times as I blink
I’ll think of you tonight
(Tonight, tonight, tonight…)

I’ll think of you tonight

When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I’ll taste the sky and feel alive again
And I’ll forget the world that I knew
But I swear I won’t forget you
Oh if my voice could reach back through the past
I’d whisper in your ear:
“Oh darling, I wish you were here”

Pic Spam: Our gorgeous OC

won sunglasses

 

kyuhyun after sitr

tiffany stick tounge

 

183 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [17: End]

  1. VivitYulia says:

    Astaggaaa. Suka bnget sma endingnya. Apalagi wktu pertemuan kyu sma miyoung itu bner2 sweettt bngettt. Bkal kngen sma couple ini. Udah ngira dri awal klw yg ngirim emal itu kyuhyun, dan trnyata tebakan q bner. Thanks bnget bwt author yg udah buat story sebagus ini. Good job, aq tnggu story2 berikutnya ^_^

  2. VivitYulia says:

    Astaggaaa. Suka bnget sma endingnya. Apalagi wktu pertemuan kyu sma miyoung itu bner2 sweettt bngettt. Bkal kngen sma couple ini. Thanks bnget bwt author yg udah buat story sebagus ini. Good job, aq tnggu story2 berikutnya.

  3. kyufa11 says:

    aaahhhh aku ketinggalannn,,, baru sempet baca nya,, tau tau uda ad epilog nya aja… good job, good ff, aah baguss deh pokok nya

  4. Rena fanytastic says:

    Dapat rekomendasi ff ini saat ngubek ngubek google,ternyata benar ff ini bagus banget,suka jalan ceritanya yg mengambil tema beda yg lain.baca dari part awal sampai part akhir walau ga baca part 7&8 tpi aku merasa puas dengan jalan cerita yg disuguhkan,feelnya dapat banget sehingga bisa membawa orang yg membacanya ikut merasakan jalan cerita,dan maaf aku cuma coment di part ini aja tpi aku jangji aku akan coment di ff author yg baru.ditunggu ff kyuhyun-miyoung selanjutnya🙂.

  5. sparkyukyu says:

    udah end… Knpa kyu malah kirim email ke siwon yang isinya secara tersirat mengatakan keinginannya untk membangun keluarga dgn miyoung? Knpa dia malah tidak pernah menghubungi miyoung? Tapi aku cukup puas setelah siwon memperlihatkan emailnya, miyouog mengerti dan akhirnya nenyusul kyuhyun…..

  6. Such a beautiful ending. Haaaaaaaa Steph-Marc 😍😍😍 ending sesuai dengan ekspektasi sayaaaa hehe bahagia sekali rasanya hehe. Sequel satu part aja ya buat Steph-Marc nya hohoho. Kalo ga dibuatin juga gapapa.
    Di part 16 saya berharap ada endingnya. Eh ternyata emang udah ada endingnya haha. Baru liat. Maaf ya hehe. Kalo kata oppars pas ke indonesia mah.. “Aku cinta kamu” hehehe. Jjang.

  7. Haohaolee says:

    Dirokomendasiin FF ini dari temen dan langsung baca part ini karena kebetulan yg awal2 udh diceritain temen dan yaaa FF ini kerenn banget ga ada kekurangan apapun. Good job author! !

  8. abellia cho^ says:

    akhirnya ada jg harapan untuk mrk bertiga..
    aku suka bgd autor menyelsaikan smua konflik ini dgn bijak entah kehidupan siwon untk menerima dirinya & menjdi mnusia yg lbih baik lg..untuk kyu & minyoung mempunyai harapn seorg malaikat kecil untuk memulai kehidup mrk
    jeongmal daebak..mskipun cerita ini agak berat tpi ku bsa bljar menyikapi setiap persoaln dr sundut pndng yg berbeda..
    kamshaminda to share ff ini:->

  9. amidamaru says:

    Aku baca behind those beautiful eyes dalam satu hari lho kak..kecuali yang 7 dan 8 aki skip..ini ff lengkap banget, drama keluarga, istilah psikologi dan kedokteran, thriller politik (yang aku suka banget), dan tentunya romantisme kyuhyun minyoung. Terimakasih untuk Ff nya, sangat berkesan ^^

