[1] [2] The Pretension


The Pretension_1

The [P]retension

Arsvio | Choi Siwon as Andrew, Nam Ryung, Cho Kyuhyun, Shim Hwayoung, and Abigail Choi | PG 15 | Themesong: Monster by Imagine Dragons

 

Bagian [1]

“Kau pulang larut lagi hari ini?” janda mendiang Choi, Yoonra, meletakkan sendok makannya dan menginisiasi dialog dengan putra semata wayangnya. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya yang memasuki 50-an tersebut kali ini memilih mengenakan gaun keluaran Dior bewarna merah hati dengan taburan Swarovski di sepanjang leher gaun yang berpotongan rendah. Keriput samar di kulitnya ketika ekspresi wajahnya berubah tidak terlalu penting dalam bingkai wajah ayu Asia-nya—mata bulan sabit, hidung mungil bangir, dan dagu V. Kali ini dia berbangga menepis olokan bahwa kebanyakan wanita Korea menjalani operasi plastik—karena dia tidak mengubah apa pun pada wajahnya.

“Seperti biasanya,” jawab datar Andrew dengan tidak acuh. Wajahnya memang tidak terlalu memiliki banyak ekspresi selama lima tahun belakangan, kecuali mata elangnya yang selalu menajam. Kerut yang terbentuk di antara dua alis tebalnya yang saling mengadu pun adalah hal wajar dari Andrew.

Yoonra menarik napas panjang dengan halus untuk tidak kehilangan kesabaran menghadapi sikap Andrew. Mengambil serbet di pangkuan, Yoonra membersihkan sekitar bibir—yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, untuk menyudahi sarapan. “Bulan promosi Shinan akan berakhir beberapa hari lagi, kau bisa sedikit bersantai setelahnya.”

“Ah, benar, Ibu,” Andrew membuat raut sumringah guyonan sebagai sindiran, “kemudian aku akan kembali menjalani rutinitasku sebagai manager pemasaran.” Padahal jika dia melakukannya dengan tulus, kedua lesung pipit di pipinya menambah kesan manis di wajah tampannya.

Andrew geram—dan dia menahannya hampir lima tahun ini. Sebagai keluarga utama generasi penerus Shinan, lima tahun lalu jabatannya di level direktur diturunkan ke level manajerial. Salah siapa? Direksi Grup Finansial Shinan yang menyatakan bahwa dia tidak layak berada di posisi direktur? Atau dirinya yang terlibat skandal seks dengan pelacur? yang jelas dia terlalu angkuh untuk menyalahkan keduanya.

“Andrew…” panggil Yoonra untuk memperingatkan. Sedikit meninggikan dagunya, dia berpaling ke sisi lain dari meja makan lawan dari putranya untuk melihat sosok mungil yang duduk di sana. Dahinya mengerut—dan itu pertanda dia menemukan lagi sesuatu yang tidak semestinya. “Aby, berhenti mengayunkan sendokmu seperti itu,” tegasnya.

Aby, putri Andrew yang lahir tanpa pernikahan, mendongakkan wajahnya karena panggilan sang nenek. Dia menutup bibirnya dan menghentikan kunyahannya hingga membuat pipinya semakin membulat karena tampuan makanan. Saus pancake blueberry mengotori sekitar bibir dan pipinya, menjadikan bibir mungil merah mudanya dan pipi putih pucatnya memiliki warna ungu. “Ya, nenek,” sahutnya dengan suara kecil sebelum melanjutkan makannya dengan lebih hati-hati.

Andrew mengangkat kepalanya sejenak, memperhatikan apa yang ditunjuk ibunya mengenai sikap putri lima tahunnya, kemudian melanjutkan sarapannya. Dia tidak berminat karena hal ini sudah terjadi hampir setiap waktu mereka makan bersama.

Menelisik penampilan Aby, Yoonra memejam matanya barang sebentar—sekali lagi untuk bersikap tenang. “Pelayan Wang,” panggilnya dengan sedikit memekik untuk menandakan amarahnya. Yoonra mengakukan ekpresinya, menampakkan raut tidak sukanya tanpa basa-basi ketika sang pelayang memenuhi panggilannya. “Berhentikan pengasuh Lee,” perintah pendeknya.

“Sa…saya mengerti,” jawab terbata pelayan Wang. Bukan karena takut—toh dia bekerja di kediaman keluarga Choi semenjak Andrew masih mengompol, melainkan rasa ragunya.

“Ibu sudah memecat 3 pengasuh selama dua bulan terakhir,” timpal Andrew. Dia angkat bicara karena rasa terusik atas perilaku ibunya, bukan karena kepeduliannya terhadap pengasuhan sang putri.

“Dan Ibu akan terus melakukannya jika kerja mereka tidak baik.” Yoonra melirik kembali blus yang dipakai Aby, yang kancingnya mengancing tidak pas pada pasangan lubangnya.

“Tidakkah lebih efektif jika ibu membiarkan pengasuh melakukan tugasnya daripada menyuruh dia—“ tunjuk Andrew pada Aby, “melakukannya sendiri, yang pada akhirnya tidak pernah berakhir dengan hasil baik?”

“Pertama, bahwa yang kau tunjuk ‘dia’ mempunyai nama. Biasakan memanggil dengan namanya untuk membantunya mengenali dirinya. Kedua, bahwa inilah caraku untuk mengajarkannya mandiri. Aku membayar mereka bukan untuk menjadi pelayan Aby, melainkan pengawas dan pembelajar untuknya.”

“Dan ibu akan menghabiskan waktu dan tenaga,” seringai olok Andrew sambil mengelap mulutnya.

Yoonra mengepal jemarinya di pangkuan. “Undang Sooyeon akhir minggu ini untuk makan malam,” putar Yoonra pada topik mereka.

Andrew mengisap kedua pipi dalamnya, kemudian menjawab dengan tenang, “Bisakah ibu membiarkan masalahku yang ini?”

“Dan memberikan kesempatan bagimu untuk mengagalkan hubungan kalian untuk kedua kali?” singgung Yoonra pada batalnya pertunangan Andrew dengan Sooyeon 5 tahun lalu karena skandal Andrew, “Tidak.”

Andrew mendengus kecil, lalu melirik Aby di depannya. Andai saja saat itu dia tidak mengabaikan saran Donghae untuk menghentikan tegukan tequila yang membuat otaknya berputar-putar dan berfantasi gila, mungkin di paginya dia tidak akan terbangun di ranjang dengan seorang wanita yang tidak dikenal dalam keadaan telanjang dan lengket—yang tentu saja menggiring pada pembatalan pertunangannya dengan Sooyeon.

Aby berusaha memotong pancake-nya dengan menekan-nekan sendoknya di potongan pancake yang besar. Setelah tekanan sendoknya meleset dan menimbulkan bunyi denting keras ketika beradu dengan permukaan piring, tangan kirinya menganjur untuk ikut menekan permukaan pancake yang terlumuri saus.

“Aby! Tarik tangan kirimu dari makananmu,” tegur Yoonra.

Wajah riang Aby ketika dia berhasil memotong pancake-nya harus berubah menjadi cebikkan dalam sekejap. Dia membuka kedua tangannya hingga sendoknya jatuh di piring, kemudian mengamatinya sebentar sebelum menurunkan tangan kanannya. Dia terlihat bingung ketika ingin mengambil sendoknya kembali yang berada di sisi kanan, sementara yang berada di atas piring adalah tangan kiri. Dia menunduk, melihat kembali tangan kanan di sisi pangkuannya untuk berpikir.

“Aby, nenek bilang tangan kiri, bukan tangan kanan,” ingat Yoonra dengan menahan diri untuk tidak berteriak.

“Lihat, Ibu,” Andrew meletakkan serbet makannya di atas meja kembali, “Betapa usaha ibu adalah suatu proses yang panjang—dan aku bertaruh ibu akan mengulangi teguran sama makan malam nanti.” Andrew mendorong kursinya ke belakang, kemudian berdiri.

“Ucapkan selamat tinggal pada putrimu,” Yoonra bertahan di posisinya.

Andrew melengos, sebelum memutari meja untuk mencapai tempat Aby. Dia mengangkat tangannya ketika Aby mendongak dan memerhatikannya lekat dengan dua mata bulat. “Sampai nanti,” ucap Andrew singkat sambil menepukkan tangannya di puncak kepala Aby dengan canggung—selalu seperti itu.

“Sam…nan…ti, Yah.”

