[Skip Version] A Lovely Coincidence 12

ALC final 2

A Lovely Coincidence [Shot: 12]

 

Arsvio | Kyuhyun Cho, Adelynn Lee, Daehyun Cho | PG-15

Menikmati sapuan lembut angin yang membelai wajahku, aku terpaku menatap aktifitas di aliran sungai Thames. Merenung dengan menatap riak sungai terpanjang di England ini menjadi rutinitasku selama setahun di London. Walaupun air sungai tidak bergelombang, namun ketenangannya tidak menular padaku.

Paska menjalani pembedahan, aku divonis mengalami retrograde amnesia yang menjadikanku lupa pada beberapa hal di masa lalu. Aku juga tidak tahu sampai jangka berapa lama bisa mendapatkan ingatanku kembali. Dari sekian memori yang terhapus, aku menyesal salah satunya adalah Adelynn Lee.

Continue reading

Advertisements

A Lovely Coincidence [Shot 11]

a lovely coincidence 3

A Lovely Coincidence [Shot 11]

One year later, Singapore…

Aku membuka tangan dan merentangkannya semampuku. Memejamkan mata, aku mendongakkan kepalaku dan meresapi setiap terpaan hujan yang menumbuk kulit. Pukulan dan tusukan ringan dari air hujan membuatku semakin mati rasa. Aku mengernyit saat merasakan sentuhan di telapak tanganku.

Kutolehkan kepalaku ke samping dan mendapati senyum lebar Kris. Dia mengikuti poseku untuk menantang hujan. Tanpa bicara, aku melanjutkan perenunganku dan membiarkan jemariku digenggam olehnya.

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot: 10]

a lovely coincidence

A Lovely Coincidence [Shot: 10]

Arsvio | Kyuhyun Cho, Adelynn Lee | PG-16

Read the fiction appropriated to your age

[Seoul: 08.00 a.m, Seoul National University Hospital]

Aku mencoba untuk membuka kelopak mataku saat pendengaranku menangkap isak tangis. Kukerjapkan mataku untuk mengadaptasikannya dengan cahaya yang masuk. Kugerakkan leherku untuk menoleh ke sumber suara. “Eomma…” aku bahkan hampir tidak mendengar suaraku sendiri.

“Kyuhyunnie, wae?” Eomma menggenggam tanganku dan meletakkan di pipi.

Aku melengkungkan bibirku untuk menjaminkan keadaanku pada beliau. “Uljima, ne.”

Ketukan sepatu yang kudengar segera memunculkan sosok appa. Meremas bahu eomma, dia memandangku dengan sayu. Ketegasan yang selalu tersorot dari mata beliau hilang. Aku tahu berjuta kalimat ingin beliau sampaikan padaku, namun rahang tersebut terlalu kaku untuk membuka.

Appa…”

Appa meremas tanganku yang berada di genggaman eomma. Harapan untukku masih bisa kubaca dari tindakkan tersebut. Hanya saja, aku terlalu lelah dengan segala rasa sakit yang menyiksa ini. “Operasi akan dijadwalkan setelah kondisimu stabil.”

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot 9]

a lovely coincidence

A Lovely Coincidence [Shot: 9]

Arsvio | Kyuhyun Cho, Adelynn Lee, Aiden Lee, Daehyun Cho, Seo Joo Hyun | Romance | PG-15

[Singapore at 07.00 am: Singapore National University Hospital]

“Apa yang kau lakukan di sini, Seo-ya?” Aku memandang harap-harap cemas pada Seohyun. Wajahnya yang memucat tidak mengurangi intensitas pandangan tajamnya pada kami, aku dan Lynn. Membuang wajahnya ke samping sejenak, Seohyun menghadap kami lagi dengan bibir yang mencoba melafalkan kalimat.

I…ige mwoya, Oppa?” Menelusur ekspresi wajahnya, aku yakin Seohyun sudah mengetahui kondisiku. Dia merentangkan sebelah tangannya dan mengigit bibir untuk menyalurkan rasa ketidakpercayaannya.

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot: 8]

a lovely coincidence 3

A Lovely Coincidence [Shot: 8]

Aku mengerjap dan membuka kelopak mataku secara perlahan. Wangi maskulin Hyun menggelitik penciumanku begitu inderaku terbangun awas. Menggeser kepalaku yang berbantal lengan atas Hyun, aku merasakan terpaan hangat nafas teratur Hyun di wajahku. Aku masih betah memandangi wajah terlelapnya untuk beberapa saat untuk mengagumi keelokannya.

Kami tertidur di sofa tamu dalam posisi duduk berhadapan. Kehangatan menyeruak ketika aku menunduk memerhatikan jemariku dalam genggam tangan Hyun yang berada di pangkuannya. Perasaan yang sama setiap kali dia melingkupi jemariku dengan miliknya. Dengan hati-hati aku menarik tanganku agar tidak membangunkan Hyun. Aku menahan nafasku saat Hyun menggeliat kecil.