  10. diahpratt says:

    Fanfic yang bagus dan recommed banget. Maaf baru chapter terakhir ini saya review. Dari chapter awal sampai chaper 17 ini (kecuali chapter 7 dan 8 yang terlewatkan), banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil, bukan hanya hiburan semata. Kosakata yang baru pertama kali saya jumpai sampai masalah politik antara Korea Selatan dan Korea Utara yang memang “sensitif” dan tidak ada habisnya, sampai mungkin jika kedua negara tersebut bisa berdamai diangkat dalam fanfic ini yang menjadikannya “kaya” dan bermutu.

    Saat pertama kali baca fanfic ini, saya mengira cerita dalam fanfic ini “sama” seperti fanfic2 lain, dan dengan sok tahu saya langsung menebak “ah ini pasti bakal begini begitu bla bla bla” dan ternyata saya salah besar.

    Tokoh2 seperti Miyoung, Kyuhyun, Siwon bahkan Victoria disini digambarkan seperti layaknya “manusia” pada umumnya yang memiliki sisi maupun sisi gelap dalam dirinya, tidak melulu tokoh tersebut diposisikan dalam sisi gelap atau yang saya maksud disini ‘antagonis’ atau sisi terangnya saja.
    Dan yang paling mengena bagi saya adalah tokoh Tuan Choi dan tanggung jawabnya sebagai Menteri Pertahanan dan sebagai ORANG TUA.

    Sekian dan terima kasih telah menyuguhkan sebuah fanfic yang “KEREN” ini.

    GOOD JOB

  11. za says:

    Tiba2 dah “end” aja…Greget bacanya…Kira msh pnjng…Tp spt mmg akn dipersiapkn crt klnjtnnya…Tidak tahu ingin berkomen apa. Tp spt yg kk bil, kl kk hny ingin mnyajikan dlm sudut yg berbeda. Diblk kerumitan cerita khidupan msing2 tokoh, mereka hny lah manusia yg tdk sempurna yg mncb utk mncr kebahagiannya, melawan/ mnghindari ketakutannya dan mncba utk menerima dan mnghadapinya…It’s nice🙂

  12. Baru beberapa saat yang lalu aku baca ini dan aku greget banget sama endingnya. Oh dan aku suka banget cara kaka paparin tentang kondisi Siwon pasca koma. Aku mengerti pasti sulit untuk Siwon berperilaku seperti sebelum dia koma. Dan yang lebih buat aku suka adalah, sikap Miyoung ke Siwon di part ini yang menurut aku merupakan kemajuan yang sangat drastis. Miyoung sayang banget sama Siwon. Dan satu lagi, saat dimana Siwon membuka jalan/clue untuk Miyoung menemukan Kyuhyun, itu bijak. Tapi aku penasaran, kenapa Kyuhyun terus kirim email ke Siwon sedangkan sama sekali gak ngasih kabar ke Miyoung? ugh mau baca extended part-nya >< Terus buat tulisan berkualitas ya ka!!! Aku selalu dukung! hehehe^^v

  13. Marc. Pikiran aku lgsg ke kyuhyun mengingat anak laki2 kecil yang pernah halusinasi young bernama marc.

    Bagian dimana mereka bertemu lagi cukup membuat air mataku menetes.

    Perasaanku campur aduk selama baca ini terlebih part 7, 8 yang aku lewati.

    Aku sudah mention ke twitter eonni. Mungkin karena eonni blm online lagi jadi requestan aku blm di balas.

    Tapi aku harap eonni bisa memberika pwnya dalam waktu dekat.

    Rekomen bgt BTBE untuk para pembaca yang ingin suatu berbeda seperti pembaca lainnya.

    Aku akan men-bookmark wp ini. Akhirnya aku menemukan karya yang berbeda dari karya2 yang cukup umum.
    Aku suka dengan ide2 cerita seperti ini.
    Beda dan rapi.
    Aku mendapatkan ilmu dari beberapa istilah eonni yang tidak umum ku dengar dan ku baca.

    Eonni 짱!

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s