Untuk kesekian kalinya Andrew mendesah kecewa dengan jawaban Aby. Kemarin Aby mengucapkan ‘sampai nanti, Ayah’, lain hari dia hanya mengucapkan ‘ti…Yah’, dan Andrew sudah hafal dengan variasi salam ini. Andrew membenci Aby, itu sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan karena jawabannya hanya dua huruf dalam cetakan kapital dan tebal. Untuk Aby, dia tidak akan mengelak dan mengganti kata ‘benci’ yang memiliki arti kuat, dengan kata majemuk ‘tidak menerima’ yang terdengar lebih lunak dan manusiawi. Baginya keduanya sama saja. Mungkin rasanya pada Aby sedikit menumpul beberapa tahun belakangan, terlebih ketika Aby mulai tinggal bersamanya. Itu pun akibat Aby memiliki wajah cantik—yang sedikit banyak mewarisi dari sang nenek, yang menggemaskan dan pandangan lugu.

“Sampai nanti, Ibu,” Andrew mencium pipi Yoonra sebagai sebuah kebiasaan dan rasa hormat.

Yoonra mengetahui dan merasakannya bahwa ciuman Andrew semata kebiasaan daripada ungkapan rasa kasih dari anak pada ibunya. Jadi dia pun hanya bergumam atau berujar singkat untuk menjawabnya. Bukan berarti kasing sayangnya pada Andrew meluntur, melainkan sebuah benih kelelahan yang mulai timbul sedikit demi sedikit.

“Pelayan Wang,” panggil Yoonra ketika Andrew telah pergi. “Dampingi nona muda membersihkan diri dan mengganti bajunya, kemudian antarkan dia ke sekolah.”

Pelayan Wang, pria baya yang menjadi kepala pelayan keluarga Choi yang usianya telah mencapai kepala lima, menuntun Aby turun dari kursi makan.

“Pastikan kau sendiri yang mengantarkannya, bukan pelayan lain,” tambah Yoonra sebelum keduanya hilang dari pandangannya.

Pelayan Wang sejenank berpikir, sebelum mengangguk mengiyakan. Empat atau lima tahun lalu ketika jumlah pelayan di rumah ini sangat banyak, dia tidak perlu gamang untuk melakukan setiap perintah, namun sekarang dia harus pandai-pandai memilah dan memilih. Semenjak Tuan Mudanya, Andrew, didupak ke level bawah Shinan, rumah ini mengurangi cukup banyak pekerja. Keluarga ini tidak jatuh bangkrut, hanya saja mengalami masa surut dari kejayaannya.

Yoonra menyandarkan punggungnya, lalu meremaskan jemarinya pada sebuah amplop putih di depannya. Dia tahu ini saatnya, namun dia juga tahu Andrew tak akan—belum, siap. Memejamkan matanya, dia mengatur irama napasnya agar tetap tenang.

***

“Mom, aku berangkat dulu,” Ryung mencium kilas pipi ibunya, yang dipanggilnya ‘mom’, sambil menenteng blazer dan tas kerjanya. Wanita yang memiliki wajah campuran antara timur dan barat ini, terlihat manis dengan gaun kerja selutut yang bewarna abu-abu dengan kerah hijau mint.

“Kau akan bertemu ayahmu akhir minggu ini?” Yoonhee, sang ibu, mengerem keterburuan Ryung dengan pertanyaannya. Tangan kirinya mematikan lipatan kain di gaun yang dipakai manekin, sementara tangan kanannya memegang sebuah jarum. Dia begitu antusias ketika setelah sarapan pagi ini, terlintas sebuah ide untuk diaplikasikan di rancangan terbarunya—dan dia akan menyelesaikan idenya sebelum berangkat ke butik.

Ryung berhenti sejenak, kemudian meneleng kepala. Akhir minggu adalah rutinitas yang selalu dia habiskan di rumah ayahnya—kedua orang tuanya telah bercerai sejak dia berumur dua belas tahun. Menginap di tempat ayah menjadi hal menyenangkan hingga dia berusia tujuh belas tahun—oh tentu saja karena bergadang menonton film dengan free snack adalah kegiatan favoritnya hingga umur itu. Sekarang? Dia telah berumur 28 tahun—dan akhir minggu adalah waktu yang seharusnya dia habiskan dengan calon tunangannya.

Bukan masalah Ryung tidak rindu dengan ayahnya. Dia menghormati ayahnya—menyayanginya juga, namun berbincang dengan ayahnya adalah perkara yang…tidak mudah sekarang. Dia bisa mengangkat tema politik yang sedang memanas, namun ayahnya dipastikan akan memberikan jawaban sesingkat-singkatnya. Dia bisa memilih topik kisahnya dengan Seunghyun, pacarnya, namun dia ragu ayahnya akan tertarik—harga diri lelaki yang pernah mengalami gagal berumah tangga dan kini masih setia menjadi single.

“Ya, mungkin makan malam dengan ayah.”

“Mungkin?” Yoonhee membeo kalimat putrinya. Dia menusukkan jarum ke buntalan busa yang melingkar di tangan kirinya. Matanya menyipit, memberi dugaan, “Kau belum memberitahu ayahmu tentang rencana pesta pertunanganmu?”

“Bisakah kita bicarakan hal ini di waktu yang tepat, Mom?” Ryung melihat arlojinya.

“Bukan sifat lelaki untuk bersabar, Seunghyun tidak terkecuali.” Yoonhee memperingatkan seraya kembali menarik sebuah jarum untuk disematkan di desainnya. “Posisinya juga tidak menuntutnya menunggu.”

Ryung membuat ekspresi jenuh. Andai dia tidak mengencani putra penguasa Shinan sekarang, mungkin akan lain cerita. Percintaannya berjalan seperti umumnya: bertemu di sebuah acara peragaan busana yang diikuti oleh ibunya, berkenalan, berkomunikasi dengan intens, menyatakan ketertarikan, kemudian Seunghyun melamarnya dengan romantis dengan candle-light dinner dua minggu lalu di Marco Polo—restaurant di lantai 52 sebuah gedung pencakar langit di kota Seoul.

Ibunya sudah sering mengingatkan mengenai keseriusan hubungan mereka—dan langsung mengatakan ‘yes’ saat dia mengatakan bahwa Seunghyun melamarnya. Rencana pesta pertunangan pun bergulir, mulai dari pesta tertutup untuk kalangan keluarga hingga pesta super megah di ballroom hotel berbintang. Untuk ini, Ryung memilih opsi pertama, jika dia berhak melakukannya. Akan tetapi hubungannya dengan Seunghyun tidak melulu dimiliki oleh keduanya, melainkan juga menjadi konsumsi keluarga Choi dan ibunya.

“Aku akan memikirkannya, Mom.” Ryung meresume pembicaraannya dengan sang ibu. “Akhir minggu ini aku akan berbicara dengan ayah.” Dia membuka pintu, mengayun langkah sebelum…

“Irish, datanglah ke butik untuk makan siang,” Yoonhee berkata tanpa mendongak dari pekerjaannya.

Mendengar panggilan sang ibu, Ryung menahan langkahnya. Irish adalah nama yang diberikan Yoonhee padanya sebagai sentimen diri setelah perceraian. Yoonhee berasal dari Irlandia, lalu mengubah kewarganegaraannya menjadi Korea setelah menikah dengan ayah Ryung. Setelah perceraian, dia menumpahkan segala daya dan upayanya untuk memajukan Irish—nama merk desain sekaligus butiknya yang juga merupakan nama putrinya.

Ryung? dia menyukai nama koreanya karena hal itu membuatnya merasa menjadi bagian masyarakat Korea. Digarisbawahi bahwa meskipun memiliki teknologi maju dan gaya hidup tinggi, masyarakat Korea kebanyakan masih meletakkan ras dan keturunan mereka di atas lainnya, membuatnya eksklusif. Hal asing, seperti dirinya yang memiliki separuh keturunan Irlandia, adalah sesuatu yang tabu. Sedikit berlebihan jika dikatakan bahwa mereka adalah sauvinis[1], namun sepertinya dia tidak memiliki kata yang lebih dekat daripada itu.  Andai dirinya bukan dari kalangan sosial menengah atas, bisa jadi sudah menjadi korban bully yang berujung pada bunuh diri.

“Ajak Seughyun jika dia bisa,” lanjut Yoonhee, “dan kuharap dia bisa.”

“Akan kutelpon nanti,” Ryung melipat bibir bawahnya, “Bye, Mom.”

***

“Aku terkesan kau masih memiliki waktu untuk mengundangku makan siang,” Donghae menggeret kursi di depan Andrew lalu mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.

“Seolah kau tidak bertemu denganku dalam waktu lama.”

Donghae mengedik bahunya, “Seminggu mungkin.”

“Dua puluh menit tiga puluh detik,” Andrew mencermati angka di jam tangannya.

“Apa?”

“Sisa waktuku.”