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot: 7]

A Lovely Coincidence 6

A Lovely Coincidence [Shot 7]

Menjalin jemariku menjadi satu, aku menumpukan sikuku pada pinggir kursi. Mataku memejam dan pikiranku melayang pada suasana saat aku bangun pagi. Aku tidak mendapati Lynn di sisiku ketika membuka mata pagi ini, namun wangi khas tubuhnya masih melekat di benakku bahkan hingga sekarang. Meraba dadaku, aku dapat mengingat kepalanya yang menyandar di sini. Melingkarkan kedua tangan, aku mengukur dalam imajinasiku tubuh mungil Lynn yang semalam terperangkap dalam pelukanku.

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot 6]

A Lovely Coincidence 6

A Lovely Coincidence [Shot 6]

Mengetuk-ngetukkan pensilku di meja, aku memutar otak untuk memahami buku yang sedang kubaca. Semester pertama kulalui tanpa hambatan berarti dan Januari ini aku akan memasuki semester kedua. Kuputar pergelangan tangan kiriku untuk mengecek waktu. Aku mengerutkan bibir ketika melihat jam digitalku menunjukkan 12.30 pm. Tiga puluh menit lagi, Hyun akan memiliki waktu istirahat. Mengalirkan nafasku dengan desahan cukup kasar, aku bimbang untuk memutuskan apakah akan menemuinya atau tidak.

Sejak Hyun mengajakku berlibur di Korea, sikapnya terhadapku sulit kumengerti. Aku merasa aman ketika dia menggenggam tanganku, merasa terlindungi ketika dia menyelipkan tangannya di pinggangku, dan merasa duniaku terjungkir ketika bibirnya menyapu bibirku. Kutangkup pipiku dengan sebelah tangan saat merasakannya tiba-tiba memanas. Bayangan ciuman terakhir kami di Singapore Flyer terlintas begitu saja di memoriku. Mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajah, aku agak menundukkan kepala agar tidak menarik perhatian sekelilingku karena kemungkinan besar wajahku saat ini memerah.

Continue reading

The Characters on A Lovely Coincidence

Kyuhyun Cho:

img115e

Lahir pada tanggal 3 Februari 1987, Kyuhyun Cho merupakan putra pertama Jaeshik Cho. Dengan tinggi badan 1,81 meter dan berat 69 kg, Kyuhyun memiliki tipe fisik ideal. Garis rahang yang tegas, hidung mancung, bibir penuh, dan pipi yang sedikit cubby menambah deretan keselarasan fisiknya.

Sifatnya yang dewasa dan penuh tanggung jawab merupakan pesona lain Kyuhyun. Cenderung bersikap antipati terhadap sekeliling, Kyuhyun tidak banyak memiliki sahabat. Perwatakan yang dingin menjadikannya malah dipuja oleh kaum hawa. Meskipun bersikap dewasa, Kyuhyun bisa berubah menjadi sangat kekanakan di suatu waktu. Dan sikap ini hanya ditunjukkan pada orang terkasihnya.

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot: 3]

a lovely coincidence true co

Lovely Coincidence [Shot: 3]

Sembari bersedekap, aku memandangnya dengan tatapan menghakimi. Apa maksud tindakannya baru saja? My goodness, He just kissed me! Dan dengan entengnya, dia berlaku seperti tidak terjadi sesuatu. Melahap makanannya, dia tiba-tiba menghentikan suapannya dan meletakkan sendoknya. “Stop staring like you wanna bite me.”

So?”

“It just a gratitude kiss, ok?”

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot: 2]

lovely coincidence

A Lovely Coincidence [Shot: 2]

Kusingkap manset lenganku untuk mengecek kembali sudah berapa menit keterlambatan mereka. Aku mengatur ekspresi setenang mungkin agar para tamu tidak curiga. Hampir 45 menit berlalu dari waktu yang dijadwalkan, namun dia belum juga datang. Eomma melirik padaku kesekian kali untuk mendapat kejelasan, dan hanya kubalas dengan anggukan ringan untuk menenangkannya. Senyum kuulas pada relasi bisnis yang kini sedang beramah tamah denganku. “Please enjoy the party,” ucapku untuk menarik diri saat kulihat asisten pribadiku memasuki ballroom.

We got lost, Sir.” Asistenku mendekat dan membisikkan hal yang membuatku mengernyit. “Miss Adelynn was missing.” Berita yang seketika membuat jantungku menghentak keras dan darahku berdesir ke bawah dengan deras.

Continue reading

A Lovely Coincidence [Shot: 1]

A Lovely Coincidence [Shot 1]

By: arsvio | Genre: romance | Cast: Adelynn Lee, Kyuhyun Cho | Rate: PG-13

Aku menyuapkan gulungan spaghetti dalam mulutku dengan sedikit rakus. Dapat kurasakan saus mengotori tepi mulutku, namun tidak kuindahkan. Biarlah beberapa orang yang sedang care dengan sekelilingnya, melirik heran padaku. Kemarahanku sedang mendominasi akal pikiran sehingga yang bisa kulakukan hanya melampiaskan pada makanan di hadapku.

Continue reading