Donghae berdesis kecil untuk melecehkan sinisme Andrew—oh dia tahu itu hanya sebuah sinisme. “Kalau begitu kau bisa mengajakku makan malam agar memiliki waktu lebih. Kita bisa berbincang sambil mengosongkan sebotol Bordeaux[2], lalu…” dia mengerling, membuat Andrew mendengus.

I’m totally straight[3]—thank you very much.”

…dan Donghae hanya terkekeh dengan jawaban temannya. Dia hanya menggoda karena, tentu, dia tahu preferensi seksual Andrew. “Don’t worry, I’m either,” dia mengangkat kedua tangannya tertangkut di depan dada, “but maybe two guys could play…”

“Lee Donghae…” geram Andrew mengingatkan.

Ok…ok. So what’s the problem?” Donghae mengambil garpu Andrew, mengambil potongan steak, dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri. Terkadang Andrew pun bertanya bagaimana teman semenjak sekolah menegahnya ini, yang sering berkelakuan seperti bocah sepuluh tahun daripada lelaki berkepala tiga, sukses menjadi penasihat hukum sekaligus pengacara. Jika bukan karena wajah Donghae yang tampan, mungkin orang tidak segan melayangkan tinju tepat di mukanya ketika dia bersikap kekanankan. “I’m all ears for double ‘L’, either love or law problem.”

Andrew mengambil map yang terletak di sisinya, “Aku ingin tahu latar belakang orang ini dengan detail.”

Donghae mengernyit, namun tetap membuka dokumen yang disodorkan padanya. Dia mencermati nama dan foto yang dijepitkan di sudut kanan kertas biodata. “Kim Sungjin?” lafal Donghae yang dalam ingatannya dia belum pernah mendengar nama tersebut—di dalam daftar nama buronan sekali pun.

“Seorang penumpang Korean airlines KE737 yang membatalkan penerbangannya—yang kemudian menjadi satu-satunya orang yang selamat dari tragedi KE737.”

“Dia tidak berada dalam pesawat ketika pesawat itu meledak. Jadi kau tidak bisa mengatakannya sebagai bagian dari tragedi KE737,” komentar Donghae yang ditanggapi dengusan Andrew, lagi.

Ok, dia terhindar dari tragedi itu,” lurus Andrew.

Nah,” Donghae menjentikkan ibu jari-telunjuk dengan gaya pistol ke arah Andrew. “Lalu apa masalahmu?”

“Aku ingin detailnya,” tekan Andrew lagi, “alasan dan apa pun kronologi yang dia miliki di hari itu.”

Donghae menutup map, meletakkan di sampingnya, sebelum menghela napas panjang. “Tragedi ini terjadi 21 tahun silam—jika kau lupa…”

“Aku tidak akan lupa hari dimana ayahku hangus, yang bahkan jasadnya pun tidak kutahu hingga sekarang,” Andrew menggeratkan gigi-giginya.

Choi Jumyuk, ayah Andrew, merupakan salah satu dari 159 orang yang dinyatakan meninggal dalam tragedi KE737—sebuah penerbangan komersial yang meledak dan jatuh di perbatasan Korea Utara dengan Cina. Berita mengatakan bahwa pesawat nahas tersebut meledak karena kerusakan mesin di sekitar tangki bahan bakar yang mengakibatkan kebakaran diikuti ledakan. Akibat jatuh di wilayah perbatasan—dan Korea Selatan tidak memiliki hubungan diplomasi yang cukup baik dengan Korea Utara, penyelidikan pun terkendala. Seluruh bangkai pesawat dan sisa-sisa ledakan berada dalam sitaan Korea Utara karena dalih bahwa KE737 melanggar area terbang.

“Kau ingin menelusuri lagi tragedi ini?” tanya Donghae dengan tidak yakin. “Meskipun tidak akan berhasil?”

Andrew menyandarkan punggungnya untuk merilekskan diri. “Menurutmu?”

“Kau pernah melakukannya…”

“Lima tahun lalu,” sambung Andrew, “ya—dan tidak mendapat hasil kecuali dugaan bahwa senjata rudal Korut menghantam KE737 dan menjadi penyebab pesawat itu meledak.”

“Dan kau ingin menelusurinya lagi?”

“Aku ingin menuntaskan apa yang kumulai.”

Oh ya, sesuatu yang kau mulai sebelum kau meniduri wanita itu dan…boom…lahirlah seorang malaikat cantik,” Donghae bertepuk sekali, lalu tersenyum semanis mungkin. “Bagaimana kabar keponakanku?”

Andrew memijat keningnya, bersabar dengan candaan Donghae yang diartikannya sebagai sarkasme. Dia mengangkat pergelangan tangannya untuk mengecek waktu, “lima menit lagi—dan aku tidak ingin mengambil resiko kepalaku meledak jika berada lima menit lebih lama di sini.”

Oh, that’s hurt…” Donghae membuat mimik sendu, meletakkan sebelah tangannya di dada untuk menghiperbolis guyonannya.

“Kim Sungjin,” Andrew menekan telunjuknya di atas map untuk mengembalikan topik mereka. “Aku menunggu kabar baik darimu, setidaknya dua atau tiga hari lagi.”

“Peristiwa dua puluh satu tahun silam, dan kau hanya memberikanku 2-3 hari,” comelan Donghae. “Hei, aku bukan bawahanmu yang akan berucap ‘ya, pak’ atau ‘kami laksanakan, pak’, kau memiliki…” dia berpikir, “Hyukjae…yah…orang itu… orang yang selalu menjadi sidekick-mu.”

Andrew menarik dua tepi kerah jasnya yang saling mengadu dengan sentakkan keras. Andai dia bisa melakukannya—memerintah Hyukjae menggunakan semua sumber untuk mengakses informasi, dia tidak akan berada di sini dan bersabar menerima sarkasme Donghae. Bukan dia membenci Donghae, toh satu-satunya teman loyal yang dia miliki setelah dia ditendang ke level bawah Shinan hanya Donghae seorang. Juga, Donghae-lah yang selalu menyelamatkan pantatnya ketika beberapa kali dia mendapat masalah: membuat keributan di pub, mengendarai mobil melebihi batas kecepatan, memukul wajah seorang direksi, dan…skandal seksnya dengan Lee Yeol yang memberikannya seorang putri.

“Jika kau tidak lupa, aku kehilangan hakku memerintah Hyukjae lima tahun lalu,” Andrew mengerutkan batang hidungnya, “mungkin dia sekarang sedang menepuk-nepuk pantat sepupuku.”

“Ah, benar,” Donghae menegakkan telunjuknya. Dia mengetahui posisi Andrew sekarang, hanya saja menggoda temannya yang satu ini adalah kepuasan—karena dia suka melihat wajah frustrasi Andrew atas hal sepele. “Dan aku bergembira untuk Hyukjae karena dia tidak perlu menepuk-nepuk pantatmu, melainkan sepupumu—Seunghyun,” sengir Donghae.

Untuk kesekian kali Andrew hanya mendengus.

“Kau tahu, aku suka gaya sepupumu ‘untuk kejayaan Shinan’ wah…” Donghae mengangkat tangan dan mengepalkannya ke udara, menirukan gestur Seunghyun di sebuah interview. “Kau harus mengakui bahwa sepupumu memiliki gaya.”

“Dia bisa memenangkan retorika kampanye partai politik.”

“Apa?” Donghae mengangkat dagunya.

“Seunghyun.”

Cish…” desis Donghae yang disusul kekehan keduanya.

***

Kejutan Andrew adalah ketika dia kembali ke kantornya seusai makan siang dengan Donghae, dan yang ditemuinya adalah seorang wanita bernama Kim Yuri, yang merupakan guru kelas Aby. Andrew sudah melewati tahapan malu, toh dirinya yang berputri tanpa suatu pernikahan tidak lagi menjadi rahasia. Dia hanya merasa tidak nyaman ketika seseorang yang berkaitan dengan Aby muncul di depannya, seolah menggosokan aibnya di wajahnya sendiri. Panik, itulah yang terjadi pada dirinya, meski dalam skala kecil.

Masih beruntung Andrew menempati jabatan manajer pemasaran sehingga dia memiliki ruang terpisah daripada kubikel. Bayangkan jika dia harus menemui guru Aby di kubikel atau kantin kantor, yang kemudian pembicaraan mereka akan terdengar, selanjutkan akan menjadi gosip beberapa hari ke depan—terima kasih banyak. Andrew tidak memerlukan lagi hal yang membuat kepalanya berdenyut.

“Anda mengabaikan panggilan pihak sekolah sebanyak 3 kali,” alasan Yuri mengapa dirinya datang ke kantor Shinan.

Andrew menjalin jemarinya, dengan tenang memainkan kursinya mememutar ke kiri kanan barang sedikit secara berulang. Rautnya yang suram dengan mata memicing adalah ungkapan ketidaktertarikkannya, namun dia tidak bisa menghidar. Namanya telah dicantumkan sebagai wali dari Aby ketika putrinya mendaftar sekolah. “Lalu?”

“Putri Anda mengalami kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah kami. Dia tidak dapat mengkuti instruksi yang kami guru berikan,” Yuri menerangkan meski dia merasa orang di depannya tidak kooperatif. “Terlebih Abigail juga masih kesulitan untuk mengucapkan kalimat dengan benar.”

Andrew tidak terkejut sebab itulah yang dia cermati setiap kali dia bertemu Aby—katakan saja waktu sarapan dan makan malam karena hanya di waktu itulah dia bertemu Aby.

“Kami pihak sekolah menyarankan agar Aby bertemu dengan psikolog untuk melakukan beberapa tes psikologi—telah kami beritahukan kepada Anda tentang hal ini seminggu lalu, namun Anda mengabaikannya,” buru-buru Yuri untuk menjelaskan sebelum terjadi salah paham. Kemudian Yuri sangsi keterangannya bermakna bagi Andrew karena bahkan dia tidak mengubah mimik wajahnya. “Sekolah memfasilitasi setiap murid untuk melakukan tes—“

“Tidak bisa mengikuti instruksi bukan berarti dia menderita sesuatu hingga perlu melakukan tes psikologi, bukan?” sangkal Andrew.

“Namun untuk anak seusia Abigail—“

“Dia baru berusia 5 tahun, jika Anda lupa,” potong cepat Andrew lagi.

“Dan anak seusianya telah mampu mengulang kalimat utuh dan memahami instruksi sederhana dengan benar,” Yuri mencoba bertahan dengan pendapatnya. Tujuannya menemui orang tua wali adalah menyampaikan keganjilan putra-putri mereka.

“Mungkin dia hanya terlambat berkembang, bukankah itu wajar terjadi di usianya?” Andrew masih menggunakan intonasi datar.

“Ya, akan wajar jika itu terjadi di awal dia mulai belajar berbicara atau belajar berjalan—dan itu terjadi di usia 4 bulan hingga 36 bulan.” Yuri meyodorkan sebuah kartu nama, “Pihak sekolah bekerja sama dengan Psychology Center untuk menyelenggarakan tes psikologi. Jika Anda menyetujuinya—“

“Aku belum sepakat akan hal ini, Nona Kim,” Andrew mengadu alis.

“Abigail tidak mengalami kesulitan bicara karena dia dapat mengucapkan setiap suku kata dengan jelas, kecuali beberapa huruf yang masih cadel.”

“Kalau begitu dia hanya lambat dalam belajar.”

Yuri mengembus napas pendek dengan cepat, “Sangat, jika aku boleh berkata apa adanya. Normalnya seorang anak sudah mampu mengucapkan kalimat sederhana dengan lancar pada usia 2-3 tahun.”

Pada bantahan ini, Andrew mulai berpikir. Dia tidak tahu menahu mengenai tahap perkembangan anak—sama sekali, meskipun telah memiliki putri berumur 5 tahun.

“Lebih baik kita mengetahui lebih dini mengenai hal-hal yang menghambat perkembangan anak-anak kita, daripada terlambat.”

Andrew mengambil kartu nama yang Yuri sodorkan, membacanya sekilas, lalu meletakkannya kembali. Dia mengurut kening, kemudian menghadap lagi pada Yuri. “Aku akan mempertimbangkannya. Terima kasih.” Demikian dengan implisit dia mengusir Yuri dan tidak berkenan berbicara lebih lanjut mengenai masalah ini.

“Kami mengupayakan yang terbaik, Tuan Choi,” Yuri menyampaikan hal terakhir yang dia perlu sampaikan. Dia membungkuk kecil sebagai salam, sebelum melihat ekspresi Andrew—yang tidak berubah.

***

Ryung menjaga punggungnya tetap tegak ketika pekerja-pekerja ibunya membenahi bagian pinggang dari gaun yang dia coba. Gaun panjang bewarna coklat keemasan dengan lengan menutup pergelangan, kerah datar menutupi tulang selangkanya, namun berpotongan V di bagian punggung hingga ujung V-nya tepat di atas pinggang. Ini gaun ketiga yang dia coba selama kira-kira…1 jam dia berada di butik ibunya—yang tadi pagi beralibi menyuruh datang ke butik untuk bersama-sama makan siang.

Ketika tirai dibelakangnya dibuka, Ryung bisa melihat refleksi ibunya dan Seunghyun yang duduk di sofa, tepat di depan dia berdiri sekarang. Sesuatu yang membuatnya mengakar di tempatnya adalah binar mata Seunghyun yang tertangkap cermin setiap kali dia mencoba gaun baru, tidak terkecuali kali ini. Menyaksikan bagaimana hal kecil dari dirinya mampu mengangkat ekspresi kaku di wajah tampan Seunghyun adalah kesenangan.

Ryung memutar tubuhnya, kemudian mengangkat kedua tangannya ke masing-masing sisi tubuh. Dia berharap ini adalah gaun terakhir yang dia coba karena dia jemu. Walaupun keinginannya sepertinya akan sia-sia tanpa bantuan Seunghyun sebab yang dia lihat perkerja ibunya menyeret penggantung baju yang berisi tidak kurang dari selusin gaun. Ryung mengerutkan kening, menjadikan rautnya berubah sendu, dan itu menjadi tanda bagi Seunghyun untuk berdiri dari duduknya.

Seunghyun mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Ryung. “Jadi?” tanyanya dengan suara berat khas miliknya.

Ryung menjumput kerah jas Seunghyun, kemudian menyodok wajahnya di antara leher dan bahu Seunghyun. “Pilih salah satu, aku pastikan akan mengenakannya,” ucapnya tidak jelas karena teredam bahu Seunghyun.

Oh lovebirds,” ujar jengah Yoonhee, sebelum beranjak dari tempatnya untuk meninggalkan putrinya. Seingin-inginnya dia terlibat dalam romantika putrinya, dia juga tahu kapan harus memberikan privasi.

Seunghyun terkekeh kecil. Dia menikmati Ryung yang melendot manja padanya, dan dia tahu alasannya sikap Ryung kali ini. Untuk kesekian kali, gadisnya hanya lelah dengan campur tangan orang lain di antara hubungan mereka, meskipun itu adalah keluarganya sendiri. “Katakan aku memiliki waktu 45 menit sebelum kembali, kita bisa berjalan ke café depan dan memesan camilan favoritmu, bagaimana?” Dia tahu kapan mood Ryung jatuh dan tahu bagaimana mengembalikannya.

“Terdengar menyenangkan.”

“Atau,” Seunghyun menyatukan jemarinya di belakang pinggang Ryung, lalu mengayun kecil badan mereka ke kanan dan kiri, “kau membiarkanku kembali ke kantor sekarang sehingga urusanku selesai lebih cepat, dan aku bisa menjemputmu sore ini…eum…sebut saja Namsan sebagai tempat makan malam kita.”

Cish,” Ryung tersenyum dan menggeleng, “kau bernegosiasi lagi.” Ryung memaku dagunya di bahu Seunghyun dan menikmati ayunan badan mereka. “Bagaimana jika kau menunjuk satu gaun untukku, kemudian memberikanku tumpangan ke café depan, dan sorenya kau bisa membawaku ke Namsan.”

“Terdengar lebih menyenangkan.”

“Tentu saja.”

Dengan seperti itu, Seunghyun merabakan telapak tangannya ke punggung terbuka Ryung. “Gaun yang kau pakai sekarang,” pilih Seunghyun, “—dan aku tahu kau akan menanyakan alasannya,” sambungnya dengan kekehan karena dapat menebak jalan pikiran Ryung.

“Mengapa?”

“Agar aku bisa memamerkan tunanganku yang berparas cantik dengan…” Seunghyun melarikkan jemari-jemarinya di kulit punggung Ryung, menikmati kelembutannya, “punggungnya yang elok.”

“Dan kau lebih rela beberapa pasang mata menelanjangi tubuhku.”

Seunghyun memberikan kecupan kecil di pangkal leher Ryung, “Mereka boleh melihat, namun tidak boleh menyentuh—itulah aturannya[4].”

Ryung mendengus, memberikan tinju ringan di dada Seunghyun, “Arogan.”

“Namun kau menyukainya, kan?”

Ryung mengiyakan dengan tawa, kemudian menjauhkan wajahnya dari bahu Senghyun. “Sekarang Tuan Choi, bisakah kita bergegas?” dan Seunghyun hanya menyeringai, lalu mengecup kening Ryung.

 

Bagian [2]

 

Ryung mengalungkan beberapa barang bawaannya dengan susah payah di kedua lengannya. Dia mengatur bawaannya agar jemarinya bebas untuk sekadar memencet bel pintu rumah ayahnya. Satu…dua…tiga…dan akhirnya pintu terbuka. Ryung mendongak, siap menyapa ayahnya. “Kyuhyun?” keningnya beradu.

Yeah, hai. Ayahmu di dalam,” Kyuhyun menggunakan ibu jarinya untuk menunjuk ke dalam.

Ryung masuk ke dalam, namun pandangan herannya masih melekat pada Kyuhyun yang menutup pintu, membuat yang dipandang salah tingkah. “Oh, bisakah kau membantuku dengan ini?” putus Ryung pada tatapannya.

“Tentu,” Kyuhyun mendekat, buru-buru mengambil beberapa tas dari lengan Ryung. Dia berjalan lebih dulu, melalui ruang tamu hingga ke ruang makan. Tanpa banyak tanya, Kyuhyun meletakkan beberapa bawaan Ryung, yang dari bungkusnya sudah pasti adalah makanan, di meja makan.

Ryung mengekor, melakukan hal serupa dengan Kyuhyun—meletakkan bawaannya di meja makan. Dia menoleh tepat ketika ayahnya keluar dari area dapur, yang hanya berbatas sebuah meja bar dari ruang makan. “Halo, Yah,” Ryung memeluk dan memberikan cium di pipi.

“Hai,” dan Ryung tidak berharap mendapat jawaban hangat dari ayahnya yang cenderung kaku.

“Aku memasakkan makanan favorit ayah, soondobu jiggae, kimchi, yangnyeom tongdak,” Ryung mulai mengeluarkan beberapa kotak kontainer makanan, “dan aku sempat mampir ke restauran tempat ayah membeli seolleongtang dan japchae,” dia meraih bungkusan lain.

“Ini melegakan,” sisip Kyuhyun yang membuat Ryung berhenti sejenak.

Mata Ryung menginspeksi dapur, yang penggorengnya masih di atas kompor, cipratan minyak yang mencapai dinding, beberapa potong daging ayam di sebelahnya yang masih mentah, panci bertumpuk yang kotor, potongan selada dan wortel yang berceceran, mie yang masih di saringan tertumpang di wastafel…oh.

“Lain kali aku tidak akan meminta bantuan Kyuhyun,” Jinsuk, ayah Ryung, berjalan ke dapur hanya untuk mengambil piring dan mangkuk di lemari atas. “Seharusnya ini menjadi yangnyeom tongdak dan japchae.

“Hei, ini juga bukan ideku,” bela Kyuhyun dengan wajah dan bibir mengerut, “aku sudah katakan memasak adalah ide buruk.”

“Masakan rumahan lebih sehat, setidaknya itu yang kubaca.”

“Jika memasaknya dengan benar dan dengan cara yang…manusiawi.”

“Kalau begitu agendakan mengikuti les memasak.”

Kyuhyun menyipitkan matanya—yang berbentuk almond, yang menurut Ryung seperti mata Rudolph the red-nosed reindeer. Hidung mancungnya yang mengerut dan bibir penuhnya yang mencebik, Kyuhyun memberikan ekspresi kau-pasti-bercanda.

Ryung diam di tempat, memerhatikan ayahnya dan Kyuhyun berinteraksi. Siapa Kyuhyun? dia bukan famili, secara teknik juga bukan saudara angkatnya. Ayahnya mengenalkannya pada Kyuhyun ketika dia berusia 17 tahun, sementara Kyuhyun 16 tahun. Percaya atau tidak, di usia itu Kyuhyun sudah menjadi mahasiswa termuda. Bahkan ketika dirinya masih kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah trigonometri, Kyuhyun telah menekuni kalkulus.

Di awal mengenal Kyuhyun, Ryung tidak menyukainya. Anak itu walaupun memiliki wajah manis, namun memiliki tatapan antipati. Berkomentar apa adanya tanpa tersaring dan lebih sering merunjung bibirnya daripada tersenyum, Kyuhyun benar-benar seperti devil terperangkap dalam tubuh angel. Katakanlah seperti ini, pertama bertemu kau ingin mencubit pipinya, setelah mendengarnya bicara, kau ingin menendang pantatnya.

Hal yang menjadikan Jinsuk dan Kyuhyun dekat, kemungkinan besar adalah sains. Walaupun secara keilmuaan sangatlah berbeda, Jinsuk mendapat gelar professor dalam bidang biologi, sementara Kyuhyun menyambet doktoralnya dalam bidang teknologi. Bisa jadi keduanya bergosip dan menertawakan orang-orang sekeliling mereka, kemudian mengatakan ‘karena mereka bodoh’ sambil menyantap sarapan di sebuah restoran.

Satu hal lagi adalah, Kyuhyun yatim piatu sejak umur 6 tahun, sedangkan Jinsuk adalah duda. Jika saja Jinsuk masih berkeluarga, sudah pasti dia akan mengadopsi Kyuhyun. Sayangnya statusnya sebagai pria yang bercerai tidak cukup mampu untuk melakukan adopsi, saat itu. Jadi Jinsuk hanya bisa menjadi rekan Kyuhyun atau mengundangnya untuk menghabiskan akhir pekan bersamanya.

Ok,” sela Ryung di antara ayahnya dan Kyuhyun yang beradu, “siapa yang akan menata meja?”

“Biarkan aku saja,” jawab keduanya, Jinsuk dan Kyuhyun, yang membuat Ryung lagi-lagi merasa menjadi orang asing di rumah ayahnya sendiri.

***

Andrew menepuk punggung Sooyeon, menyilakannya menunggu di ruang keluarga. “Aby,” panggilnya pada putrinya yang sedang bermain dengan boneka dan satu set mainan masak-memasak, “kemari dan berikan salam pada Tante Sooyeon.”

Aby mendongak ketika mendengar panggilan ayahnya. Dia meletakkan cangkir mainan yang tadi disodorkan di depan mulut teddy bear-nya. Mengedipkan mata, memandang dengan ragu, sebelum dia berdiri pelan. Aby mengangkat tangannya, lalu mengigit ujung-ujung jemarinya. Ayahnya jarang memanggilnya, lain itu dia juga merasa asing dengan orang di samping ayahnya.

Adalah Sooyeon yang mendekat dan menekuk kakinya untuk menyamakan pandangan dengan Aby. “Halo, Cantik,” sapanya sambil membelai pipi Aby dengan punggung telunjuknya.

Aby melirik ayahnya, kemudian melirik lagi Sooyeon.

“Jangan menggigiti jarimu,” nasihat Sooyeon yang menarik tangan Aby keluar dari mulutnya, kemudian mengambil tissue di meja untuk mengelap jemari Aby.

“Katakan halo pada tante,” ulang Andrew yang berdiri di belakang Sooyeon.

“Lo…” lirih Aby yang memandang Sooyeon dengan tanda tanya.

“Halo, Aby, berapa kali harus kukatakan?” tegur Andrew yang kemudian diam ketika Sooyeon memandangnya dengan raut biarkan-saja.

“Katakan, halo Tante Sooyeon,” Sooyeon membimbing Aby sambil memegang kedua tangan Aby.

Mata bulat Aby memandangnya dengan intens, seakan sungguh memerhatikan gerak mulut Sooyeon. “Ha…ha…lo…ten…” Aby berhenti, mencebik bibirnya dan menggelembungkan pipi bulatnya. Mungkin jika tante di depannya mengulang lagi dengan lambat, dia bisa mencoba menirukannya kembali.

“Tan-te-Soo-yeon,” tekan Sooyeon pada setiap suku katanya.

“Ten…ten…Soo…” tirunya sepatah-sepatah.

Kemudian Andrew untuk pertama kali mengamati kesulitan bahasa putrinya. Dia diam, alis dalamnya mengadu, dan kedua tangannya bersedekap. Pikirannya mengingat konten yang disampaikan guru Aby yang menemuinya dua hari lalu.

“Ok, Cantik. Kau bisa memanggilku Tante Soo,” putus Sooyeon yang sepertinya lebih mengerti kesulitan Aby daripada ayahnya sendiri. “Tan-te-Soo,” ulang Sooyeon dengan sabar.

“Soo…” Aby mengerucutkan bibir mungil merah mudanya dengan menggemaskan.

“Sudahlah, ibu menunggumu,” Andrew menepuk pundak Sooyeon untuk menyudahi interaksinya dengan Aby. Andai saja ibunya tidak memaksa dia mengundang Sooyeon makan malam di rumah, dia lebih memilih mengajak Sooyeon menaiki Hangang River’s Cruise sambil menyantap menu spesial yang ditawarkan pesiar itu. Sayangnya sang ibu memiliki dalih mengenalkan Aby pada Sooyeon, yang nantinya ketika mereka menikah, mau tak mau Sooyeon akan menjadi ibu bagi Aby.

“Kalau begitu ayo,” Sooyeon berdiri dengan sebelah tangannya menggandeng tangan Aby. “Ayo…ayo…Cantik,” ucapnya riang dibarengi langkah-langkah lari kecil agar Aby mengikutinya. Dia sedikit membungkukkan badannya, melihat putri mantan tunangannya—yang sekarang kembali menjadi pacarnya lagi, berlari kecil di sisinya dengan senyum senang.

“Tan-te…Soo…” girang Aby yang mengikuti langkah Sooyeon dengan berjingkrak kecil. Mata bulatnya menyipit, pipinya merona merah.

…dan Andrew mengekor di belakang keduanya dengan terheran.

***

“Ayah, bisakah kita bicara sebentar?” Ryung menghampiri ayahnya yang duduk bersebelahan dengan Kyuhyun. Dia tidak sempat menyampaikan berita mengenai pertunangannya dengan Seunghyun ketika makan malam karena situasinya tidak memungkinkan. Jadi sepanjang makan malam, dia hanya berkomentar sekecap pada cerita ayahnya dan Kyuhyun. Demi apa pun dia sulit mengerti bahasa keduanya mengenai sel in-vitro atau virus Trojan—hanya dua istilah ilmiah itu yang dia ingat.

“Kalau begitu duduklah,” jawab sang ayah yang sepertinya tidak peka dengan permintaan sang putri.

Ryung memberikan tatapan meminta—waktu privasi. Walaupun pada masa remaja Ryung beberapa kali menghabiskan akhir minggu bersama Kyuhyun—karena ayahnya mengundang Kyuhyun ke rumah, dia tetap tidak terbiasa dengan Kyuhyun. Dia tidak membenci Kyuhyun seperti pertama kali bertemu, melainkan hanya perasaan asing. Saat pertama pun, sebenarnya benci yang dia maksud hanya rasa tidak suka kekanakan, itu saja.

Ermm…aku kembali ke kamarku,” Kyuhyun berdiri seketika saat mengerti situasi.

“Kamar?” Ryung membeo kalimat Kyuhyun dengan intonasi tanya.

“Kyuhyun tinggal bersamaku sejak sebulan lalu,” jelas sang ayah dan Ryung hanya membulatkan mulutnya.

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya ringan, sebelum meninggalkan keduanya.

“Jadi Kyuhyun tinggal di sini?” ulang Ryung untuk memastikan hal yang dia dengar. Dia duduk di tempat yang tadinya diduduki oleh Kyuhyun. Dia kecewa ketika ayahnya tidak mengabarinya mengenai hal ini, yang bagi Ryung merupakan sesuatu yang penting.  “Ayah…mengadopsinya?” lirihnya.

Jinsuk menggeleng, “Tidak…tidak…Kyuhyun telah dewasa, tentu saja ayah tidak perlu lagi mengadopsinya. Kebetulan tempat kerjanya lebih terjangkau dari sini. Jadi ayah menawarkannya untuk tinggal di sini—lagipula masih ada satu kamar kosong untuk ditempati.”

Dan itu kamarku, dulu,” batin Ryung meneruskan ucapan ayahnya. Jika dia masih anak-anak, dia akan menangis karena cemburu pada perhatian ayahnya yang terebut oleh anak lain. Bahkan sepertinya Kyuhyun lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya, sebab sejak resmi bercerai hak pengasuhannya jatuh ke tangan ibu dan dia hanya mendapat akhir minggu untuk dihabiskan bersama ayah.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Oh,” Ryung menghentikan rentet pemikirannya. Dia mengambil napas panjang, kemudian menghadap sang ayah. “Seunghyun melamarku, Yah.”

Satu…dua…dan tanggapan ayahnya adalah diam. Inilah mengapa Ryung memilih berbicara berdua dengan Jinsuk. Sejak pertama dia memberi kabar berpacaran dengan Seunghyun, kemudian ayahnya bertanya ‘Seunghyun siapa? Apakah Choi Seunghyun dari Shinan?’ dan dia mengiyakan, ayahnya bungkam. Setelah itu Ryung selalu berpikir dua kali untuk menyebut Seunghyun di depan ayahnya.

“Kami akan bertunangan dahulu,” buru-buru Ryung menyelesaikan kalimatnya, “dan pesta pertunangan akan diadakan dua bulan…atau tiga bulan lagi, menunggu hingga rapat akhir tahun Shinan.”

“Lalu apa maknanya Seunghyun melamarmu sekarang, jika pesta pertunangan kalian diadakan dua atau tiga bulan lagi?”

“Tentu saja tidak sesederhana itu—meski sebenarnya aku berharap demikian, namun aku juga tidak bisa mengabaikan kedudukannya di Shinan. Dia akan dipromosikan menjadi co-CEO Shinan tahun ini dan—“

“Jika dia mencintaimu, dia bisa melakukan lebih baik dari ini.”

“Dengan mengabaikan pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai penerus Shinan?”

“Dia bisa mengatur percintaannya tanpa mengabaikan tanggung jawabnya.”

Ryung meletakkan sebelah tangan di dahinya, kemudian mengusapkannya mundur. “Ayah, dia telah melakukan hal terbaik yang dia bisa.”

“Menurutmu, kan?”

“Mengapa ayah begitu menentang hubungan kami?” tanya balik Ryung.

“Ayah tidak menentangnya, Ryungie,” pada panggilan ini, Ryung sejenak meluluh. “Ayah hanya menanyakan suatu hal logis.”

“Dan hal yang ayah anggap logis, tidak sejalan dengan pemikiran Seunghyun. Bukankah ini hanya perbedaan kecil yang tidak perlu diributkan?”

“Benar, ini adalah hal kecil—dirimu dalam urutan prioritasnya,” tekan Jinsuk.

“Ayah, aku benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan ini,” Ryung menggeleng. Pertama ayahnya menanyakan tenggang waktu antara lamaran Seunghyun dengan pesta pertunangan mereka. Kedua, ayahnya menyinggung urutan dirinya dalam prioritas Seunghyun.

“Kalau begitu kau memilik waktu paling tidak dua bulan untuk memikirkannya,” Jinsuk berdiri, kemudian meninggalkan Ryung sendiri.

“Ayah…” rengek Ryung yang terabaikan.

***

“Hei, kau melamun?” Sooyeon mengambil tempat di sisi Andrew sambil menganjurkan secangkir teh madu.

“Oh,” Andrew menegakkan punggungnya, kemudian menerima teh yang diberikan Sooyeon. “Terima kasih,” dia meminum teh tersebut, yang cukup mengurangi ketegangan pikirannya.

Makan malam dengan perbincangan ini dan itu yang sebagian besar mengenai prospek ke depan Yongguk, perusahaan di mana keluarga Sooyeon merupakan salah satu pendiri, berakhir dengan manis. Andrew berkecimpung di bidang yang sama sehingga menjadi lawan bicara yang seimbang, demikian juga ibunya. Hanya si kecil Aby yang sibuk dengan makanannya sendiri. Aby akan merunjung bibirnya ketika jamur di supnya meleset dari sendok atau akan menurunkan bahu mungilnya dengan kesal ketika potongan dagingnya terlalu besar untuk ditelan. Seperti itu Sooyeon hanya tersenyum geli, lalu mengulurkan lap ketika saus steak mengotori bibir dan pipi Aby.

“Dia sudah tidur,” Sooyeon menyandarkan sisi tubuhnya ke punggung sofa sehingga dia dapat memerhatikan Andrew dengan lebih jelas.

“Uh?” tanggapan Andrew dengan alis yang mengejut ke atas.

Sooyeon tersenyum kecil, sebelum meletakkan kepalanya di puncak sandaran sofa. “Aby,” ulangnya, “dia sudar tidur.”

“Oh,” Andrew mengikuti Sooyeon, menyandar di punggung sofa.

“Jadi apa yang kau lamunkan?”

“Tidak…” Andrew menerawang ke depan, sebelum memaling wajahnya pada Sooyeon.

Sooyeon, wanita yang baru beberapa bulan lalu kembali memberikan kesempatan pada hubungan mereka. Andrew yakin Sooyeon telah jenuh mendengar kata maaf dan penjelasannya mengenai skandal seksnya dengan Lee Yeol. Dia pun muak untuk merendah dan meminta maaf, bukan pada Sooyeon seorang, melainkan juga pada orang-orang yang kecewa padanya. Jika bukan desakkan sang ibu, dia ingin mengabaikan cerita cintanya untuk sementara waktu.

Sampai kapan? itu pertanyaan Yoonra yang sebenarnya oleh Andrew ingin dibantah. Andrew ingin mengembalikan posisinya di Shinan ke tempat seharusnya, baru kemudian memikirkan kisah asmaranya dengan siapa pun itu. Berhubungan kembali dengan Sooyeon membuatnya sedikit tidak nyaman—jika boleh jujur. Bukan karena kekurangan yang ada pada diri Sooyeon, melainkan sebaliknya.

Sooyeon termasuk pimpinan atas Yongguk, generasi yang digadang-gadang akan meneruskan perusahaan tersebut. Secara fisik, meskipun Sooyeon hanya memiliki tinggi kurang dari 160 cm, namun tubuh rampingnya memberikan kesan semampai. Selain itu wajah mungilnya adalah hal yang didamba wanita Korea.

Andrew? dengan apa yang dia miliki sekarang merasa rendah diri—sebagai pria, jika disandingkan dengan Sooyeon. Meskipun dia cukup senang ketika Sooyeon menerimanya kembali, namun dia tidak merasakan keleluasaan dalam dadanya.

“Aku hanya memikirkan tentang…kita,” ungkap Andrew setelah membisu cukup lama.

“Kalau begitu aku ingin mendengarkannya.”

Andrew menggeleng kecil dan tertawa geli. Dia mengulurkan tangannya, kemudian mengambil tangan Sooyeon dan meletakkan di pangkuannya. “Aku ingin memberikan kelonggaran padamu.”

“Kelonggaran?” Sooyeon membiarkan tangannya diremas lembut oleh Andrew, hal yang dia rindukan di masa lalu mereka.

“Kesalahanku, seberapa besar aku ingin memperbaikinya tetap tidak akan mengembalikanku seperti semula. Ada Aby yang mau tidak mau menjadi tanggunganku. Selain itu, aku masih menjalani konsekuensi yang diberikan Shinan. Saat ini, meskipun berat, aku mengakui bahwa aku bukan pilihan terbaik bagimu.” Andrew menatap Sooyeon, ingin mencari perubahan ekspresi di wajah ayu itu. Dia mengembus napas panjang ketika tak mendapati perubahan yang dia harapkan.

“Dengan kondisiku sekarang, aku tidak ingin mengikatmu.” Keluar juga hal dilamunkan oleh Andrew. Bukan satu atau dua kali dia memikirkan hal ini.

Sooyeon tersenyum kecil, lalu menyeludukkan kepalanya ke bahu Andrew. “Jauh sebelum kuputuskan menerimamu, aku telah memikirkannya.”

“Dan aku belum mendengar alasanmu.”

“Sederhana saja,” Sooyeon menumpu dagunya di bahu Andrew, “karena aku menginginkannya.”

“Atas dasar?”

Sooyeon memanjangkan lehernya, hingga bibirnya dapat memberikan kecupan di rahang bawah Andrew. “Untuk segala kata klise yang menjadikan sepasang sejoli memutuskan bersatu.”

Andrew menarik senyum kecil, tidak cukup membuat lesung pipitnya terlihat kentara. Tidak berubah. Itulah kesan Andrew pada cara mereka menyampaikan kata cinta. Baik dia maupun Sooyeon tidak pernah mengatakan kata cinta secara gamblang seperti pasangan-pasangan lain. Mungkin dirinya yang terlalu kaku, mungkin juga harga dirinya. Dia memaling dan meneleng ke samping, menjangkau bibir Sooyeon untuk sebuah kecupan simpel.

Tangan Sooyeon meraih leher Andrew ketika dia mengadu dahi mereka. “Aku pernah berpikir, bagaimana jika nantinya kau mengulang kesalahan yang sama,” dia menggerakkan telunjuknya ke depan bibir Andrew untuk membungkam. “Kali ini aku membutuhkan waktu lima tahun untuk mampu berdekatan lagi denganmu. Entah berapa tahun waktu yang kubutuhkan jika kau mengulangi kesalahan ini. Aku ingin meminta jaminan padamu, namun itu pun tidak mungkin—karena aku tidak menginginkan janji-janji.”

Andrew bergumam kecil, mendengarkan. Dia mengangkat tangan Sooyeon yang digenggamnya, lalu mengecup jemari-jemarinya beberapa kali. Berhadapan dengan orang lain, Andrew boleh menjadi pribadi tegas, namun tidak jika di hadap Sooyeon. Meski sikap kikuknya sedikit banyak masih tampak, tapi tidak sekentara adat saban. “Apa yang bisa kulakukan?”

Sooyeon menangkup pipi Andrew, merasakan tusukan ringan cambang Andrew di pangkal telapak tangannya. “Menjadi dirimu,” jawab Sooyeon, “aku ingin melihat seorang Andrew Choi lagi…dalam hubungan ini.”

“Bagaimana jika yang kau lihat bukanlah sesuatu yang kau harapkan?” mencuat rasa khawatir pada diri Andrew, “Aby…”

“Aku tahu kau belum bisa menerimanya—dan kau tidak perlu mengatakan alasannya,” sambung Sooyeon dengan cepat saat Andrew membuka mulut. “Pelan-pelan, aku yakin suatu hari kau bisa menerimanya.”

Andrew mengentak kepalanya di puncak sofa, “Namun aku tidak yakin hari itu akan datang cepat.”

“Pelan-pelan…Andrew…pelan-pelan.” Sooyeon menepuk-nepuk dada Andrew. “Ah, satu hal lagi mengenai Aby—“

“Gurunya mendatangiku dua hari lalu, mengatakan mengenai perkembangan bahasanya yang kurang,” penggal Andrew kilas seakan mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Sooyeon.

“Lalu?” Sooyeon menyerap informasi Andrew sebab hal itulah yang tadi ingin diutarakan.

“Pihak sekolah menyarankan untuk melakukan tes psikologi.”

“Kalau itu yang terbaik, mengapa tidak?”

Andrew menoleh, memberikan tatapan lesu atas pernyataan Sooyeon, yang kemudian ditangkap maknanya oleh Sooyeon. Sebuah tanda untuk mengakhiri diskusi mengenai kondisi Aby, yang besok akan menjadi pemikiran panjang.

Membawa sebelah tangannya yang bebas ke belakang leher Andrew, Sooyeon mengusapnya pelan.

“Kuantar kau pulang.”

Hmm…”

***

“Kyuhyun?” Ryung mengetuk kamarnya, yang kini menjadi kamar Kyuhyun. “Bisa aku masuk?” Setelah ketukan ketiga dan tidak ada jawaban dari dalam, Ryung memberanikan diri memutar kenop pintu. Mendapatinya tidak terkunci, Ryung menyembulkan kepalanya. “Kyu—“ panggilannya tertahan ketika matanya menangkap suasana kamar yang jauh berbeda dengan terakhir yang dia ingat. Tanpa disadari, dia telah melangkah masuk dengan pandangan terheran.

Dulunya kamar ini bewarna merah muda dengan furnitur bewarna putih tulang, dua warna kesukaannya. Sekarang tiga sisi dinding kamar dicat biru laut sementara satu sisi yang lain biru navy dengan gravity sainstek. Segala furnitur pun telah diganti dengan warna biru yang lebih gelap. Di satu sisi dinding berdiri 3 rak buku yang pas memenuhi lebar dinding, satu sisi dinding terbaris dua meja dengan dua buah LCD ukuran sedang—mungkin 19 atau 22 inch dan sebuah notebook, sementara di sisinya adalah rak bertingkat tiga yang dua dari bawah digunakan sebagai tempat printer. Sebuah LCD besar, sepertinya berukuran 40 inch, terpasang di sisi dinding yang bercat biru navy, tepat di depan ranjang.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Ryung mengakiri jelajah matanya pada kamar Kyuhyun, yang baru dia sadar bahwa dia telah melanggar privasi orang. “Maaf, aku…hanya…”

“Aku menaruh barang-barangmu di gudang—jika itu yang ingin kau tanyakan,” ucap santai Kyuhyun sembari melemparkan handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya barusan ke ranjang. Dia sedikit terkejut dengan kehadiran Ryung di kamarnya ketika dia keluar dari kamar mandi. Akan tetapi melihat bagaimana raut terheran Ryung ketika pandangannya menyapu isi ruangan, memberikan tebakan bagi Kyuhyun.

“Aku tidak memerlukannya lagi,” timpal Ryung yang menggeret kursi beroda milik Kyuhyun.

Kyuhyun menyipitkan matanya, mengobservasi ekspresi Ryung untuk memikirkan alasan wanita ini di kamarnya. Dia mengambil tablet, sebelum naik ke ranjang dan duduk bersila. “Tunggu…“ telunjuk Kyuhyun terangkat mengarah ke Ryung, “pembicaraanmu dengan ayahmu—yang tentu saja aku tidak berminat mengetahuinya, tidak berjalan lancar…dan kau kemari untuk…”

Ryung mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah. Dia tahu Kyuhyun seorang genius yang cenderung terlihat seperti maniak sains, tapi tidak bisakah Kyuhyun membiarkannya menyampaikan sendiri alasannya di sini. Meski harus diakui, Kyuhyun telah menyuarakan sebagian alasannya dengan benar. “Kau dekat dengan ayah,” ujar Ryung untuk melompat bagian basa-basi yang tidak penting karena Kyuhyun telah menebak intensinya.

“Itu tidak membantu apa pun permasalahanmu,” Kyuhyun berlaku masa bodoh dengan mulai mengetikkan sesuatu di browser tablet-nya. “Berdasar frustrasi di wajahmu, permasalahanmu tidak jauh-jauh dari pacar, tunangan, atau apa pun sebutanmu—terima kasih, namun aku tidak tertarik.” Dia menyengir ke arah Ryung sebelum tatapannya kembali pada konten yang terpampang di layar tablet-nya.

Pada level ini, Ryung ingin melemparkan selop rumahannya ke wajah angkuh Kyuhyun. “Aku tidak frustrasi.”

“Kalau begitu kau tidak akan di sini,” timpal Kyuhyun tanpa mengalihkan arah pandangnya dari tablet. Dia men-scroll layar tablet, mengklik sesuatu yang menangkap perhatiannya, lalu membaca artikel tersebut.

“Berhentilah bersikap menyebalkan. Tidak bisakah kau menjadi berguna bagi yang lain?”

“Aku telah menemukan…ermm…233 malware yang mengancam sistem sekuritas blue house, yang memungkinkan terjadinya kebocoran data penting milik negara—terima kasih, namun aku cukup berguna.”

“Setidaknya kau bisa membayar makan malam tadi dengan bersikap baik padaku.”

Kyuhyun mendongakkan pandangannya, “Kau bisa menyebutkan harga yang harus kubayar, dan kupastikan saat ini juga membayarnya.”

“Cho Kyuhyun!”

Mendengar teriakan namanya, Kyuhyun merendahkan tablet di tangannya. Dia mendengus ketika melihat Ryung menangkup wajah dengan kedua tangan. “Seenggan-enggannya diriku untuk mengatakan ini, tapi…” dia menghela napas, “Paman hanya menginginkan yang terbaik untukmu.”

Mengusap kasar wajah, Ryung kembali memandang Kyuhyun. “Jadi kau sudah tahu bahwa ayahku menentang hubunganku dengan Seunghyun?” dan Ryung merasa telah hilang akal saat berbicara topik ini dengan Kyuhyun—orang yang notabene bukan keluarga atau teman dekat.

“Bukan menentang, lebih tepatnya…err…” Kyuhyun memutar bola matanya, “mempertimbangkan.”

“Sejak kapan kau tahu?”

Kyuhyun menurunkan kedua bahunya dan menatap Ryung dengan wajah lelah, “Pertama kau datang ke kamarku dengan ekspresi frustrasi. Kedua,” dia mengangkat tabletnya untuk dihadapkan pada Ryung, “gosip mengenai pertunanganmu dengan pewaris Shinan mulai menyebar.”

“Apa?”

Ehem,” Kyuhyun berdeham, sekadar menghiperboliskan aksinya. “Putra pertama keluarga Choi dari generasi kelima Shinan, Choi Seunghyun, dikabarkan telah melamar pacarnya Nam Ryung yang merupakan putri desainer ternama Han Yoonhee…” dia melirik wajah panik Ryung. Menggeleng dan berdecak, Kyuhyun berhenti membaca, “sebaiknya kau mulai menghubunginya.”

Ryung membuka mulut, namun tidak ada patah kata yang keluar. Sepengetahuannya prosesi lamaran Seunghyun pada dirinya merupakan privasi mereka berdua, yang bahkan mereka baru menyampaikan pada pihak keluarga saja. Jika bukan perbuatan paparazi, gosip ini tentunya belum berkembang di dunia maya.

“Jika kau keluar, tolong tutup pintunya,” perintah ringan Kyuhyun, sebelum dia menelusupkan dirinya di bawah selimut.

Ryung memejam kesal, bukan hanya pada sikap tak acuh Kyuhyun, melainkan juga pada artikel yang baru saja dibacakan Kyuhyun. Lagipula reaksi apa yang dia harapkan dari Kyuhyun? Meskipun mereka saling mengenal, namun Kyuhyun terhitung orang asing yang sekadar menyimak berita.

Berdiri dari duduk, Ryung meneleng ketika menangkap sudut buku di atas printer. Melorot buku, yang ternyata merupakan majalah, Ryung memicingkan mata dan berdecak. Dia menggulung majalah sambil mendekati Kyuhyun yang telah berbuntal selimut. “Hei, bocah mesum,” dia memukulkan gulungan di ujung kepala Kyuhyun yang menyembul dari selimut.

Kyuhyun menyingkap selimutnya cepat dengan wajah kesal, “Kau belum pergi juga?!”

“Lain kali perhatikan di mana kau harus meletakkan barang seperti ini,” ucap Ryung seraya memukulkan gulungan majalah secara kontinu di kepala Kyuhyun dan mengabaikan pekik protes Kyuhyun. Dia melemparkan majalah Playboy di wajah Kyuhyun sebelum berlalu.

“Hei, itu privasiku!” jerit Kyuhyun yang kontan bangun terduduk, “dan aku bukan bocah!”

 

TBC*

 

Note: hai…ini permulaan dari The Pretension. Kenapa ada 2 bagian? Jadi selama ini aku sudah nyaman untuk menulis dengan satu sudut pandang, karena membuat alurnya lebih terurut. Namun fiksi kali ini, aku nilai tidak bisa berjalan dengan satu sudut pandang saja sehingga menggunakan sudut pandang serba tahu. Lompatan bagian [1] dan [2] adalah tanda bahwa terjadi lompatan waktu cukup signifikan.

Tragedi KE737, seutuhnya adalah fiksi belaka, yang terinspirasi dari kecelakaan MH17 yang jatuh diperbatasan Rusia dengan Ukraina karena rudal milik kelompok separatis pro-Rusia pada tanggal 17 Juli 2014 lalu. Tentu saja dengan sedikit banyak gubahan.

Apa kelainan yang diderita Aby? Kalian bisa menebaknya ^.~

 

Pic Spam:

140707-siwon-grazia3

 

 

 

 

 

 

 

[1] Sauvinis: orang yg mencintai tanah air dan bangsa secara berlebihan

 

[2] Bordeaux: tipe wine (terutama red wine) dari wilayah Bordeaux di Prancis.

[3] Straight (sexual preference): bukan seorang homoseksual.

[4] “They can see, but not touch. That’s the rule.” Dari fiksi “Walk with Me in The Hell” oleh Jusrecht.

125 thoughts on “[1] [2] The Pretension

  1. Oy, saya kembali mampir ke blog ini hehe. Udah lama gabaca baca. Dan nemu ini. Seperti biasa bikin penasaran dan yaaaa kyuhyun selalu mempesona dengan sifat sifatnya (ok yg ini subjektif). Hmmm apa mungkin si Ryung nanti bakal jadi sama Andrew ya? Dari plot yg tersaji sih Andrew sama Ryung punya kekuatan yg sama *apasih* yaaaa maaf keun ke-soktahuan ini. Aby.. yah sumpah kasian sama Aby. Keep writing thor ^^

  2. HalcaliGaemKyu says:

    wuuaaa.. keren
    eonni ternyata ff ini keren juga ceritanya
    seruuu
    aby pasti cantik ikutin ayahnya juga
    penasaran sm kelanjutannya
    gumawo eonni

  3. amidamaru says:

    Waow menarik sekali. Aku baru baca yg pertama dan terlalu banyak pertanyaan. Jadi nanti choi siwon vs choi senghyun? Ini melihat dua sudut pandang keluarga, begitu?

  4. Kereen banget ceritanyaa..
    Kasian juga sama aby T.T
    Suka bgt kalo baca ff disini eon, beda gitu dari yg lain, daebak ^^
    Kereeen,keep writing and fighting! *cusbacanextnya*🙂🙂

  5. Kereen banget ceritanyaa..
    Kasian juga sama aby T.T
    Suka bgt kalo baca ff disini eon, beda gitu dari yg lain, daebak ^^
    Kereeen,keep writing and fighting! *cusbacanextnya*🙂

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s